sumber gambar: http://www.idrusramli.com/2013/pendiri-wahabi-memposisikan-dirinya-sebagai-nabi/dan www.youtube.com
Saat asyik berselancar di dunia Facebook, saya kaget menemukan postingan salah satu fanpage yang cukup ramai kala itu. Yakni, fanpage salah seorang Alumni Pond. Pest. Sidogiri yang kini sibuk menangani ASWAJA Center (http://www.aswajacenter.com/) dan ASWAJA TV (http://www.aswaja.tv/). Beliau sendiri juga anggota dari MIUMI (http://miumipusat.org/wp/). Beliau adalah Ust. Muh. Idrus Ramli, yang juga memiliki banyak pengalaman dalam bidang jurnalistik yang dapat anda lihat di: http://www.idrusramli.com/profil.
Memang saat itu, setahu saya beliau masih belum memiliki website pribadi, seperti yang dimiliki "musuh debatnya" kala itu, Ust. Firanda Andirja (www.firanda.com). Saat itu juga belum ada ASWAJA Center dan ASWAJA TV, yang kurang lebih ingin menyaingi keberadaan Rodja TV, Yufid TV, Ahsan TV, dsb. Saya yang kala itu memiliki manhaj amfibi, tidak jelas, dan hidup di dua alam (aswaja NU atau Salafi), pun asyik menggandrungi perang pemikiran dari para tokoh-tokohnya.
Postingan beliau yang membuat saya cukup kaget saat itu adalah postingan berjudul, 'PENDIRI WAHABI "SEBAGAI NABI"?'. Sontak saya benar-benar heran membacanya, maka dengan ilmu saya yang sangat sedikit, dan masih banyak kekurangan, ingin saya teliti perlahan-lahan, kata per-kata dari tokoh besar NU tersebut. Dan inilah yang saya dapati:
Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata:
"Gambar tersebut adalah scand dari kitab Salafi-Wahabi, al-Durar al-Saniyyah, juz 1 hal. 18.
“Telah benar-benar muncul Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, sang pembaharu dan mujtahid, pada
waktu di mana penduduknya lebih buruk daripada kondisi kaum Musyrikin
dan ahli-kitab pada masa terutusnya Nabi , berupa syirik, banyaknya
khurafat, bid’ah, kesesatan dan kebodohan yang meraja lela. Maka ia
mengajak untuk menyembah Allah semata, dan kembali ke pokok Islam,
sehingga ia mengembalikan tumbuhnya Islam seperti semula.”
Kesimpulan dari pernyataan tersebut adalah sebagai berikut:
- 1. Sebelum munculnya Muhammad bin Abdul Wahhabi an-Najdi, kondisi
masyarakat Jazirah Arab lebih buruk daripada kondisi kaum Musyrik dan
ahli-kitab pada masa terutusnya Nabi saw.
- 2. Agama Islam telah mati, di Jazirah Arab (apalagi di luar Jazirah
Arab), dengan banyaknya syirik, khurafat, bid’ah, kesesatan dan
kebodohan yang merajalela.
- 3. Menurut Wahabi, berarti seluruh bangsa Arab telah kafir, menjelang lahirnya gerakan Wahabi.
- 4. Pendiri Wahabi, menghidupkan kembali ajaran Islam yang telah mati.
Dengan demikian, beberarti kaum Wahabi
mengkultuskan pendirinya luar biasa, sampai-sampai memposisikannya tak
ubahnya seperti seorang nabi. Problem besar, berupa matinya agama Islam,
hanya bisa diatasi oleh seorang nabi, Dengan demikian, secara tidak
langsung, Wahabi memposisikan pendirinya pada posisi seorang nabi. Apa
bedanya ajaran Wahabi yang mengkultuskan pendirinya, dalam posisi
seorang nabi, dengan ajaran Syiah dalam hal yang sama???"
BANTAHAN TERHADAP PERNYATAAN BELIAU
Otomatis setelah itu, saya menuliskan komentar pada fanpage tersebut, sepenuh perjuangan saya.
"TERJEMAHAN SAYA PRIBADI:
... bangsa ini, maka sungguh telah tampak
Syaikh ini sebagai seorang Mujaddid (Pembaharu) yang Mujtahid, di saat
para penduduknya (bangsanya) lebih buruk dari keadaan orang-orang
musyrik, dan dari Ahli Kitab di zaman pengutusan (Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam), dalam perkara Syirik dan Khurafaat,
serta bid'ah-bid'ah dan kesesatan-kesesatan, juga kejahatan yang sangat,
maka beliau berdakwah/mengajak kepada penyembahan kepada Allah
satu-satunya, dan kembali kepada pokok Islam, sehingga kembalilah
perkembangan Islam sebagaimana semestinya, dan para keturunannya beserta
murid-murid mereka menempuh jalan yang ditempuh para salafus-shalih,
dan berlakulah bagi mereka seperti apa yang berlaku atas arahan tersebut
(arahan beliau)
(Ad-Durar Sunniyyah fii Al-Ajwibah An-Najdiyah)
Kumpulan risalah dan masalah Ulama' Nejd Al-A'laam dari zaman Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhaab kepada zaman sekarang)
Mohon koreksi terjemahan saya kalau ada yang salah... hehe
Tapi
setelah menerjemahkan kata-kata di atas saya TIDAK MENEMUKAN SATU PUN
YANG MENYATAKAN BAHWA PENDIRI WAHABI MEMPOSISIKAN DIRINYA SEBAGAI NABI,
TIDAK JUGA Syaikh Abdur-Rahman bin Muhammad bin Qaasim Al-'Aashimii
An-Najdii Al-Hanbalii sebagai mu'allif kitab ini juga TIDAK MEMPOSISIKAN
BELIAU SEBAGAI NABI...
Dan setahu saya mungkin kitab ini menjelaskan
tentang balasan terhadap FITNAH TERHADAP ULAMA' NEJD yang tentu di
dalamnya berisi penjelasan :
Mengapa Kondisi masyarakat saat itu lebih buruk dari kaum Musyrik juga Ahli Kitab di masa Nabi?
Akan
tetapi sayangnya tidak dilampirkan atau discan di sini, maka sebaiknya
Ust. Muhammad Idrus Ramli melampirkannya pula alasan-alasan pernyataan
berikut supaya lebih objektif dan kalau memang mau membantahnya dapat
terlihat lebih jelas...
Pada poin no.3 Ust. menyebutkan : "Menurut Wahabi, berarti seluruh bangsa Arab telah kafir, menjelang lahirnya gerakan Wahabi."
SAYANGNYA
TIDAK DITEMUKAN SATU LAFADZ PUN YANG MENYEBUTKAN KEKUFURAN ATAU YANG
BERASAL DAR TIGA SUKU KATA KAF FAA' DAN RAA DALAM TEKS TERSEBUT... Bahkan
permasalah TAKFIR adalah permasalahan besar... Jika yang dimaksud
adalah Syarran min haalil musyrikin maka perlu diingat, bahwa itu
menunjukkan keadaan (Haal) yang tidak ada satupun lafadz TAKFIR Di situ,
Pada poin no. 4 Ust. menyebutkan : 4. Pendiri Wahabi, menghidupkan kembali ajaran Islam yang telah mati. Dengan
demikian, beberarti kaum Wahabi mengkultuskan pendirinya luar biasa,
sampai-sampai memposisikannya tak ubahnya seperti seorang nabi. Problem
besar, berupa matinya agama Islam, hanya bisa diatasi oleh seorang nabi,
Dengan demikian, secara tidak langsung, Wahabi memposisikan pendirinya
pada posisi seorang nabi. Apa bedanya ajaran Wahabi yang mengkultuskan
pendirinya, dalam posisi seorang nabi, dengan ajaran Syiah dalam hal
yang sama???
Pengambilan Istinbath yang tidak objektif bisa
memberikan pandangan yang timpang... hal ini perlu dipahami dan
diperhatikan, sebab lafadz asli teks dan pengambilan kongklusinya sudah
berbeda...
SAYANGNYA TIDAK DITEMUKAN SATU LAFADZ PUN YANG
MENGKULTUSKAN BELIAU, yang ada hanyalah, "Maka ia mengajak untuk
menyembah Allah semata, dan kembali ke pokok Islam, sehingga ia
mengembalikan tumbuhnya Islam seperti semula," dan ini tidak berbau
PENGKULTUSAN SAMA SEKALI, tidak ada GHULUW HINGGA MENGUBAH MAQAM BELIAU
SEBAGAI MAKHLUQ... dan lafadz itu hanyalah lafadz subjektif kegiatan dan
tindakan beliau selama beliau hidup, SEMACAM BIOGRAFI SUBJEKTIF DARI
PENGIKUTNYA...
1. Salafi-Wahabi adalah penentang besar Syi'ah hingga
sekarang, dan kalau anda datang sendiri kepada orang-orang Syi'ah, tentu
orang yang paling mereka musuhi adalah Salafi-Wahabi
2. Posisi
sampai seorang Nabi? Tunggu dulu semestinya kita membaca Hadits Nabi
tentang Mujaddid... mohon jangan menggiring opini ke arah yang membuat
kesalahpahaman yang tidak terkira habisnya...
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
نَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
Sesungguhnya Allah melahirkan untuk umat Islam ini pada setiap penghujung abad orang yang menjadi mujaddid terhadap agamanya.
(Hadits
Shahih, Riwayat Abu Hurairah dikeluarkan Baihaqi dalam al-Ma’rifah, Abu
Daud, Thabrani dalam al-Ausath, Hakim, Khatib dalam al-Tarikh, Dailami,
Abu Amr al-Dani dalam al-Fitan dan Harawi dalam Dzam al-Kalam. Semuanya
dari jalur Ibn Wahab, dari Sa’id ibn Abi Ayyub, dari Syarahil ibn Yazid
al-Ma’afiri, dari Abu Alqamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw.
Sanad ini shahih, perawinya adalah perawi Muslim. Ada yang mengkritisi
bahwa hadits ini memiliki cacat yang samar lantaran Abu Daud setelah
mengeluarkan hadits ini memberi komentar bahwa Abdurrahman ibn Syuraih
tidak mencantumkan Abdurrahman ibn Syuraikh al-Iskandarani. Dengan
demikian ia Abdurrahman meriwayatkannya secara al-mu’dhal (menggugurkan
dua perawi berurutan, yaitu Alqamah dan Abu Hurairah). Imam al-Mundziri
menjelaskan Abdurrahman ibn Syuraih al-Iskandarani adalah perawi tsiqah
yang dipakai Bukhari dan Muslim maka pengguguran dua perawi itu tidak
masalah. Artinya, hadits ini diriwayatkan dengan dua mata rantai perawi.
Pertama secara al-mudhal (gugur dua perawi). Dan kedua secara
al-muttashil (bersambung mata rantai perawinya). Sehingga periwayatan
ini tidak mengandung cacat yang samar. Disamping itu Sa’id ibn Ayyub
(dalam kapasitas sebagai muridnya) adalah seorang perawi tsiqah,
sehingga ziyadah al-tsiqah juga dapat diterima.)
Imam Ahmad bin
Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia,
pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan mengajarkan kepada
mereka sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang
banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas
kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.”
Berikut nama-nama mujaddid menurut berbagai sumber:
Abad 1 H. Umar bin Abdul Aziz, Hasan Basri,
Abad 2 H. Muhammad bin Sirrin, Ibn Syihab al-Zuhri, Muhammad ibn Idris al-Syafii, Yahya ibn Ma’in
Abad 3 H. Abu Hasan al-Asy’ari, al-Baqilani, an-Nasai, Ibnu Suraij Al-Iraqi
Abad 4 H. Rabi’, Sahal, Isfirayini, Hakim, Abdul Ghina al-Misri, Al-Baihaqi
Abad 5 H. Al-Ghazali
Abad 6 H. Fakhrur Razi, Rafi’i
Abad 7 H. Ibn Daqiq al-Id, Ibn
Abad 8 H. al-Bulqini, Zainuddin al-Iraqi, Ibn qayyim Al-Jauziyah, Ibn Katsir
Abad 9 H. Jalaluddin al-Suyuti
Abad 10 H. Syamsuddin ibn Syihab al-Ramili
Abad 11 H. Ibrahim ibn Hasan al-Kurani
Abad 12 H. Shalih ibn Muhammad ibn Nuh al-Fulani, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi
Abad 13 H. Husain ibn Muhammad al-Anshari al-Yamani, Shadiq Hasan Khan al-Qanuji
Abad 14-15 H. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Serta termasuk di antaranya adalah ulama'-ulama' Ahli Tafsir, Hadits serta Fiqih yang sudah menjadi rujukan besar Islam
(Kalau ada salah mohon dikoreksi ya....)
YANG PERLU DIKETAHUI!!!
Mujaddid
adalah orang yang memperbaiki kerusakan yang ada pada urusan atau
praktek agama Islam yang dilakukan oleh umat muslim. Mujaddid tidak
membawa agama baru, namun hanyalah membawa metode-metode baru dan
memperbaiki metode yang menyimpang berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
serta memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi pada urusan
agama Islam."
------------------------------------------------------------------------------
Demikian komentar yang saya ambil dari berbagai sumber internet (salah satunya definisi Mujaddid yang saya ambil dari wikipedia). Memang masih berbentuk "artikel tembelan" yang tergolong memalukan. Akan tetapi inilah perjuangan saya dalam meluruskan pemahaman yang melenceng. Saya merasakan bahwa kemungkinan Ust. Idrus Ramli yang sudah di tingkat nasional tersebut jatuh martabat dikarenakan serampangan menuduhkan hal yang tidak-tidak hanya karena 'Ainas-Sukhti' kepada manhaj yang tidak sepaham. "... dan pandangan yang penuh dengan kemurkaan akan menampakkan segalanya sebagai kejelekan" demikian salah satu pepatah Arab mengatakan.
Dan ini terbukti, dengan dihapusnya komentar saya dalam fanpage tersebut. Yang bahkan, banyak sekali komentar-komentar yang meminta Ust. Idrus Ramli agar menanggapi komentar saya tersebut dengan serius. Dan lebih anehnya lagi, setelah dihapus, postingan komentar saya pun muncul kembali, melalui bantuan kopas oleh salah satu akun. Rupanya, sekalipun saya masih tergolong minim pengalaman dan jauh di bawah level Ust. Idrus, saya masih "ditakuti" juga. Sampai saat ini pun, saya masih bertanya-tanya, "Mengapa komentar bantahan saya pada saat itu dihapus? Mengapa takut berdialog dengan ilmiah?"