وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن
نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا
تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ
مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ
وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ
يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan)
dengan satu macam makanan saja**, maka mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk kami,
agar Dia Memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun,
bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu
meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke
suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka
ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari
Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh
para nabi** tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka
durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah:61)
------------------------------------------------------------------
**Manna
(makanan berupa madu) dan salwa (burung puyuh) saja, -kembali pada Al-Baqarah
ayat 57 (Ash-Shiddieqy,
Tafsir Al-Bayan:198-200)
------------------------------------------------------------------
**Nabi
Zakariya dan Yahya (Ash-Shiddieqy,
Tafsir Al-Bayan:200)
Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Musa as. mengajak Bani
Israil yang berpaling dengan menyembah kepada anak lembu untuk kembali
menyembah kepada Allah Swt. Bahkan pada masa itu diperintahkan pula kepada
golongan Lawiyyin untuk membunuh Bani Israil tersebut. Namun di saat Allah tengah
membukakan pintu taubat-Nya, orang-orang Bani Israil justru menantang Nabi Musa
untuk memperlihatkan Allah Swt. Maka Nabi Musa pun DiperlihatkanNya petir yang
menyambar Nabi Musa sampai mati, hingga Allah pun Menghidupkannya kembali
(Ash-Shiddiqiey, 1966:198).
Lalu Allah kembali memberikan rizqi-Nya
kepada nabi Musa dan kaumnya berupa al-manna dan as-salwa di
wilayah baru, juga dua belas mata air yang menjawab permintaan kaum Yahudi
tersebut dengan Izin Allah atas pukulan tongkat Musa ke arah batu
(Ash-Shiddiqiey, 1966:198). Sungguh sebuah latar belakang yang sepantasnya
tidak dapat menimbulkan peristiwa pengingkaran (ketidakberimanan) kaum Yahudi
terhadap segala kekuasaan Allah (rizqi).
Melalui makanan al-manna (yang
berasal dari madu) dan as-salwa (burung puyuh), kaum Yahudi tentunya
telah sanggup memenuhi kebutuhan nutrisi mereka menyangkut makanan pokok, lauk
pauk, dan penyempurna berupa madu (2 sehat 3 sempurna). Mengingat mereka berada
pada posisi sebagai penduduk baru yang masih membuka lahan, sepatutnya mereka
bersyukur dan beriman atas pengistimewaan Tuhan terhadap mereka, -dengan dua
makanan yang terbilang mewah di atas standar kondisi mereka.
Hanya saja mereka lebih memutuskan untuk
melanjutkan keinginan (permintaan hak) mereka akan kedua golongan nutrisi serupa
sayur-mayur dan buah-buahan, sebagai pelengkap gizi yang patut mereka asup, tanpa
memperdulikan kewajiban mereka kepada Tuhan, bahkan tergambar dari pertanyaan
mereka, bagaimana mereka menguji dan memaksa Tuhan dengan keinginan mereka.
Dari sudut pandang sains, tentunya
demikianlah naluri kebutuhan manusia, asupan gizi 4 sehat 5 sempurna dinyatakan
sebagai faktor kesehatan sempurna tubuh manusia. Dari sayur-mayur dan
buah-buahan terdapat zat vitamin yang dibutuhkan dalam proses metabolisme,
pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Di antaranya vitamin B dan C yang larut
dalam air, lalu vitamin A,D,E, dan K yang larut dalam lemak. Kekurangan vitamin
pun dapat menyebabkan defisiensi penyakit (Ensiklopedi Sains dan Kehidupan,
TT.:153).
Akan tetapi alangkah indahnya, Nabi Musa
cukup menjawab mereka dengan pembandingan kedua golongan makanan; al-manna
dan as-salwa yang Dipilihkan oleh Allah, berbanding dengan sayur-mayur,
mentimun, bawang putih, kacang adas serta bawang merah yang mereka pilih,
dengan maksud memancing naluri (EQ), logika (IQ), dan mental (SQ) mereka menuju
penghambaan kepada Allah kembali. Pancingan EQ mereka akan pembandingan sifat
memberi dari kedua pihak, pancingan IQ akan pembandingan kualitas kandungan
gizi pokok kedua golongan makanan, serta pancingan SQ menuju pemenuhan iman
sebagai nutrisi sejati bagi tubuh baik secara fisik maupun psikis.
Hanya saja kemudian, kaum Yahudi tersebut
merasa tidak perlu terpancing dan mengikuti dakwah Nabi Musa as., bahkan mereka
lebih memilih pendurhakaan dan tindakan yang melampaui batas untuk “membalas
Budi Tuhan”. Lantas reaksi takdir apakah yang mereka terima? Ialah kemurkaan
Allah berupa bencana krisis moral (kebaikan/kemuliaan) dan moneter, sebagai
penyakit definitif dari defisiensi (kekurangan) “nutrisi sejati iman” dalam
tubuh mereka.






0 komentar:
Posting Komentar