Blogger news

Kamis, 12 Desember 2013

ISRAEL YANG MAHA CEREWET


وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا 
قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja**, maka mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk kami, agar Dia Memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi** tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah:61)
------------------------------------------------------------------
**Manna (makanan berupa madu) dan salwa (burung puyuh) saja, -kembali pada Al-Baqarah ayat 57 (Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Bayan:198-200)
------------------------------------------------------------------
**Nabi Zakariya dan Yahya (Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Bayan:200)

       Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Musa as. mengajak Bani Israil yang berpaling dengan menyembah kepada anak lembu untuk kembali menyembah kepada Allah Swt. Bahkan pada masa itu diperintahkan pula kepada golongan Lawiyyin untuk membunuh Bani Israil tersebut. Namun di saat Allah tengah membukakan pintu taubat-Nya, orang-orang Bani Israil justru menantang Nabi Musa untuk memperlihatkan Allah Swt. Maka Nabi Musa pun DiperlihatkanNya petir yang menyambar Nabi Musa sampai mati, hingga Allah pun Menghidupkannya kembali (Ash-Shiddiqiey, 1966:198).

       Lalu Allah kembali memberikan rizqi-Nya kepada nabi Musa dan kaumnya berupa al-manna dan as-salwa di wilayah baru, juga dua belas mata air yang menjawab permintaan kaum Yahudi tersebut dengan Izin Allah atas pukulan tongkat Musa ke arah batu (Ash-Shiddiqiey, 1966:198). Sungguh sebuah latar belakang yang sepantasnya tidak dapat menimbulkan peristiwa pengingkaran (ketidakberimanan) kaum Yahudi terhadap segala kekuasaan Allah (rizqi).

       Melalui makanan al-manna (yang berasal dari madu) dan as-salwa (burung puyuh), kaum Yahudi tentunya telah sanggup memenuhi kebutuhan nutrisi mereka menyangkut makanan pokok, lauk pauk, dan penyempurna berupa madu (2 sehat 3 sempurna). Mengingat mereka berada pada posisi sebagai penduduk baru yang masih membuka lahan, sepatutnya mereka bersyukur dan beriman atas pengistimewaan Tuhan terhadap mereka, -dengan dua makanan yang terbilang mewah di atas standar kondisi mereka.

       Hanya saja mereka lebih memutuskan untuk melanjutkan keinginan (permintaan hak) mereka akan kedua golongan nutrisi serupa sayur-mayur dan buah-buahan, sebagai pelengkap gizi yang patut mereka asup, tanpa memperdulikan kewajiban mereka kepada Tuhan, bahkan tergambar dari pertanyaan mereka, bagaimana mereka menguji dan memaksa Tuhan dengan keinginan mereka.

       Dari sudut pandang sains, tentunya demikianlah naluri kebutuhan manusia, asupan gizi 4 sehat 5 sempurna dinyatakan sebagai faktor kesehatan sempurna tubuh manusia. Dari sayur-mayur dan buah-buahan terdapat zat vitamin yang dibutuhkan dalam proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Di antaranya vitamin B dan C yang larut dalam air, lalu vitamin A,D,E, dan K yang larut dalam lemak. Kekurangan vitamin pun dapat menyebabkan defisiensi penyakit (Ensiklopedi Sains dan Kehidupan, TT.:153).

       Akan tetapi alangkah indahnya, Nabi Musa cukup menjawab mereka dengan pembandingan kedua golongan makanan; al-manna dan as-salwa yang Dipilihkan oleh Allah, berbanding dengan sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas serta bawang merah yang mereka pilih, dengan maksud memancing naluri (EQ), logika (IQ), dan mental (SQ) mereka menuju penghambaan kepada Allah kembali. Pancingan EQ mereka akan pembandingan sifat memberi dari kedua pihak, pancingan IQ akan pembandingan kualitas kandungan gizi pokok kedua golongan makanan, serta pancingan SQ menuju pemenuhan iman sebagai nutrisi sejati bagi tubuh baik secara fisik maupun psikis.

       Hanya saja kemudian, kaum Yahudi tersebut merasa tidak perlu terpancing dan mengikuti dakwah Nabi Musa as., bahkan mereka lebih memilih pendurhakaan dan tindakan yang melampaui batas untuk “membalas Budi Tuhan”. Lantas reaksi takdir apakah yang mereka terima? Ialah kemurkaan Allah berupa bencana krisis moral (kebaikan/kemuliaan) dan moneter, sebagai penyakit definitif dari defisiensi (kekurangan) “nutrisi sejati iman” dalam tubuh mereka. 

0 komentar:

Posting Komentar