Blogger news

Kamis, 30 Mei 2013

BERHALA CITA-CITA


sumber gambar: http://indobrad.web.id/wp-content/uploads/2011/12/post3.jpg

Kisah ini saya karang-karang berada di sebuah kelas tingkatan sekolah menengah pertama. Saat itu sebuah tahun pelajaran baru dimulai. Suasana kelas saat itu hanyalah berisi perkenalan dan hal basa-basi lainnya. Seorang ibu guru bertanya kepada murid-muridnya satu persatu. Pertanyaan itu berbunyi, “Apa cita-citamu?”

Satu detik, dua detik, tiga detik berselang. Eng-ing-eng...

Terdengarlah jawaban bermacam-macam. Mulai dari jawaban-jawaban zaman koloni Belanda, “Aku mau jadi polisi, bu!” “Aku mau jadi persiden, bu!” “Aku dokter, bu!” sampai jawaban-jawaban zaman koloni Lebayis dan Alayis, “Aku jadi artis aja, bu!” “Aku buat boyband, bu!” “Aku mau ikut X-Factor, bu!”

Semua adu beken jawaban. Adu keren. Takut temen sebangkunya lebih bagus jawabannya, dijawab saja sekreatif-kreatifnya. Ya, biar dibilang, “Wuih, keren, si itu cita-citanya jadi ini!”

Dalam keadaan seperti itu pun, hati sang guru sudah jadi kebun bunga. Senengnya bukan main. Kaget, kalau ternyata otak-otak calon muridnya itu tidak sekurus yang ia kira. Asumsinya dua cabang; apakah murid-muridnya itu jenius dan ambisius atau bakal rajin menggombal di kertas ujian.

Jawaban terus bersahutan menimpali pertanyaannya. Tapi tanpa tiba-tiba, pertanyaan itu terhenti pada satu orang muridnya. Lama sekali murid itu terdiam, sang guru tak sabar. Ditanyainya lagi, “Apa cita-citamu?” Tapi murid itu malah makin lama terdiam. Suasana kelas hening menunggu jawaban.
Perlahan suaranya terdengar. Wajahnya terlihat semakin lugu.

“Maaf, bu! Cita-cita itu apa, ya? Apakah itu masa depan yang kita inginkan? Setahu saya, polisi, presiden, dokter, serta semua cita-cita teman-teman tadi pasti mati. Semua berakhir dan terasa begitu pendek. Mengapa kita memilih yang seperti itu?

Berarti ada masa depan yang lebih depan dari masa depan itu dong, bu! Aku ingin masa depan yang paling depan itu, bu! Aku ingin cita-cita yang tidak akan mati, bu! Tolong beritahu aku, bu, apa cita-cita yang kekal dan abadi itu?”

Ibu gurunya hanya terdiam. Seakan-akan tulangnya kini terbuat dari kertas. Jawaban seorang muridnya itu telah menusuknya hingga ke dasar bumi. Ia tertunduk lebih lugu dari wajah muridnya. Tangannya tak henti mengusap wajah yang basah, dibanjiri air mata. Dalam hatinya ia membatin.

“Maaf, nak! Jawaban kamu memang lebih benar. Kita sudah lama dibohongi selama ini. Cita-cita itu hanya ada satu dari dua, ialah Surga atau Neraka.”

0 komentar:

Posting Komentar