Blogger news

Sabtu, 21 September 2013

DEMI PENA!


]
sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/_PZnpy77ZQm4/TP3QCFSo9ZI/AAAAAAAAABg/5JfGT7YQpS4/s1600/pena%2Btinta.jpg

Apa yang anda rasakan saat mendengar Allah bersumpah dalam Al-Qur’an? Rasa manis-kah? Coklat atau Stroberi?
Maaf, tanpa istihza’, saya hanya mengetuk hati anda yang saat membaca kalimat pembuka di atas terkesan biasa saja. Tidak tanggap. Acuh tak acuh. Saya bukan mau menggurui, saya hanya ingin berbagi. Silahkan anda baca lagi kalimat pembuka tadi, “Apa yang anda rasakan saat mendengar Allah bersumpah dalam Al-Qur’an?”
Yang jelas saya tidak yakin pasti bahwa kita bisa merasakan seperti yang dirasakan para sahabat Nabi dahulu. Berbeda dengan kita, mendengar firman-Nya, dada mereka terguncang, perasaan mereka terkoyak-koyak, cengeng tak henti-henti, bahkan pingsan tak sadar diri.
Bandingkan dengan diri kita, yang untuk mengaji atau menghadiri pengajian saja, masih harus diundang, diamplopi, bahkan (maaf) dipakani. Jelas ada yang error dalam sistem operasi hati muslim modern. Siapapun dia, seringkali masih terjangkit virus: merasa lebih ‘alim, lebih hebat, lebih tawadhu’, bahkan lebih tidak sombong. Begitu pula saya yang hina ini.
Maka saya ajak siapapun anda, mari kita cek keimanan kita dalam merenungi salah satu sumpah Allah. Surat al-Qalam:1. “Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis.”
Mari kita baca kalimat tersebut berulang-ulang dan kita rasakan setiap kata tersebut seakan-akan hidup dan berdiri sendiri sebagai kata. Mereka hidup dan menyapa kita, “hai!”
Lalu mari kita lihat dalam imajinasi tersebut: ada dua wujud sumpah Allah. Sumpah demi pena dan sumpah demi karya (apa yang mereka tulis). Kita telisik perlahan, lalu kita perhatikan terdapat dua sumpah yang disandingkan, diurutkan, dan diletakkan setelah lafal “Nuun”. Yang kemudian kita semestinya bertanya, “apa maksud Allah di sini?” “apa yang perlu kita renungi dari maksud-Nya?”
Mengapa harus “Nuun”? Mengapa harus pena? Mengapa harus karya tulis? Mengapa ayat tersebut menjadi pembuka ayat selanjutnya; yang menghibur Muhammad sang Nabi dalam berdakwah? Apa alasannya?
Saya akui saya sendiri tidak sanggup menjawab pertanyaan di atas. Merenunginya dapat memecah kepala berkeping-keping. Mencari jawabannya dapat menghabiskan seluruh hidup saya. Jadi saya lebih memilih untuk mencari kecocokan. Atau semacam keserasian antara ayat Al-Qur’an dengan fakta kehidupan.
***
1400 tahun lalu ada dua kerajaan adigdaya yang mengapit jazirah Arab: Kerajaan Romawi dan Persia. Barangkali semacam Amerika dan Rusia di abad 20. Penduduk Arab yang diapit saat itu berada dalam peradaban kacau balau dan memalukan. Peperangan antar suku seringkali terjadi. Namun apa yang terjadi 100 tahun setelah itu?
Romawi dan Persia justru terancam kebangkitan  Arab. Dan keduanya terus tergerus dan terhempas oleh sejarah Arab yang emas.
“Muhammad! Muhammad!” lafal tersebut adalah lafal yang membuat para penguasa manapun takut kehilangan kekuasaannya. Mengernyitkan dahi para pemuka berbagai agama sepanjang masa.
Dia telah membawa budaya baru yang mengubah peradaban manusia hingga saat ini. Muhammad telah membawa budaya baca dan tulis di zamannya, dan kita merasakan kejutan hadiah darinya saat ini.
Dakwah baca-tulis yang dia sampaikan menggantikan dakwah mistis para nabi sebelumnya. Jika para nabi terdahulu menggunakan mukjizat mistis melawan sihir. Muhammad justru berbeda. Dia menggelitik otak umat manusia untuk menerima ajaran Ketuhanan yang paling masuk akal; Islam. Dia melatih manusia berpikir, merenung, meneliti, dan berkarya.
Lafal wahyu yang pertama turun padanya adalah “Iqra’  (bacalah!)”. Lafal sumpah Tuhannya adalah “Wal-qalami wa maa yasthuruun (demi pena dan apa yang mereka tulis)”.
Tak terhitung berapa perubahan fantastis yang dapat terlahir dari baca-tulis. Pasukan Muhammad yang tangguh. Strategi perangnya yang jitu. Tata negaranya yang makmur. Keilmuan pengikutnya yang melimpah ruah. Ah, tidak cukup rasanya untuk ditulis semuanya.

0 komentar:

Posting Komentar