gambar: cadar (http://cdn.ar.com/images/stories/10/Cadarmuslimahb.jpg)
Jika ini hanya perkataan saya, silahkan buang ke selokan terdekat,
kalau anda muak. Namun sayangnya, ini adalah perkataan Zat Yang telah
Menciptakan hati anda untuk mendengarkannya. Karena Dia Tahu bahwa anda
terjebak dalam liarnya perkuliahan dan neo-jahiliyah westerniyah di lingkungan
yang seringkali lebih biadab dari binatang. Sungguh, anda memerlukan petuah ini
untuk anda amalkan. Maka bacalah perlahan-lahan, seakan-akan seorang malaikat
mendatangkan firman ini untuk anda seorang
Katakanlah kepada wanita yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan PANDANGANNYA,
dan (menahan) KEMALUANNYA,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.
Dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN JILBAB SAMPAI
KE DADANYA,
dan JANGANLAH MENAMPAKKAN PERHIASANNYA kecuali
kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah
suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka,
atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau
budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita.
Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan BERTAUBATLAH KAMU SEKALIAN kepada
Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(QS. An-Nuur/Cahaya: 31)
Saya hanya mengkapitalkan 5 poin penting. 5 poin ini
bukan Pancasila atau Pancaindera, bukan juga Power Ranger yang 5. 5 poin ini
sakral, mistis, penuh rahasia. Yang mengamalkannya adalah pilihan Tuhan. Yang
meninggalkannya adalah pilihan Setan. Yang mengambil setengah-setengah
barangkali tengah berselingkuh di antara keduanya. Tapi wajibnya, saya terus
mendo’akan diri saya dan anda agar tidak terperosok ke dalam jurangnya.
5 poin ini yang menentukan perbandingan jarak antara
model hidup anda dan model hidup Al-Qur’an. 5 poin ini berurutan menurut level
kesulitannya, dimulai dari yang tersulit. Di sini saya coba datangkan para Sahabat,
Tabi’ien, dan beberapa Ulama’ Kibar untuk menjelaskannya, karena saya terlalu
bodoh untuk ini:
1. PANDANGAN
“Menghindarkan diri dari setiap yang haram
(dipandang) dan dari melihat laki-laki, juga dari obrolan dengan laki-laki.”[2]
Renungi sebentar dan lihatlah Facebook, Twitter, dan
jejaring sosial di gadget-gadget kita. Sepertinya kita sudah membebaskan
pelanggaran yang satu ini. Bukan hanya itu ya, termasuk lembaga-lembaga dan
institusi apapun di negeri kita, universitas, sekolah, mall, bahkan beberapa
masjid dan pesantren. Sekarang tinggallah anda menentukan, Ibn ‘Abbas memang
bukan pakar kecantikan dunia, bukan desainer fashion terkenal. Tapi beliau
menyayangi anda dan menginginkan anda dapat sejalan dengan Al-Qur’an.
Lebih mantapnya lagi, Jarir Rahimahullah
menafsirkan kalimat dalam ayat ini:
“Pejamkanlah mata anda, sehingga anda termasuk
orang-orang yang suci... tidak seujung tumit pun yang dapat anda lihat.”[3]
Memang benar yang beliau katakan. Logika kita, pandangan
wanita kepada lelaki seperti penjara. Lelaki mana yang tidak terkurung di
dalamnya, jika seorang wanita memandangnya dengan pandangan kekaguman. Penjara
yang berbahaya pada mata wanita ini, yang dikhawatirkan Jarir Rahimahullah.
Setidaknya kita ada rasa malu menyaksikan sikap ‘Untarah
Rahimahullah, berikut perkataannya:
“Aku memejamkan mataku dari apa yang tampak dari seorang
wanita tetanggaku... hingga ia masuk ke dalam rumahnya.”[4]
Saksikan bagaimana begitu ketatnya beliau, hingga mata
pun sebegitu harusnya dipejamkan. Barangkali pesan beliau: zaman ini, anda
lebih baik berjalan dengan mata terpejam. Sebab saat dikatakan dalam hati, “Tundukkan
mata anda!”, -yakni tanpa dipejamkan, justru saat itu mata anda masih leluasa
melihat pesona dosa-dosa bagian bawah yang masih gratis.
2. KEMALUAN
Kemaluan memang liar,
tapi posisinya masih nomer 2 tersulit dalam ayat ini. Ia tidak bisa terjadi
jika poin pertama sanggup dicegah terlebih dahulu.
Sa’id bin Jabir Rahimahullah
menafsirkannya:
“Menahan (kemaluan)
dari tindakan keji (zina).”
Qatadah Rahimahullah
menafsirkannya:
“Menahan (kemaluan)
dari apa saja yang tidak dihalalkan baginya.”
Muqatil Rahimahullah
menafsirkannya:
“Menahan (kemaluan)
dari zina (seks di luar nikah).”
Abu Al-‘Aliyah Rahimahullah
menafsirkannya:
Empat orang di atas
bukan sekedar ustadz pengajar ngaji anak TPQ. Keempatnya adalah murid-murid
hebat para sahabat Nabi, mereka Tabi’ien pilihan, yang perkataannya tidak renta
oleh usia 1200 tahun lamanya. Hanya orang yang benar-benar dungu, -yang
baru-baru ini ramai dalam peringatan PEKAN KONDOM NASIONAL 2013, jika
mengatakan kondom adalah alat pelindung kemaluan DEMI TERCIPTANYA SEKS BEBAS
YANG SEHAT. Maha Suci Allah dari pernyataan ini, tidakkah mereka takut oleh
karena perkataan yang hanya SEKIAN MENIT itu bisa membuatnya jatuh dalam adzab BERIBU-RIBU
TAHUN lamanya.
3. JILBAB
SAMPAI KE DADA
Poin ketiga adalah level yang lebih mudah dari dua poin
di atasnya. Menjadi poin menengah. Sekaligus suka diperdebatkan oleh mereka
yang berislam setengah-setengah. Maka bagi anda yang merasa begitu bangga
bermadzhab Hijab Style menurut para ahli busana yang belum selesai belajar
Fiqih, silahkan membanting perkataan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ini jikalau berani.
Ibn ‘Abbas Radhiyallahu
‘anhu menafsirkan:
“Membiarkan
(menjulurkan) kudung wajah mereka ke atas dada dan bagian atas dada mereka, dan
hendaklah mereka menekankan perkara ini begitu ketat...”[6]
Ingat juga, tentang
batasan-batasan yang dengan entengnya kita cap halal sana-sini.
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah,
Mujtahid Madzhab Hanbali berkata:
“Tidak halal bagi
seorang wanita muslim, memperlihatkan kepalanya kepada perempuan kafir dzimmi,
tidak juga Kristen dan Yahudi.”[7]
4.
PERHIASAN (FASHION)
Asma’ binti Mursyid
Radhiyallahu ‘anha memiliki kebun kurma di daerah Bani Haritsah yang dinamai Al-Wa’l
(mulia). Suatu saat, ia menyebabkan para wanita datang mendatangi kebun
tersebut secara terang-terangan. Hingga tampak jelas dari mereka
perhiasan-perhiasan yang ada di DADA, KAKI, DAN RAMBUT-RAMBUT mereka. Lantas
Asma’ berkata kepada mereka: “Betapa buruknya hal ini.” Sehingga
kemudian turunlah ayat (An-Nur: 31) ini.[8]
Lihat, permasalahan yang Allah singgung pada kejadian
di atas hanya sekulit bawang dari permasalahan pada kejadian hari ini.
Wanita-wanita itu tidak memperlihatkan aurat mereka. Mereka berhijab dengan
hijab wanita Arab yang lebar-lebar. Tidak ketat membentuk tubuh. Jika wanita
sekarang mungkin berkata: “Mereka hanya tidak sengaja memperlihatkan
perhiasan-perhiasan mereka di depan umum.” Untung-untung jika tidak berkata:
“Hah, kan cuma gitu aja, Islam itu rahmatan lil alamien, gak kolot kayak
gini.” - Lha, mulai menafsir yang enggak tau tafsirnya, lagipula ini katanya
Allah kok, kok bisa Allah dibilang kolot. Wal-‘iyadzu billah.
Adapun ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjelaskan perhiasan
yang dibolehkan hanyalah:
Ibn Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan perhiasan
yang diperbolehkan:
“Seperti pakaian, yakni apa saja yang terlihat samar
bila dipasangkan sebagai perhiasan oleh wanita Arab pada pakaiannya.”[10]
Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjelaskan maksud perhiasan
yang mungkin terlihat di sini adalah:
Lihat dua pernyataan di atas baik-baik. Dua sahabat di
atas adalah yang paling paham makna, alasan, dan tempat turun ayat tersebut.
Bagi orang-orang yang beriman, keduanya lebih tinggi dari para Profesor dan
peraih penghargaan Nobel. Maka, berhati-hatilah dalam berhias wahai wanita!
Anda tidak tahu berapa dosa yang anda bawa, saat satu orang lelaki saja melirik
kepada anda, lantaran satu perhiasan yang anda pakai.
Bahkan mungkin anda akan katakan ini telalu kolot, tapi
ini sungguh datang dari “Tinta Umat Islam”. Seorang Mufassir terbaik yang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pilih dalam do’anya. Yakni,
beliau Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Beliau menyampaikan bahwa:
“Allah memerintahkan wanita-wanita yang beriman,
ketika pergi keluar dari rumah-rumah mereka karena suatu keperluan, untuk
MENUTUP WAJAH yang ada di kepala mereka, dengan hanya memperlihatkan SATU MATA saja.”[12]
5. TAUBAT
Poin terakhir inilah poin yang termudah, jika 4 poin di
atas sudah dicentang. Bohong namanya jika poin ini dilakukan tanpa 4 di atas.
Muqatil bin Sulaiman Rahimahullah
menafsirkan taubat di sini lebih khusus:
“(Taubat) dari dosa-dosa yang disebabkan oleh perkara yang
dipermasalahkan surat ini (tidak menjaga pandangan, kemaluan, perhiasan,
jilbab).”[13]
Sayangnya, kita belum menyelami persyaratan taubat yang Allah jelaskan
dalam firman-Nya:
"BUKANLAH TAUBAT itu
bagi orang-orang yang melakukan maksiat-maksiat, hingga datang kematian pada
salah seorang di antara mereka (dari teman atau saudara), lantas dia baru
berkata: “Sesungguhnya AKU BERTAUBAT SEKARANG”. Tidak juga bagi mereka yang
MATI sementara mereka dalam keadaan KAFIR. Mereka itu semua, telah kami siapkan bagi
mereka ADZAB YANG AMAT PEDIH.”[14]
[1] Keponakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[2] Lihat Tanwiirul Muqbaas min Tafsiir Ibn ‘Abbas,
Mawqi’u At-Tafsiir, jilid I hlm. 368
[3] Lihat Ali ash-Shobuni, Shafwatut Tafaasir, Daar Ash-Sobuni,
jilid II hlm. 304
[5] Lihat Muhammad Nasib Ar-Rifa’ie, Tafsir Al-‘Aliy Al-Qadir
liikhtishori Tafsir Ibn Katsir, jilid I hlm. 1771
[6] Lihat Ibn ‘Abbas, Tanwiirul Muqbaas min Tafsiir Ibn
‘Abbas, Mawqi’u At-Tafsiir, jilid I hlm. 368
[9] Lihat Mujahid, Tafsir Mujahid, Dar Al-Fikr Al-Islami
Al-Haditsah, jilid I hlm. 491
[10] Ibid
[11] Lihat Ibn ‘Abbas, Tanwiirul Muqbaas min Tafsiir Ibn
‘Abbas, Mawqi’u At-Tafsiir, jilid I hlm. 368
[12] Lihat Hakamat bin Basyir bin Yasin, Prof., Dr., Ash-Shahih Al-Masbur
min at-Tafsir Al-Ma’tsur, jilid III hlm. 464







0 komentar:
Posting Komentar