Oleh: Abu Asy-Syuja' Al-Malanji
Kepada kalian yang mempertaruhkan Islam ke dalam partai-partai!
Kepada kalian yang mengklaim bahwa dakwah terpenting di zaman ini adalah
melalui partai!
Kepada kalian yang entah mengapa begitu fanatisnya, mendefinisikan
pemerintahan Islam menurut warna bendera masing-masing!
Persilahkan saudara kalian ini, untuk memberikan sebilah cermin, tempat
kalian mengaca kepada seorang penggerak Partai Politik Islam paling berpengaruh
di negeri kita!
Seorang pencetak sejarah sekaligus terzhalimi oleh sejarah. Seorang
terkemuka di mancanegara, namun di negeri sendiri harus terlupa dan terhina.Seorang
yang tidak bisa ditemukan lagi yang semisalnya dalam pergerakan.Kata-kata saja
tidak bisa menggambarkan ketokohan beliau, apalagi hanya artikel dangkal semacam
ini.
Dialah Mohammad Natsir. Tak banyak orang yang mengenal beliau, bahkan
anggota Partai Islam sekalipun!
SEKILAS M. NATSIR DAN KONDISI PARPOL ISLAM 2014
Mohammad Natsir, nama yang sulit ditemukan dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah. Seorang penjaga kesatuan Indonesia melalui Mosi Integral-nya, sekaligus seorang pemberontak dengan kawanan PRRI[1]-nya. Penggelarannya sebagai pahlawan masih dipermasalahkan[2]. Begitulah, para pesaing politiknya (dan anak-anak ideologis mereka) mencegah ketenaran pemikirannya dengan berbagai cara.Jangankan pula pemikirannya, namanya saja, -sekali lagi,masih belum pantas dimasukkan dalam buku pelajaran Sejarah di sekolah, menurut mereka.
M. Natsir memang sosok
yang tidak cukup digambarkan dalam satu-dua artikel, sebab dia sudah membuat
para Sejarahwan sibuk menulis Sejarah Negara kita dalam berjilid-jilid tebalnya.
Tidak banyak yang mengenalnya, kecuali oleh orang-orang yang otaknya sedikit
lebih besar dari kepalanya. Masyumi (Majelis Syura
Muslimien Indonesia) dan
DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) adalah karya nyatanya,
dan Natsir terus menjadi ruh keduanya hingga saat ini.
Saya bukan orang yang pro-gerakan
M. Natsir, atau Ikhwanul Muslimien!Bahkan
saya lebih setuju kepada pendapat Pangeran Nayif bin Abdul Aziz Aal-Saud dari
Kerajaan Saudi yang menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimien adalah bahwa
penyebab kerusuhan di negara-negara Arab dalam beberapa dekade ini[3].
Bagi saya, Ikhwanul Muslimienadalah model Islam gado-gado. Asal wadahnya
satu, susu dan racun bisa menyatu.
Lihatlah sendiri, bagaimana pemikiran Khawarij dan Syi’ah menjalin kasih di
dalamnya. Bagaimana pula filsafat Mu’tazilah dan Asy’ariyah mereka legal-kan
menjadi akidah. Lebih gentle-nya lagi, Shufisme Ibn ‘Arabi hendak mereka
kawinkan dengan Salafisme Ibn Taimiyyah[4].
Dan tidak cukup untuk saya jelaskan di sini, hanya saja kalau saya ini tidak
ingin dicap sebagai Salafi-Haraki[5].
Namun saya merasa kasihan kepada mereka yang mengaku meneruskan perjuangan M.
Natsir tapi masih belum tahu hakekat langkah-langkah beliau, apalagi dalam hal
meneladani. Terutama pada masa-masa menjelang Pemilihan Umum 2014 ini. Masa-masa
di mana partai-partai Islam di Indonesia tanpa malu-malu membawa-bawa label
'Islam' pada masalah-masalah yang jelas tidak Islami.
Ada yang bela mati-matian kawannya yang sudah terbukti korupsi. Ada yang
korbankan akidahnya membela-bela Syi’ah[6]
demi pencitraan, atau malah ikut-ikutan bareng masyarakat lakukan Bid’ah dan Syirik
demi kampanye. Ada juga yang keluarkan keputusan musyawarah untuk legalkan
perzinaandengan lokalisasi menjadi “Zina Center”[7].Lebih
sedih lagi, rata-rata dari mereka berani nyatakan bahwa Demokrasi adalah sistem
yang diridhoi Islam[8],
bahkan ada yang dengan bodohnya menyatakan tidak adanya konsep Negara dalam
Islam![9]
Islam bagi mereka semacam permen karet, manis di mulut bebas dibentuk,
kalau sudah tidak manis lagi tinggal dibuang.
Hal-hal Islami
yang berbentuk lafal saja tidak bisa (dan
tidak mau) mereka bawa masuk
ke parlemen,apalagi
hakekat dari lafalnya! Menyedihkannya lagi, saat tokoh-tokoh
besar mereka menyatakan dengan tegas bahwa Syari’at Islam tidak akan mereka
usahakan menjadi undang-undang[10]. Allahu
Akbar! Lalu apa bedanya Partai Islam dengan Partai-partai lainnya?
Ini sudah tahap kritis gila gawat. Mereka yang mengaku sebagai politikus
Islami ini sebenarnya sudah menunjukkan PENGKHIANATAN BESAR kepada cita-cita
Hasan Al-Banna, -pendiri Ikhwanul Muslimien sendiri. Tidak ingatkah
mereka pada perkataannya dalam risalahnya yang terkenal “Ke Mana Kita
Menyeru?”:
“Wahai kaumku! Kami menyeru kamu sekalian dengan membawa AL-QUR'AN di
tangan kanan kami dan SUNNAH Rasul beserta TELADAN PARA SAHABAT di tangan kiri
kami, karena apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu (SALAF) dari
umat ini menjadi teladan bagi kami.
Kami menyeru kamu KEMBALI KEPADA ISLAM, hukum-hukumnya, ajaran-ajarannya
dan petunjuk-petunjuknya. Apabila seruan ini diistilahkan sebagai politik,
memang ITU ADALAH POLITIK KAMI. Dan apabila ada orang yang mengatakan seruan
ini adalah merupakan prinsip-prinsip politik, maka kami katakan “Alhamdulillah”,
berarti kami adalah orang pertama yang berkenalan dengan politik. Dan apabila
kamu tetap mengatakan ini sebagai kegiatan politik, maka katakanlah menurut
kehendak kamu. Bagi kami, masalah nama BUKAN PERSOALAN YANG PENTING, yang
paling penting pada suatu saat kebenaran pasti akan terbuka, dan tercapailah
tujuan kami.”[11]
Pertanyaan yang besar bagi para pengidola Hasan Al-Banna adalah:
“Apa yang selama ini menjadi perhatian kalian; tujuan utama di atas ataukah
jabatan Politik?”
Demikian seharusnya mereka masih bisa menaati pimpinan mereka sendiri,
dikarenakan mereka sudah jelas menolak fatwa-fatwa Masyayikh Salafi yang
menghinakan Demokrasi. Tapi nyatanya mereka tidak bisa juga! Bahkan kalau
mereka tidak mengakui pembangkangan ini, saya tantang mereka untuk meneladani
tokoh Ikhwanul Muslimien versi Indonesia sendiri! Silahkan teladani Manhaj
M. Natsir dalam Berpolitik dan beragama!
Bagian I: MANHAJ POLITIK
M. NATSIR
Bagi anda yang belum mengenal ‘keganasan’ Politik M. Natsir sehingga ingin
meremehkan beliau, silahkan baca sedikit saja biografis amat ringkas beliau
dari sudut pandang Politik. Berikut sedikit saja tentang beliau, tidak usah
banyak-banyak dulu:
- Terlibat dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), saat
beliau masih cukup muda, di kisaran umur 30-an
- Badan inti dari JIB (Jong Islamiten Bond)
- Anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sejak September 1945
- Menteri Penerangan dalam Kabinet Syahrir II sejak Januari 1946, lalu
berlanjut pada Kabinet III, dan Kabinet Presidensial Hatta
- Diangkat sebagai Perdana Menteri pertama RI setelah bubarnya RIS
(Republik Indonesia Serikat), peristiwa ini dikenal dengan Mosi Integral
- Penyusun Kabinet Pemerintahan Soekarno-Hatta dari koalisi antara Partai
Masyumi dan PNI pada tahun 1950
- Pendiri dan Pemimpin Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimien Indonesia)
hingga 1960
Dan masih banyak sekali, belum-belum yang tingkatan Internasional seperti
jabatan beliau sebagai Wakil Presiden World Muslim Congress di Pakistan
1967, juga anggota World Moslem League, Makkah, 1969, dan masih banyak
lagi.[12]
Kalau mau dibanding-bandingkan dengan tokoh Parpol Islam mana pun hari ini,
justru jadi malu sendiri.
Perlu juga sedikit saya sebutkan tantangan-tantangan yang dihadapi M.
Natsir saat menjabat sebagai Perdana Menteri. Antara lain; pemberontakan
gerakan Separatis RMS di Maluku, Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat,
pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia) MMC (Merapi Merbabu Compleks), gerakan
Andi Azis di Makassar, dan gerakan APRA Westerling di Bandung.
Apakah ada pejabat hari ini yang sanggup menghadapi masalah-masalah semacam
ini? Masalah gerakan Separatis Papua saja tidak selesai-selesai sampai hari
ini!
Dan kalau disebutkan semua tantangan yang dihadapi Natsir semasa jabatannya
amatlah panjang, dan akan bertele-tele.
Bahkan sebegitu terpandangnya seorang Natsir, Bung Karno selaku Presiden
Pertama RI, tidak mau menandatangani suatu penerangan pemerintah, apabila
penerangan itu tidak disusun oleh Natsir, demikian pengakuan langsung Moh.
Hatta, Wakil Presiden Pertama RI, dalam sambutannya pada acara peringatan 70
tahun Kenangan-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.[13]
Masih berani meragukan keteladanan M. Natsir?
M. NATSIR MENENTANG DEMOKRASI PANCASILA
Sekalipun M. Natsir pada nyatanya dikenal masuk ke dalam sistem Demokrasi,
namun pada hakekatnya awal keberadaan beliau ada di sana adalah memperjuangkan
penolakan Demokrasi. Lho, kok aneh begitu? Karena memang saat itu Indonesia
masih baru lahir. Status pemerintahannyamasih sangat tidak jelas;dilema antara
Demokrasi Amerika atau Komunisme Uni Soviet. Dan saat masih tidak jelas itulah,
M. Natsir masuk menyuarakan sistem Negara Islam.
Memang kita tidak bisa membenarkan secara mutlak ijtihad M. Natsir akan
masuknya beliau ke parlemen, tetapi juga tidak bisa menyalahkannya secara
mutlak. Namun dilihat dari 2 sisi, ijtihad beliau masih dapat dikategorikan
sebagai penerapan kaedah Fiqih:
إذاتعارضضرراندفعأخفهما
“Jika dua bahaya saling berbentrokkan, maka mencegah
yang paling ringan bahayanya (itu lebih utama)”[14]
walaupun tidak mutlak. Pertama, masuknya ke parlemen Musyawarah terjadi
pada masa-masa menentukan sistem pemerintahan, bukan pada saat Demokrasi telah
disahkan sebagai sistem. Kedua, saat ijtihad menjadikan Islam sebagai
sistem pemerintahan tersebut gagal, dan Demokrasi Pancasila telah disahkan, Partai
Masyumi yang dipimpinnya masih berada di puncak klasemen.[15]Sehingga
beliau pun merasa masih melihat celah kemungkinan yang lebar untuk mengubahnya.
Tapi ingatlah, wahai para anggota Partai Islam! Jangan pernah anda membela
mati-matian sistem Demokrasi Pancasila sebagaimana tokoh-tokoh kalian
membelanya. Ingatlah, bahwa M. Natsir pernah berkata:
“Pancasila
TIDAK PATUT dijadikan ideologi negara, karena sila-sila itu relatif, baik
sila-sila itu sendiri maupun hubungan satu dengan lainnya. Berbeda dengan
Pancasila, Islam mempunyai hukum-hukum yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan
melalui wahyu yang memberikan ukuran mutlak untuk mengatur persoalan-persoalan
manusia.”[16]
Tidak cukup sekali saja M. Natsir mengkritisi Pancasila. Memang beliau
tidak menolaknya secara mutlak, tapi beliau tidak pernah membelanya mati-matian
sebagaimana yang dilakukan tokoh-tokoh partai Islam hari ini! Justru beliau
tolak Pancasila dengan menawarkan konsep Islam yang lebih sempurna sebagai
gantinya. Ironisnya, belum pernah terdengar satu pun tokoh Partai Islam hari
ini yang pernah melakukannya!
Saat itu Mei
1954, beliau jelaskan
hubungan antara visi Masyumi
partainya dengan Pancasila. Beliau berkata:
“Di mata
seorang
Muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan secara apriori sebagai satu 'barang
asing' yang berlawanan. Ia melihat di dalamnya satu afspiegeling (pencerminan)
dari sebagian yang ada pada sistemnya.
Tapi ini TIDAK BERARTI bahwa Pancasila sudah IDENTIK atau meliputi SEMUA
ajaran-ajaran Islam.”
Saat itu juga beliau jelaskan
alternatif bagi umat Islam jikalau harus terpaksa
menerima Pancasila, dengan memaparkan syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Lihatlah betapa
indahnya beliau berkata:
“Sepanjang Pancasila MENGANDUNG TUJUAN-TUJUAN Agama Islam, kita kaum Muslim
dengan ikhlas dan tidak mau ketinggalan untuk menciptakan kebajikan itu. Di atas tanah dan dalam
iklim Islam, Pancasila akan hidup subur. Mudah-mudahan Pancasila itu dalam
perjalanannya
mencari isi semenjak ia dilancarkan sebagai perumusan Lima Cita-Kebajikan,
kira-kira 9 tahun yang lalu itu, TIDAK hendaknya DIISI ditengah jalan dengan
HAL-HAL YANG MENENTANG AJARAN AL-QUR'AN.”[17]
Kalau kita ingin rapikan sedikit, syarat Pancasila yang dicita-citakan M.
Natsir tidak lain adalah:
1. Mengandung tujuan-tujuan Agama Islam
2. Tidak diisi dengan hal-hal yang menentang ajaran Al-Qur’an
Sepanjang Pancasila modelnya seperti ini dari zaman ke zaman, bagi M.
Natsir, tidak ada masalah bagi umat Islam Indonesia. Tapi nyatanya? Ucapan yang
bisa menyamai ucapan di atas saja belum pernah terdengar untuk kedua kalinya.
Apalagi diterapkan? Justru yang ada adalah pengkaretan ayat Al-Qur’an agar
sesuai dengan hawa nafsu Pancasila!
Bagi Natsir, Pancasila hanyalah aplikasi yang lebih kecil dan lebih sempit
daripada Islam. Pada tahun 1959, dalam pidatonya di depan Majelis Konstituante,
beliau menyatakan bahwa Islam lebih berhak menjadi falsafah negara dibanding
Pancasila. Beliau
berkata:
“Saya
ingin menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada saudara-saudara pendukung
Pancasila. Sila-sila yang saudara maksud ada terdapat di dalam Islam. Bukan
sebagai pure concepts yang steril, tapi sebagai nilai-nilai hidup yang
membuat substansi yang riil dan terang. Dengan menerima ISLAM SEBAGAI
FALSAFAH NEGARA, saudara-saudara pembela Pancasila sedikit pun TIDAK DIRUGIKAN
APA-APA. Baik sebagai pendukung Pancasila maupun sebagai orang beragama.”[18]
Lihatlah ketajaman dialog M. Natsir dalam dakwah yang negosiatif tersebut.
Menurut beliau, saat orang menerapkan Islam, tidak ada satu pun sila dari
Pancasila yang akan terlewatkan, justru malah akan dilengkapi dan
disempurnakan. Bagi beliau, saat Islam diterapkan, orang-orang Pancasilais dan
Non-Islam tidak akan dirugikan. Namun sebaliknya, saat Pancasila atau sistem
Non-Islam ditegakkan, orang-orang Islam merugi besar. Lantas, apakah ini
“Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”?
Lebih indah lagi, pernyataan Natsir dalam
lanjutan pidato 1959 tersebut:
“Tak ada
satu pun dari lima sila yang terumus dalam Pancasila itu yang akan terluput
atau gugur apabila saudara-saudara menerima ISLAM sebagai DASAR NEGARA. Dalam
Islam terdapat kaidah-kaidah yang tentu-tentu di mana pure concepts dari
sila yang lima itu mendapat substansi yang riil, MENDAPAT JIWA dan RUH
penggerak.”[19]
Karena memang sebenarnya, inspirasi terbesar (ruh dan jiwa) di balik
terbentuknya Pancasila adalah nilai-nilai Islam. M. Natsir pernah menyatakan
bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah 'sumbangan Islam bagi perdamaian
Dunia'.[20]Sayangnya,
dunia politik hari ini sudah jungkir balik. Yang banyak diusahakan oleh
tokoh-tokoh Partai Islam sekarang adalah ‘sumbangan Demokrasi bagi Islam’. Entah
dengan menyatakan bahwa Demokrasi adalah sistem Syura, atau menafikan Syari’at
Islam dengan menyatakannya Budaya Arab, atau bahkan sampai-sampai melegalkan
perempuan terjun ke dalam kepemimpinan! Allahu Akbar! Islam pun tinggal cassing,
semua accessories-nya dicopoti satu-satu karena dianggap ketinggalan
zaman!
Bahkan dalam sidang di Majelis Konstituante tersebut, terjadi silang
pendapat yang cukup tajam antara Natsir dengan Soekarno.Perselisihannya adalah mengenai
konsep Demokrasi yang hendak dipilih oleh Pancasila, apakah Demokrasi Terpimpin
ataukah Demokrasi Terbatas? M. Natsir dan kawan-kawan beliau atas nama Masyumi sekalipun
tak bisa mengganti Demokrasi secara mutlak, mereka perjuangkan semampu mereka dalam
menentang sebagian kezhalimannya. Dengan tegas mereka nyatakan: kesiapan untuk MENGUBUR
PRAKTIK DEMOKRASI ALA BARAT dalam sidang tersebut.[21]
Memang kita tidak bisa pungkiri bahwa Demokrasi seutuhnya adalah produk
Barat yang dicerna dari Plato, tokoh filsafat Yunani. Dan nyaris tidak bisa
kita pisah antara yang ‘ala Timur’ dengan yang ‘ala Barat’. Akan tetapi bukanlah
di sini tempat yang pas untuk membahasnya secara luas dan rinci. Sebab yang
perlu kita lihat dari sikap Natsir dan Masyumi di atas, tidak ada 1 jengkal pun
tersisa pada Parpol Islam hari ini. Hampir semua anggota Parpol Islam hari ini ridha
terhadap Demokrasi, bahkan sekali lagi, ada yang dengan bodohnya menyatakan
Demokrasi adalah sistem Syura dalam Islam. Ini Qiyas model Ushul
Fiqih mana? Madzhab California?
M. NATSIR MENENTANG
SEKULARISME
Penentangan Natsir terhadap Sekularisme dapat terlihat jelas dari
polemik yang terjadi antara beliau dengan Soekarno[22], -yang mengusung nasionalisme
sekuler membuntuti Kemal
Attaturk, tokoh besar Sekularisme Turki.
Maka inilah maksud dari pernyataan Natsir dan Masyumi akan kesiapan mengubur
Demokrasi ala Barat, yakni Demokrasi Sekularis. Walaupun sebenarnya, sampai
Matahari menabrak Bulan pun, tetap tidak akan pernah ada yang namanya Demokrasi
Islam.[23]
Namun yang perlu diperhatikan adalah sikap anti-sekularisme Natsir yang sudah
nyaris nihil dari Parpol Islam hari ini.
Sebenarnya, penentangan beliau sudah sangat jelas sekali, jikalau kita mau
giat menelaah karya-karya beliau. Akan tetapi ada artikel beliau yang dinilai lebih menggigit dan menusuk Sekularisme, yaitu “Persatuan Agama dan
Negara”
yang kemudian dibukukan dengan judul “Islam dan Akal Merdeka”.
Di dalam artikel tersebut,
Natsir menyatakan bahwa hanya Islam yang dapat menjadi dasar nasionalitas
Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa orang Islam sendiri harus berjuang untuk
sebuah negara yang akan menjamin Islam dan hukumnya, serta pemimpin Muslim yang
terkemuka.[24]Bukan
seperti orang-orang Ikhwanul Muslimien di Mesir dan Yaman yang menyatakan:
“Kami tidak menginginkan Daulah Islamiyah, tapi kami menginginkan Daulah
Madaniyah!”
Apalagi sampai seperti sebagian Parpol Islam yang sampai menyatakan dengan
tegas, akan membela mati-matian Demokrasi Pancasila, -yang sejatinya sudah
dinyatakan Sekuler dengan tegas oleh Bapak Presiden[25].
Lebih-lebih lagi, kita
dapat melihat ketegasan Natsir (akan Sekularisme) pada level yang lebih tinggi. Saat
itu Juni 1956, dalam
rangka pembebasan
Al-Jazair dari kolonial Perancis, Natsir berpidato
menyuarakan agar negara-negara Muslim dapat menyelenggarakan Konferensi
Asia-Afrika khusus untuk membincangkan permasalahan antara Al-Jazair dan
Perancis. Bagusnya, Natsir bukan obral mulut semata. Terbukti beberapa hari
kemudian, beliau melanjutkan
aumannya dalam Kongres Dunia Islam di Damaskus, di mana beliau
menyerukan
untuk MEMUTUSKAN segala bentuk HUBUNGAN dengan PERANCIS.[26]
Belum lagi pemikiran Natsir
tentang kemampuan
Masyumi dalam memerintah
TANPA BERALIANSI dengan PNI (Partai Nasional Indonesia), Partai milik Soekarno
saat itu. Dan ini adalah wujud anti-Sekularisme yang paling ‘norak’
dari beliau. Sebab bagi beliau
sentimen keagamaan melebihi sentimen nasional, dan harus menjadi landasan dukungan
rakyat terhadap pemerintah.[27]
Bukan hanya itu saja, M.
Natsir dan kawan-kawan pun membantah dan menyelisihi suara-suara 'sekularisasi'
Nurcholish Madjid, salah seorang yang dekat dengan Masyumi mulanya namun
di kemudian hari menjadi gembong Jaringan Islam liberal. Natsir dan kawan-kawan
menganggapnya telah berkhianat kepada para mantan pemimpin Masyumi, terutama
sejak ia berceramah pada 3 Februari 1970.Terbukti naskah ceramah tersebut
tidak dimuat di pewarta Islam, melainkan di Harian Indonesia Raya yang berbau
sosialis. Di antara gonggongan Sekularisasi Nurcholish yang terkenal adalah slogannya:
“Islam
Yes, Islamic Party, no!”[28]
Mengenai betapa kolotnya Nurcholish membela Sekularisme, tidak perlu
diperjelas di sini. Orang-orang terpelajar sudah sangat kenal. Bahkan
barangkali, Sekularisme sudah lebih dekat kepadanya daripada lidahnya sendiri! Dan
menyedihkannya, sebagian tokoh-tokoh Partai Islam masih sempat membela-bela
Nurcholish, bahkan menggelarinya sebagai pemikir besar Islam abad ini. Lebih
ngawur lagi, seorang tokoh besar Partai Islam yang kebetulan ‘nyangkut’ di
kursi Presiden, melindungi dan mengembangkan gerakan Nurcholish ini.
Berbeda dengan M. Natsir yang tidak puas-puas juga untuk menentang Sekularisme.
Pasca bubarnya Masyumi pun, saat seharusnya beliau lepas tangan dari politik, masih
saja beliau terus melanjutkan suara-suara anti-Sekularisme dengan gencarnya melalui
media barunya DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia).Terbitan-terbitan DDII
menyiarkan wacana terhadap dunia Islam Internasional mengenai perjuangan
melawan KEBOBROKAN DAN PENINDASAN BARAT, yang tentu saja tidak
jauh-jauh dari dampak Sekularisme.
Sampai-sampai salah
satu terbitan utama DDII yang bertajuk “Media Dakwah”dicap oleh William Liddle
sebagai corong aliran 'skriptualis' dan 'fundamentalis'.[29]
Maka jangan tanyakan sekarang di mana jiwa-jiwa Natsir yang masih
bergentayangan di Parpol Islam hari ini. Mereka yang menentang Sekularisme
hanyalah orang-orang kecil Partai yang suaranya kekecilan, alias gak
kedengaran. Sisanya, seperti para pembesar-pembesar Partai lebih memilih tutup
mulut tentang Sekularisme. Karena mereka sudah sadar kalau Sekularisme adalah
Demokrasi, menentangnya berarti menentang diri mereka sendiri. Alias, gak jadi
dapat kursi nantinya.
M. NATSIR MENENTANG KOMUNISME
Sekalipun hari ini Komunisme katanya sudah dikatakan ‘punah’ bersama Uni
Soviet, sebenarnya ini hanyalah trik kuno dengan mengubah istilah dan berita.
Buktinya hingga hari ini pemikiran-pemikiran Karl Marx bebas berkembang biak di
kampus-kampus. Bahkan jangan-jangan orang-orang sudah lupa bahwa Atheisme yang
sok disemarakkan sekarang iniadalah anak kandung Komunisme.
Tidak salahlah pernyataan Natsir dahulu, bahwa PKI (Partai
Komunis Indonesia) adalah
ANCAMAN YANG SERIUS terhadap negara dan bangsa Indonesia.[30] Benar-benar jauh pandangan Natsir, hingga hari ini kita merasakan bukti
yang nyata. Maka jangan harap anda bisa bandingkan beliau dengan tokoh Parpol
Islam hari ini.Kemungkaran yang jelas-jelas di depan mata saja mereka anggap
bukan ancaman. Mungkin mereka sudah begitu menjiwai filsafat “gitu aja kok
repot!”.
Kalau mau bukti nyata, silahkan lihat upaya atheisasi dan pluralisasi di
kampus-kampus UIN, STAIN dan IAIN[31]
yang jelas-jelas asli punya negara! Adakah seorang tokoh Parpol saja yang
pernah mencegahnya? Jangankan mencegah, mengirim surat ke kotak kritik dan
saran saja gengsi!Apalagi sampai melarang buku-buku para Filosof, Orientalis,
Evangelis, dan Atheis! Lha wong, mereka saja ada yang menghadiri seminar
bedah bukunya, asal dapat fulus!
Begitulah, lain kandang, lain makhluknya. Partai semacam PKI yang
dilindungi oleh sebagian pejabat saja, tidak takut-takut M. Natsiruntuk
menentangnya. Beliau suarakan dengan lantang melalui media partainya: Masyumi di
panggung politik. Tanpa segan-segan beliau kritik Soekarno yang saat itu terlihat
sangat melindungi PKI.Sampai-sampai terjadilah polemik perdebatan yang tajam
antara Soekarno dengan M. Natsir dan A. Hassan, gurunya, baik melalui risalah,
buku, maupun mimbar-mimbar.[32]
Bagaimana tidak, kali ini racun yang dibawa Soekarno adalah hasil
perkawinan antara Komunisme dan Sekularisme Liberal. Terbukti saat itu Soekarno
menginginkan agar keislaman dikembalikan kepada perorangan saja.[33]
Racun komunisme yang semacam ini mirip sekali dengan pemikiran Mahasiswa
hari ini, bahkan lebih parah. Sebagian dari mereka menginginkan agar keislaman
dapat ditafsirkan menurut masing-masing orang, tidak perlu lagi penafsiran
Sahabat Rasulullah yang terlalu kuno. Tapi adakah satu tokoh Parpol Islam saja
yang bergerak menentangnya? Adakah yang semisal Natsir walau seujung jari?
Dan perlu diingat pula, kritik yang Natsir lakukan adalah tugas dari
jabatan beliau sebagai Menteri... Bukan dengan Demonstrasi ‘culun’yang sudah
menjadi hobi Parpol-parpol Islam saat ini. Dalam pembahasan selanjutnya nanti
jelas ada pernyataan Natsir dalam menentang Demonstrasi.
TELADAN M. NATSIR DALAM
BERPOLITIK
Ada baiknya dalam pembahasan ini untuk dikelompokkan dalam beberapa poin,
sehingga dapat memperjelas hal-hal apa saja yang kini telah hilang dan perlu
dicari dalam jiwa M. Natsir ini. Maka perhatikanlah dengan seksama, wahai para Hizbi[34]!
1. DAKWAH BUKAN CAPER
M. Cholil Badawi, Mantan
Ketua PW Masyumi Magelang berkata:
“Pak
Natsir itu tidak bisa membedakan antara Dakwah dan Politik, orang sekarang
tidak bisa. Belum ada. Sulit. Waktunya benar-benar sibuk untuk mengatur...”[35]
Kalaupun ada yang mengaku-aku Politiknya itu Dakwah, silahkan lihat saja
apa yang dikerjakannya. Justru jadi terbalik, pengajian-pengajian saja
dipasangi lambang Partai. Ceramah-ceramah disusup-susupi kepentingan begituan. Akhirnya
dakwah diperalat sebagai media kampanye, istilah-istilah Agama tinggal jadi
pelaris saja, wal-iyaadzu billah.
Jauh dari seorang M. Natsir yang memahami ayat:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
BERDAKWAH KEPADA ALLAH, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”[36]
Bukan dakwah kepada Parpol! Bukan dakwah kepada kepentingan Politik! Bukan
dakwah untuk Pemilu, wahai para penggila Partai!
Begitulah, seorang Natsir pernah mempermasalahkan Dakwah yang semacam itu.
Dakwah melalui media 'caper', pamer aksi, yang menurut beliau hanya akan memecah
belah ummat. Beliau
berkata:
“...Yang
tadinya diniatkan untuk da'watunila 'llah (memanggil ummat kepada
Allah). Yang tumbuh ditengah jalan justru da'watun ilayya nafsi (JUAL
TAMPANG AGAR LAKU). Yang kemudian juga tumbuh subur adalah ananiyah
(akuisme) dalam berbagai bentuk dan corak. Inilah yang menyebabkan tafarruq
(PERPECAHAN) di tengah-tengah umat Islam.”[37]
Maka jangan bingung saat anda melihat banyaknya Partai Islam unjuk diri,
muncul begitu banyak, padahal tujuan mereka tidak berbeda. Selain karena
masing-masing Partai punya hawa nafsu masing-masing, juga karena masing-masing
tokoh mereka ingin berebut posisi. Semakin banyak Partai Islam, semakin luas
peluang mereka untuk ditokohkan. Dan semakin tak peduli lagi, apakah umat Islam
semakin terkotak-kotak oleh Partai atau tidak.
Dan M.
Natsir sudah jauh-jauh menyinggung model-model tokoh Partai yang semacam itu. Tokoh-tokoh hari ini yang tukang caper dalam beramal,
asal masuk TV dan koran (Hati-hati, awas tersinggung!). Berikut perkataan Natsir
saat menjelaskan masalah Ukhuwwah Islamiyah:
“Di sini (perwujudan Ukhuwwah) diperlukan daya cipta para pemimpin
untuk ber-ijtihad, diperlukan pekerja lapangan tanpa nama, TANPA MAU
DIKENAL KHALAYAK RAMAI dan bersedia meniadakan diri.”[38]
Karena memang yang menimbulkan fanatisme anggota Partai adalah tokoh Partai
itu sendiri. Kalau mereka tidak dijadikan fanatik, otomatis mereka tidak bisa
naik ke singgasana jabatan. Berbeda dengan Natsir yang anti-fanatisme Partai,
-yang nanti akan dibahas pada poin ke-4.
2. MENOLAK DEMONSTRASI
M. Natsir pernah mengkritik
Demonstrasi dalam perkataannya mengenai Ukhuwah Islamiyah yang tak
kunjung terwujud:
“Kita,
selama ini lebih tertarik dengan cara borongan, demonstratif, berteras
(diekspose) keluar, asal kelihatan orang banyak. Karena itu perlu peninjauan
kembali cara kita membangun ukhuwwah.”
Berbeda dengan Parpol-parpol Islam sekarang, yang dengan bodohnya
menganalogikan antara Demonstrasi dengan Nahi Munkar atau metode dakwah lainnya[39],
padahal di antara keduanya ada jurang yang dalam. Padahal Demonstrasi adalah
pembuka fitnah pertama bagi umat Islam yang berujung pada pembunuhan Utsman bin
‘Affan. Padahal Demonstrasi adalah Bid’ah Khawarij yang merisaukan ummat dan
meragukan mereka dari para pemimpin. Apakah para penggila Partai ini buta
sejarah?!
Saya sangat yakin bahwa M. Natsir benar-benar paham metode dakwah kepada
pemerintah yang sudah digariskan dalam Al-Qur’an. Bahwa Allah telah berfirman
kepada Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia
telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata
yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Pemimpin semacam Fir’aun yang jelas-jelas menyatakan
dirinya adalah Tuhan saja, masih diperintahkan untuk mendakwahinya dengan
Dialog. Bahkan dengan “kata-kata yang lemah lembut”! Lalu bagaimana lagi dengan
orang yang tidak sampai selevel Fir’aun?[40]
3. MENOLAK GAYA HIDUP MEWAH
Hamdy el-Gumanty, kerabat
dekat M.
Natsir pernah berkata:
“Pertama
kali dan yang masih saya rekam dari almarhum Natsir adalah KESEDERHANAANNYA.”
Dia juga berkata:
“Beliau
SEDERHANA. Saya betul-betul kagum dengan kesederhanaan Pak Natsir.”[41]
Berdasar pengakuannya lagi, M.
Natsir tidak biasa mengendarai
mobil mewah, atau mengenakan pakaian yang 'wah'.[42]
(Sungguh, jangan coba-coba anda bandingkan dengan Politikus-politikus hari
ini, karena tidak pernah bisa, dan nyaris tidak akan! Kalaupun mereka mau pamer
aksi sederhana, minimal sudah calling wartawan untuk diliputkan di
berita!)
Hamdy juga
mengatakan bagaimana gambaran kesederhanaan dari seorang
Natsir:
“Secara pribadi, saat itu (beliau
hendak membeli
sebuah materi pelajaran yang sangat mahal, di samping itu) beliau memiliki
kebutuhan lain yang juga mendesak. Tapi beliau memilih mendahulukan kepentingan
umat dan orang banyak dibanding memenuhi kebutuhan pribadinya.”[43]
Adapun gambaran yang lebih jelas lagi, digambarkan langsung oleh Ahmad
Fauzi Natsir, anak bungsu dari M. Natsir. Dia jelaskan bagaimana kesederhanaan dan
manajemen rumah tangga M. Natsir dalam pengakuannya kepada Adhes Satria, seorang
wartawan Sabili. Hasil dari wawancara tersebut tergambar beliau, yang setidaknya
dapat terambil beberapa poin:
1. Keluarga M. Natsir
tidak memiliki pembantu, pekerjaan rumah tangga dikerjakan secara gotong
royong.
2. Jatah makanan keluarga
M. Natsir diatur, disebabkan banyaknya anggota keluarga.
3. Makanan yang dimakan
keluarga M. Natsir hanyalah apa yang ada dan secukupnya saja.
4. Kehidupan keluarga M.
Natsir berpindah-pindah rumah, bahkan sempat menumpang di rumah kerabat dan
teman M. Natsir.[44]
Seperti yang saya sebutkan di awal, jangan coba-coba anda bandingkan,
bahkan dengan pejabat-pejabat kecil Partai di kecamatan sekalipun! Karena kalau
kita bahas perbandingannya disertai bahasan-bahasan dari ajaran Islam tentang
Zuhud dan semacamnya akan menghabiskan berpuluh-puluh halaman! Cukuplah mereka
malu melihat bagaimana Natsir dan keluarganya hidup! Kalau tidak juga merasa
malu, sebenarnya mereka sudah sangat memalukan.
5. MENOLAK FANATISME PARTAI
Sebagaimana pengakuan dari Ahmad Fauzi Natsir, bahwa ayahnya, Natsir, tidak
pernah menyuruh anggota keluarganya untuk fanatis kepada Partai Politik
tertentu.[45] Pembuktian sikap Natsir yang anti-fanatisme ini sudah sangat jelas
terlihat dari karya-karya beliau tentang Ukhuwwah Islamiyyah yang tidak
sedikit. Seperti buku “Dakwah Komprehensif” berupa himpunan pesan-pesan
dakwah M. Natsir oleh H. Mas’oed Abidin, terutama dalam artikel beliau “Persatuan
adalah Soal Hati” dan “Iman sebagai Dasar Persatuan”.[46]
Bahkan, saat Partai Masyumi harus dibubarkan pada 1960, Natsir tetap ngotot
untuk berdakwah melalui media barunya DDII tanpa membawa unsur-unsur Politik
lagi. Bukankah ini sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Masyumi bukanlah
segala-galanya bagi Natsir? Sekalipun Masyumi pernah meraih posisi yang tidak
pernah diraih oleh Parpol-parpol mana pun hingga hari ini, Natsir tidak kecewa
mati. Natsir tidak sampai ingin ngotot membentuk Masyumi kembali!
Sebab bagi Natsir, Dakwah tidak dipersempit oleh logo Partai atau bendera.
Dakwah tidak bisa dihentikan oleh sedikitnya simpatisan atau dana, apalagi
hanya karena gagal duduk di singgasana.
6. MENOLAK AJI MUMPUNG
Seorang Natsir bukan orang level kacangan yang suka pakai Aji Mumpung.
Mumpung jabatnya tinggi, ‘gunakan jabatan’ semaksimal mungkin sebelum
nanti turun.
Anak beliau, Ahmad Fauzi Natsir menyebutkan bahwa dia beserta
saudara-saudaranya telah tegas dilarang
untuk mendompleng
nama beliau. Membawa-bawa nama beliau ke sini dan ke situ.
Kami anak menteri, dan lain sebagainya. Bahkan
sekalipun hanya
mencantumkan nama Natsir
di belakang nama mereka, seperti layaknya nama-nama orang pada umumnya.[47]
Padahal ini masalah yang sangat remeh di mata kita, tapi lihatlah bagaimana
ketatnya seorang Natsir dalam mendidik anak-anak beliau, agar tidak manja dan
pasrah pada ayah kebanggaannya! Tidak seperti mereka yang kini pasang-pasang
nama ayahnya di belakang namanya, -yang sudah terkenal ditokohkan oleh
masyarakat, agar saat kampanye namanya jadi lebih mentereng.
Tambah lagi, menurut pengakuan Fauzi, bahwa M. Natsir selama menjabat, hampir
tidak pernah membawa anak-anaknya pergi jalan-jalan, atau bahkan hanya sekedar
dimintai oleh-oleh saat urusan dinas dalam dan luar negeri.[48]
Allahu Akbar!
Sampai sekedar oleh-oleh yang dibelinya dengan uang pribadi saja tidak
boleh, apalagi seperti orang-orang sekarang yang uangnya sudah gado-gado. Masuk
dari sana-sini, dibilang ini ‘biaya administrasi’?!
SYARAT-SYARAT POLITIKUS
MENURUT M. NATSIR
M. Natsir menekankan
bahwa orang-orang yang hendak duduk
di parlemen haruslah MENGUASAI HUKUM-HUKUM ISLAM dan ilmu pengetahuan modern.[49] Sebab ini masalah yang tidak bisa diremehkan. Adakah satu saja dari ketua
Parpol Islam yang memberikan syarat semacam ini bagi pejabat-pejabat Partai
mereka? Atau, malah syarat utamanya hanya harus kaya dan terkenal?
Cobalah lihat sekarang! Ada berapa banyak tokoh Partai Islam yang belum
selesai mengaji Fiqih bab Jinayah, Hudud, dan Qadhaa’? Bahkan
hanya ditanya arti dari 3 lafal ini saja, saya yakin lebih dari 50% mereka
tidak bisa menjawabnya, apalagi menjelaskan dalil dan penerapannya. Tapi kok
begitu bebasnya mereka naik mencalonkan diri jadi anggota legislatif, kalau
tidak hanya karena kepentingan pribadi. Begitu lancangnya mereka-mereka ini
sampai membawa-bawa tujuan kesejahteraan umat Islam tapi belum selesai mengaji
Islam!
Menyedihkannya, justru yang duduk di parlemen dan mengatas namakan Parpol
Islam hari ini adalah orang-orang yang melepas jilbab dan menghalalkannya.
Mereka courtingSyari’at-syari’at Islam dengan discount-discount
ngawur agar laku di pasar parlemen. Kalau mereka tidak mengusung Parpol Islam
masihlah mending, tapi nyatanya malah berlomba-lomba menjadi musang berbulu
ayam!
KEKUATAN PARTAI ISLAM MENURUT
M. NATSIR
Setidaknya ada 2 syarat tercapainya kekuatan Partai Islam yang maksimal
menurut M. Natsir:
1. MENGUTAMAKAN KUALITAS DI ATAS KUANTITAS
M. Natsir dalam
artikelnya "Tauhid sebagai Dasar Pendidikan" membuahkan pemikiran
mengenai pentingnya kualitas di atas kuantitas. Bagi beliau, Islam akan jaya
jika kualitas keislaman umatnya baik. Beliau TIDAK SEPAKAT dengan kalangan yang
menyebut Islam akan menag seiring BERTAMBAHNYA JUMLAH pengikutnya. Beliau lebih
berpendapat bahwa kualitas-lah yang akan membawa kuantitas.[50]
2. BERLANDASKAN AL-QUR’AN DAN HADITS
Pada November, 1952,
mingguan Hikmah asuhan M. Natsir menegur keras PSII (Partai Sarekat Islam
Indonesia) cabang Semarang, oleh sebab salah seorang wakilnya mengeluarkan
pernyataan:
"Meski merupakana
organisasi Islam, PSII adalah Partai modern yang sanggup menyesuaikan diri
dengan keadaan baru dan tidak akan membiarkan perkataan bahwa semua umat Islam
setuju dengan poligami."
Mingguan Hikmah membantah
bahwa Partai Islam haruslah berlandaskan kepada Al-Qur'an dan Hadits. Dan
masalah poligami adalah sesuatu yang boleh bahkan wajjib dalam keadaan-keadaan
tertentu.[51]
NAMUN...
Partai bukanlah sebuah
keharusan bagi seorang Natsir. Kita dapat mempelajarinya dari sikapnya pasca
pembubaran Masyumi oleh Soekarno. Beliau justru tidak membentuk Partai baru
untuk menyusun kekuatan baru. Namun beliau malah membentuk organisasi dakwah
yang jelas terpisah dari politik, yang kita kenal dengan DDII, yang dibentuk
pada tahun 1967. Lebih tegas lagi, beliau tidak ikut membuat partai baru
bersama mantan tokoh-tokoh Masyumi lainnya, seperti Jusuf Wibisono dan
Soekiman.[52]
Ini menunjukkan bahwa
dakwah Partai tidak dapat menjamin persatuan umat Islam yang dicita-citakannya,
selama tokoh-tokoh Partai masih lalai terhadap isi dakwah yang sebenarnya.
Perubahan arah dakwah M. Natsir ini, setidaknya menunjukkan bahwa dakwah Partai
hanya akan menghasilkan kesia-siaan dan perpecahan selama dakwah Syari'at yang
hakiki ditinggalkan. Yakni, saat dakwah hanya disuarakan di parlemen dan
kampanye tidak akan membawa apa-apa melainkan fanatisme, yang nyatanya kemudian
dakwah ini begitu jauh dan terhijab dari lapisan bawah masyarakat awam.
Natsir ibarat seorang
komandan yang kabur dari kalahnya peperangan, dan mencoba menyusun kekuatan
baru untuk membalas kekalahan, tanpa harus terjun langsung ke dalam perang. Dia
sadar bahwa bendera tidak dapat menyatukan pasukan yang kocar-kacir saat
peperangan berlangsung. Dia sadar bahwa jiwa pasukan lebih penting daripada
otot-otot mereka.
Demikianlah, Natsir bukanlah Nabi yang suci dari kesalahan. Natsir sempat tercebur
dalam lumpur Hizbiyah[53]
dan Politik, juga mengusung sebagian pemikiran Ikhwanul Muslimien, walau
tidak seutuhnya. Sebab, setidaknya beliau masih jauh lebih baik daripada
Politikus-politikus hari ini yang mengatas namakan Parpol Islam, atau bahkan Ikhwanul
Muslimien versi Indonesia. Bahkan sangat jauh, sejauh timur dari barat!
Herry Nurdi, mantan
pemimpin Redaksi Majalah Sabili pernah menyatakan
dalam artikelnya mengenai M. Natsir:
“Di
tengah kondisi negeri seperti saat ini, mengenang Natsir seolah seperti mimpi.
Sosok Natsir nampak begitu jauh tak terperi. Politikus kita hanya memikirkan
kekuasaan, yang harus dicapai dengan segala cara.”[54]
Bersambung...
Negeri Iman dan Hikmah, Yaman, 7 April 2014
REFERENSI
Al-Qur’an Al-Karim, terjemahan dari Al-Qur’an Digital versi 2.1 file (.chm)
Arsip artikel website (al-manhaj.or.id) file (.chm)
Sabili, Majalah,
Edisi khusus Seratus Tahun Mohammad Natsir,
Edisi ke-2 tahun XVI, 2008, PT. Dian Rakyat, Jakarta Timur
Madinier, Remy, Partai
Masyumi antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral, 2013, Mizan, Bandung
Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Shaleh, Mulakhkhash
Al-Qawa’ied Al-Fiqhiyyah, Maktabah Syamilah, TT.
Al-Banna, Hasan, Ke Mana Kita Menyeru, versi PDF,
terjemahan Bahasa Melayu
Al-Banna, Fuad, Dr., Mabahits Fii Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah, cet. Ke-3,
‘Adn li Ath-Thaba’ah wa An-Nasyr, 2013, Taiz
[1]PRRI: Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia, pemberontakan yang dimulai pada tanggal 10 Februari 1958, lihat
Sabili hlm. 36-41
[2]Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih
meminta untuk diadakan suatu kajian ulang tentang peranan M. Natsir, melalui
naskah yang dibacakan oleh Hatta Radjasa dalam Seminar Nasional peringatan 58
tahun Mosi Integral Mohammad Natsir di Universitas Jenderal Soeirman, Rabu, 9
Juli 2008, lihat Sabili hlm. 53
[3]Pernyataan beliau terhadap Harian
“As-Siyasah Al-Kuwaitiyah” tanggal 27 November 2002 dan harian Kuwait “Arab
Times” tanggal 18 Desember 2002, dalam artikel Dr. Muhammad Arifin Badri dalam
Majalah As-Sunnah edisi 10/Tahun XIII/1431 H./2010 M., dari arsip artikel
website (al-manhaj.or.id)
[4]Pernyataan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam
karyanya “Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah Al-‘Arabiyyah” hlm. 31, dalam “Mabahits
fii Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah” karya Dr. Fuad Al-Banna, hlm. 20
[5]Gabungan antara manhaj Salaf dengan manhaj
Harokah, tuduhan palsu yang sudah dibantah oleh beberapa ustadz Salafi, karena Al-Haq
dengan Al-Bathil tidak bisa bertemu untuk menjadi jalan hidup seorang
Muslim
[6]Seperti yang dinyatakan oleh tokoh PKS
(Partai Keadilan Sejahtera), Fahri Hamzah dalam media-media
[7]Seperti yang dilegalkan oleh fatwa
keputusan NU (Nahdlatul Ulama’) tentang lokalisasi tempat pelacuran
[8]Pernyataan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang
sudah sangat masyhur dalam karya-karyanya, namun lebih jelasnya telah dibantah
oleh Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi dalam karyanya “Al-Qaradhaawiy Fii
Miizaan”, Edisi Indonesia: Pemikiran Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam
Timbangan, penerjemah: M. Abdul Ghoffar, E.M., diambil dari arsip artikel
website (al-manhaj.or.id)
[9]Seperti pernyataan Amien Rais, tokoh PAN
(Partai Amanat Nasional) yang lebih-lebih lagi dalam salah satu karyanya yang
menggugat keberadaan Daulah Islamiyah di zaman Rasulullah
[10]Pernyataan Dr. Hidayat Nur Wahid, tokoh
PKS dalam liputan berita online (voa-islam.com)
[11]Lihat “Ke Mana Kita Menyeru” karya Hasan
Al-Banna versi Bahasa Melayu hlm. 5, PDF
[12]Lihat Sabili seluruh halaman
[13]Lihat Majalah Sabili hlm. 22
[14]Lihat Mulakhkhash Al-Qawa’ied Al-Fiqhiyyah
karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 4
[15]Pada Pemilihan Umum 1955 yang berhasil
memenangkan suara di 10 dari 15 tempat
[16]Lihat Majalah Sabili, hlm. 58
[17]Dalam Artikel beliau
"Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur'an?" di surat
kabar Abadi dan Hikmah, 22 Mei 1954, dalam Partai Masyumi, hlm. 309
[18]Lihat Partai Masjumi, Antara Godaan
Demokrasi & Islam Integral, hlm. 302
[19]Lihat Majalah Sabili hlm. 28
[20]Op. Cit., hlm. 302
[21]Ibid hlm. 325
[22]Sikapnya membuntuti Kemal Attaturk sudah
sangat jelas dalam karya-karyanya, terutama dalam perselisihan pendapat dengan
A. Hassan, pendiri Persis (Persatuan Islam) dan guru dari M. Natsir
[23]Tidak mungkin bergabung antara Sunnah
dengan Bid’ah, antara Haq dengan Bathil, silahkan lihat fatwa gabungan dari
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie
dalam Majalah Al-Ashalah, edisi 2 Jumadil Akhir 1413H, penerjemah: Abu Nuaim
Al-Atsari, Disalin ulang dari Majalah Al-Furqon, edisi 7/Tahun III. Hlm.39-43,
dalam arsip artikel website (al-manhaj.or.id)
[24]Lihat Partai Masjumi, hlm. 22
[25]Saat Susilo Bambang Yudhoyono dilantik
menjadi Presiden kedua kalinya untuk masa jabatan 2009-2014 dalam pidato
pelantikan beliau
[26]Op. Cit. hlm. 177
[27]Ibid hlm. 360
[28]Ceramahnya yang berjudul "Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat" diterbitkan
dalam Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1987, Ibid hlm. 400
[29]Ibid hlm. 403
[30]Ibid hlm. 30
[31]UIN: Universitas Islam Negeri, STAIN:
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, dan IAIN: Institut Agama Islam Negeri, bisa
anda perluas lagi dengan membaca “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad
Jaiz
[32]Sekalipun ada perbedaan antara Natsir dan
A. Hassan, di mana Natsir lebih cenderung menerima Demokrasi sementara A.
Hassan menolaknya dengan tegas, lihat Ibid hlm. 38
[33]Ibid
[34]Julukan bagi orang yang berpartai,
lebih-lebih bagi yang fanatis, diadopsi dari Bahasa Arab dengan akar kata
(Haa’, Zay, dan Baa’)
[35]Lihat Majalah Sabili hlm. 71
[36]QS. Fushilat: 33
[37]Lihat
artikel beliau "Timbulnya Tafarruq Bukanlah Karena Besarnya Jumlah
Organisasi" dalam Majalah Sabili
hlm. 76
[38]Ibid hlm. 73-74
[39]Seperti pernyataan Abdurrahman Abdul
Khaliq yang sudah dibantah oleh Syaikh Bin Baz dalam fatwa beliau, dalam Majmu
Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz jilid VIII hlm. 245, dalam arsip
artikel website (al-manhaj.or.id)
[40]Sebenarnya pembahasan tentang haramnya
Demonstrasi ini tidak bisa diperpanjang dalam artikel ini karena hanya akan
mengaburkan pokok penjelasan yang bersifat umum tentang M. Natsir
[41]Op. Cit. hlm. 84
[42]Ibid hlm. 81
[43]Ibid
[44]Ibid hlm. 118-119
[45]Ibid hlm. 119
[46]Ibid hlm. 74-75
[47]Ibid hlm. 118-119
[48]Ibid
[49]Lihat
Natsir, 2000, Islam sebagai Dasar Negara, Penerbit Media Da'wah dan Universitas
Mohammad Natsir, hlm. 299, dalam Partai Masyumi hlm. 298
[50]Op. Cit. hlm. 45
[51]Op. Cit. hlm. 374
[52]Ibid hlm. 400
[53]Sikap berpartai atau fanatisme terhadap
partai yang merusak kesatuan umat Islam
[54]Majalah Hlm. 17






0 komentar:
Posting Komentar