Blogger news

Senin, 07 April 2014

KEPADA PENGUSUNG PARTAI ISLAM, NATSIR MENEGURMU!

Oleh: Abu Asy-Syuja' Al-Malanji

Kepada kalian yang mempertaruhkan Islam ke dalam partai-partai!
Kepada kalian yang mengklaim bahwa dakwah terpenting di zaman ini adalah melalui partai!
Kepada kalian yang entah mengapa begitu fanatisnya, mendefinisikan pemerintahan Islam menurut warna bendera masing-masing!
Persilahkan saudara kalian ini, untuk memberikan sebilah cermin, tempat kalian mengaca kepada seorang penggerak Partai Politik Islam paling berpengaruh di negeri kita!
Seorang pencetak sejarah sekaligus terzhalimi oleh sejarah. Seorang terkemuka di mancanegara, namun di negeri sendiri harus terlupa dan terhina.Seorang yang tidak bisa ditemukan lagi yang semisalnya dalam pergerakan.Kata-kata saja tidak bisa menggambarkan ketokohan beliau, apalagi hanya artikel dangkal semacam ini.
Dialah Mohammad Natsir. Tak banyak orang yang mengenal beliau, bahkan anggota Partai Islam sekalipun!

SEKILAS M. NATSIR DAN KONDISI PARPOL ISLAM 2014

Mohammad Natsir, nama yang sulit ditemukan dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah. Seorang penjaga kesatuan Indonesia melalui Mosi Integral-nya, sekaligus seorang pemberontak dengan kawanan PRRI[1]-nya. Penggelarannya sebagai pahlawan masih dipermasalahkan[2]. Begitulah, para pesaing politiknya (dan anak-anak ideologis mereka) mencegah ketenaran pemikirannya dengan berbagai cara.Jangankan pula pemikirannya, namanya saja, -sekali lagi,masih belum pantas dimasukkan dalam buku pelajaran Sejarah di sekolah, menurut mereka.

M. Natsir memang sosok yang tidak cukup digambarkan dalam satu-dua artikel, sebab dia sudah membuat para Sejarahwan sibuk menulis Sejarah Negara kita dalam berjilid-jilid tebalnya. Tidak banyak yang mengenalnya, kecuali oleh orang-orang yang otaknya sedikit lebih besar dari kepalanya. Masyumi (Majelis Syura Muslimien Indonesia) dan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) adalah karya nyatanya, dan Natsir terus menjadi ruh keduanya hingga saat ini.

Saya bukan orang yang pro-gerakan M. Natsir, atau Ikhwanul Muslimien!Bahkan saya lebih setuju kepada pendapat Pangeran Nayif bin Abdul Aziz Aal-Saud dari Kerajaan Saudi yang menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimien adalah bahwa penyebab kerusuhan di negara-negara Arab dalam beberapa dekade ini[3]. Bagi saya, Ikhwanul Muslimienadalah model Islam gado-gado. Asal wadahnya satu, susu dan racun bisa menyatu.

Lihatlah sendiri, bagaimana pemikiran Khawarij dan Syi’ah menjalin kasih di dalamnya. Bagaimana pula filsafat Mu’tazilah dan Asy’ariyah mereka legal-kan menjadi akidah. Lebih gentle-nya lagi, Shufisme Ibn ‘Arabi hendak mereka kawinkan dengan Salafisme Ibn Taimiyyah[4]. Dan tidak cukup untuk saya jelaskan di sini, hanya saja kalau saya ini tidak ingin dicap sebagai Salafi-Haraki[5].

Namun saya merasa kasihan kepada mereka yang mengaku meneruskan perjuangan M. Natsir tapi masih belum tahu hakekat langkah-langkah beliau, apalagi dalam hal meneladani. Terutama pada masa-masa menjelang Pemilihan Umum 2014 ini. Masa-masa di mana partai-partai Islam di Indonesia tanpa malu-malu membawa-bawa label 'Islam' pada masalah-masalah yang jelas tidak Islami.

Ada yang bela mati-matian kawannya yang sudah terbukti korupsi. Ada yang korbankan akidahnya membela-bela Syi’ah[6] demi pencitraan, atau malah ikut-ikutan bareng masyarakat lakukan Bid’ah dan Syirik demi kampanye. Ada juga yang keluarkan keputusan musyawarah untuk legalkan perzinaandengan lokalisasi menjadi “Zina Center”[7].Lebih sedih lagi, rata-rata dari mereka berani nyatakan bahwa Demokrasi adalah sistem yang diridhoi Islam[8], bahkan ada yang dengan bodohnya menyatakan tidak adanya konsep Negara dalam Islam![9]

Islam bagi mereka semacam permen karet, manis di mulut bebas dibentuk, kalau sudah tidak manis lagi tinggal dibuang. Hal-hal Islami yang berbentuk lafal saja tidak bisa (dan tidak mau) mereka bawa masuk ke parlemen,apalagi hakekat dari lafalnya! Menyedihkannya lagi, saat tokoh-tokoh besar mereka menyatakan dengan tegas bahwa Syari’at Islam tidak akan mereka usahakan menjadi undang-undang[10]. Allahu Akbar! Lalu apa bedanya Partai Islam dengan Partai-partai lainnya?

Ini sudah tahap kritis gila gawat. Mereka yang mengaku sebagai politikus Islami ini sebenarnya sudah menunjukkan PENGKHIANATAN BESAR kepada cita-cita Hasan Al-Banna, -pendiri Ikhwanul Muslimien sendiri. Tidak ingatkah mereka pada perkataannya dalam risalahnya yang terkenal “Ke Mana Kita Menyeru?”:
“Wahai kaumku! Kami menyeru kamu sekalian dengan membawa AL-QUR'AN di tangan kanan kami dan SUNNAH Rasul beserta TELADAN PARA SAHABAT di tangan kiri kami, karena apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu (SALAF) dari umat ini menjadi teladan bagi kami.

Kami menyeru kamu KEMBALI KEPADA ISLAM, hukum-hukumnya, ajaran-ajarannya dan petunjuk-petunjuknya. Apabila seruan ini diistilahkan sebagai politik, memang ITU ADALAH POLITIK KAMI. Dan apabila ada orang yang mengatakan seruan ini adalah merupakan prinsip-prinsip politik, maka kami katakan “Alhamdulillah”, berarti kami adalah orang pertama yang berkenalan dengan politik. Dan apabila kamu tetap mengatakan ini sebagai kegiatan politik, maka katakanlah menurut kehendak kamu. Bagi kami, masalah nama BUKAN PERSOALAN YANG PENTING, yang paling penting pada suatu saat kebenaran pasti akan terbuka, dan tercapailah tujuan kami.”[11]

Pertanyaan yang besar bagi para pengidola Hasan Al-Banna adalah:
“Apa yang selama ini menjadi perhatian kalian; tujuan utama di atas ataukah jabatan Politik?”

Demikian seharusnya mereka masih bisa menaati pimpinan mereka sendiri, dikarenakan mereka sudah jelas menolak fatwa-fatwa Masyayikh Salafi yang menghinakan Demokrasi. Tapi nyatanya mereka tidak bisa juga! Bahkan kalau mereka tidak mengakui pembangkangan ini, saya tantang mereka untuk meneladani tokoh Ikhwanul Muslimien versi Indonesia sendiri! Silahkan teladani Manhaj M. Natsir dalam Berpolitik dan beragama!

Bagian I: MANHAJ POLITIK M. NATSIR
Bagi anda yang belum mengenal ‘keganasan’ Politik M. Natsir sehingga ingin meremehkan beliau, silahkan baca sedikit saja biografis amat ringkas beliau dari sudut pandang Politik. Berikut sedikit saja tentang beliau, tidak usah banyak-banyak dulu:
- Terlibat dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), saat beliau masih cukup muda, di kisaran umur 30-an
- Badan inti dari JIB (Jong Islamiten Bond)
- Anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sejak September 1945
- Menteri Penerangan dalam Kabinet Syahrir II sejak Januari 1946, lalu berlanjut pada Kabinet III, dan Kabinet Presidensial Hatta
- Diangkat sebagai Perdana Menteri pertama RI setelah bubarnya RIS (Republik Indonesia Serikat), peristiwa ini dikenal dengan Mosi Integral
- Penyusun Kabinet Pemerintahan Soekarno-Hatta dari koalisi antara Partai Masyumi dan PNI pada tahun 1950
- Pendiri dan Pemimpin Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimien Indonesia) hingga 1960
Dan masih banyak sekali, belum-belum yang tingkatan Internasional seperti jabatan beliau sebagai Wakil Presiden World Muslim Congress di Pakistan 1967, juga anggota World Moslem League, Makkah, 1969, dan masih banyak lagi.[12]
Kalau mau dibanding-bandingkan dengan tokoh Parpol Islam mana pun hari ini, justru jadi malu sendiri.

Perlu juga sedikit saya sebutkan tantangan-tantangan yang dihadapi M. Natsir saat menjabat sebagai Perdana Menteri. Antara lain; pemberontakan gerakan Separatis RMS di Maluku, Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia) MMC (Merapi Merbabu Compleks), gerakan Andi Azis di Makassar, dan gerakan APRA Westerling di Bandung.
Apakah ada pejabat hari ini yang sanggup menghadapi masalah-masalah semacam ini? Masalah gerakan Separatis Papua saja tidak selesai-selesai sampai hari ini!
Dan kalau disebutkan semua tantangan yang dihadapi Natsir semasa jabatannya amatlah panjang, dan akan bertele-tele.

Bahkan sebegitu terpandangnya seorang Natsir, Bung Karno selaku Presiden Pertama RI, tidak mau menandatangani suatu penerangan pemerintah, apabila penerangan itu tidak disusun oleh Natsir, demikian pengakuan langsung Moh. Hatta, Wakil Presiden Pertama RI, dalam sambutannya pada acara peringatan 70 tahun Kenangan-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.[13]
Masih berani meragukan keteladanan M. Natsir?

M. NATSIR MENENTANG DEMOKRASI PANCASILA
Sekalipun M. Natsir pada nyatanya dikenal masuk ke dalam sistem Demokrasi, namun pada hakekatnya awal keberadaan beliau ada di sana adalah memperjuangkan penolakan Demokrasi. Lho, kok aneh begitu? Karena memang saat itu Indonesia masih baru lahir. Status pemerintahannyamasih sangat tidak jelas;dilema antara Demokrasi Amerika atau Komunisme Uni Soviet. Dan saat masih tidak jelas itulah, M. Natsir masuk menyuarakan sistem Negara Islam.

Memang kita tidak bisa membenarkan secara mutlak ijtihad M. Natsir akan masuknya beliau ke parlemen, tetapi juga tidak bisa menyalahkannya secara mutlak. Namun dilihat dari 2 sisi, ijtihad beliau masih dapat dikategorikan sebagai penerapan kaedah Fiqih:
إذاتعارضضرراندفعأخفهما
Jika dua bahaya saling berbentrokkan, maka mencegah yang paling ringan bahayanya (itu lebih utama)[14] walaupun tidak mutlak. Pertama, masuknya ke parlemen Musyawarah terjadi pada masa-masa menentukan sistem pemerintahan, bukan pada saat Demokrasi telah disahkan sebagai sistem. Kedua, saat ijtihad menjadikan Islam sebagai sistem pemerintahan tersebut gagal, dan Demokrasi Pancasila telah disahkan, Partai Masyumi yang dipimpinnya masih berada di puncak klasemen.[15]Sehingga beliau pun merasa masih melihat celah kemungkinan yang lebar untuk mengubahnya.

Tapi ingatlah, wahai para anggota Partai Islam! Jangan pernah anda membela mati-matian sistem Demokrasi Pancasila sebagaimana tokoh-tokoh kalian membelanya. Ingatlah, bahwa M. Natsir pernah berkata:
Pancasila TIDAK PATUT dijadikan ideologi negara, karena sila-sila itu relatif, baik sila-sila itu sendiri maupun hubungan satu dengan lainnya. Berbeda dengan Pancasila, Islam mempunyai hukum-hukum yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan melalui wahyu yang memberikan ukuran mutlak untuk mengatur persoalan-persoalan manusia.[16]

Tidak cukup sekali saja M. Natsir mengkritisi Pancasila. Memang beliau tidak menolaknya secara mutlak, tapi beliau tidak pernah membelanya mati-matian sebagaimana yang dilakukan tokoh-tokoh partai Islam hari ini! Justru beliau tolak Pancasila dengan menawarkan konsep Islam yang lebih sempurna sebagai gantinya. Ironisnya, belum pernah terdengar satu pun tokoh Partai Islam hari ini yang pernah melakukannya!

Saat itu Mei 1954, beliau jelaskan hubungan antara visi Masyumi partainya dengan Pancasila. Beliau berkata:
Di mata seorang Muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan secara apriori sebagai satu 'barang asing' yang berlawanan. Ia melihat di dalamnya satu afspiegeling (pencerminan) dari sebagian yang ada pada sistemnya. Tapi ini TIDAK BERARTI bahwa Pancasila sudah IDENTIK atau meliputi SEMUA ajaran-ajaran Islam.

Saat itu juga beliau jelaskan alternatif bagi umat Islam jikalau harus terpaksa menerima Pancasila, dengan memaparkan syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Lihatlah betapa indahnya beliau berkata:
“Sepanjang Pancasila MENGANDUNG TUJUAN-TUJUAN Agama Islam, kita kaum Muslim dengan ikhlas dan tidak mau ketinggalan untuk menciptakan kebajikan itu. Di atas tanah dan dalam iklim Islam, Pancasila akan hidup subur. Mudah-mudahan Pancasila itu dalam perjalanannya mencari isi semenjak ia dilancarkan sebagai perumusan Lima Cita-Kebajikan, kira-kira 9 tahun yang lalu itu, TIDAK hendaknya DIISI ditengah jalan dengan HAL-HAL YANG MENENTANG AJARAN AL-QUR'AN.[17]

Kalau kita ingin rapikan sedikit, syarat Pancasila yang dicita-citakan M. Natsir tidak lain adalah:
1. Mengandung tujuan-tujuan Agama Islam
2. Tidak diisi dengan hal-hal yang menentang ajaran Al-Qur’an
Sepanjang Pancasila modelnya seperti ini dari zaman ke zaman, bagi M. Natsir, tidak ada masalah bagi umat Islam Indonesia. Tapi nyatanya? Ucapan yang bisa menyamai ucapan di atas saja belum pernah terdengar untuk kedua kalinya. Apalagi diterapkan? Justru yang ada adalah pengkaretan ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan hawa nafsu Pancasila!

Bagi Natsir, Pancasila hanyalah aplikasi yang lebih kecil dan lebih sempit daripada Islam. Pada tahun 1959, dalam pidatonya di depan Majelis Konstituante, beliau menyatakan bahwa Islam lebih berhak menjadi falsafah negara dibanding Pancasila. Beliau berkata:
Saya ingin menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada saudara-saudara pendukung Pancasila. Sila-sila yang saudara maksud ada terdapat di dalam Islam. Bukan sebagai pure concepts yang steril, tapi sebagai nilai-nilai hidup yang membuat substansi yang riil dan terang. Dengan menerima ISLAM SEBAGAI FALSAFAH NEGARA, saudara-saudara pembela Pancasila sedikit pun TIDAK DIRUGIKAN APA-APA. Baik sebagai pendukung Pancasila maupun sebagai orang beragama.[18]

Lihatlah ketajaman dialog M. Natsir dalam dakwah yang negosiatif tersebut. Menurut beliau, saat orang menerapkan Islam, tidak ada satu pun sila dari Pancasila yang akan terlewatkan, justru malah akan dilengkapi dan disempurnakan. Bagi beliau, saat Islam diterapkan, orang-orang Pancasilais dan Non-Islam tidak akan dirugikan. Namun sebaliknya, saat Pancasila atau sistem Non-Islam ditegakkan, orang-orang Islam merugi besar. Lantas, apakah ini “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”?

Lebih indah lagi, pernyataan Natsir dalam lanjutan pidato 1959 tersebut:
Tak ada satu pun dari lima sila yang terumus dalam Pancasila itu yang akan terluput atau gugur apabila saudara-saudara menerima ISLAM sebagai DASAR NEGARA. Dalam Islam terdapat kaidah-kaidah yang tentu-tentu di mana pure concepts dari sila yang lima itu mendapat substansi yang riil, MENDAPAT JIWA dan RUH penggerak.[19]

Karena memang sebenarnya, inspirasi terbesar (ruh dan jiwa) di balik terbentuknya Pancasila adalah nilai-nilai Islam. M. Natsir pernah menyatakan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah 'sumbangan Islam bagi perdamaian Dunia'.[20]Sayangnya, dunia politik hari ini sudah jungkir balik. Yang banyak diusahakan oleh tokoh-tokoh Partai Islam sekarang adalah ‘sumbangan Demokrasi bagi Islam’. Entah dengan menyatakan bahwa Demokrasi adalah sistem Syura, atau menafikan Syari’at Islam dengan menyatakannya Budaya Arab, atau bahkan sampai-sampai melegalkan perempuan terjun ke dalam kepemimpinan! Allahu Akbar! Islam pun tinggal cassing, semua accessories-nya dicopoti satu-satu karena dianggap ketinggalan zaman!

Bahkan dalam sidang di Majelis Konstituante tersebut, terjadi silang pendapat yang cukup tajam antara Natsir dengan Soekarno.Perselisihannya adalah mengenai konsep Demokrasi yang hendak dipilih oleh Pancasila, apakah Demokrasi Terpimpin ataukah Demokrasi Terbatas? M. Natsir dan kawan-kawan beliau atas nama Masyumi sekalipun tak bisa mengganti Demokrasi secara mutlak, mereka perjuangkan semampu mereka dalam menentang sebagian kezhalimannya. Dengan tegas mereka nyatakan: kesiapan untuk MENGUBUR PRAKTIK DEMOKRASI ALA BARAT dalam sidang tersebut.[21]

Memang kita tidak bisa pungkiri bahwa Demokrasi seutuhnya adalah produk Barat yang dicerna dari Plato, tokoh filsafat Yunani. Dan nyaris tidak bisa kita pisah antara yang ‘ala Timur’ dengan yang ‘ala Barat’. Akan tetapi bukanlah di sini tempat yang pas untuk membahasnya secara luas dan rinci. Sebab yang perlu kita lihat dari sikap Natsir dan Masyumi di atas, tidak ada 1 jengkal pun tersisa pada Parpol Islam hari ini. Hampir semua anggota Parpol Islam hari ini ridha terhadap Demokrasi, bahkan sekali lagi, ada yang dengan bodohnya menyatakan Demokrasi adalah sistem Syura dalam Islam. Ini Qiyas model Ushul Fiqih mana? Madzhab California?

M. NATSIR MENENTANG SEKULARISME
Penentangan Natsir terhadap Sekularisme dapat terlihat jelas dari polemik yang terjadi antara beliau dengan Soekarno[22], -yang mengusung nasionalisme sekuler membuntuti Kemal Attaturk, tokoh besar Sekularisme Turki. Maka inilah maksud dari pernyataan Natsir dan Masyumi akan kesiapan mengubur Demokrasi ala Barat, yakni Demokrasi Sekularis. Walaupun sebenarnya, sampai Matahari menabrak Bulan pun, tetap tidak akan pernah ada yang namanya Demokrasi Islam.[23] Namun yang perlu diperhatikan adalah sikap anti-sekularisme Natsir yang sudah nyaris nihil dari Parpol Islam hari ini.

Sebenarnya, penentangan beliau sudah sangat jelas sekali, jikalau kita mau giat menelaah karya-karya beliau. Akan tetapi ada artikel beliau yang dinilai lebih menggigit dan menusuk Sekularisme, yaitu Persatuan Agama dan Negara yang kemudian dibukukan dengan judul Islam dan Akal Merdeka.

Di dalam artikel tersebut, Natsir menyatakan bahwa hanya Islam yang dapat menjadi dasar nasionalitas Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa orang Islam sendiri harus berjuang untuk sebuah negara yang akan menjamin Islam dan hukumnya, serta pemimpin Muslim yang terkemuka.[24]Bukan seperti orang-orang Ikhwanul Muslimien di Mesir dan Yaman yang menyatakan:
“Kami tidak menginginkan Daulah Islamiyah, tapi kami menginginkan Daulah Madaniyah!”
Apalagi sampai seperti sebagian Parpol Islam yang sampai menyatakan dengan tegas, akan membela mati-matian Demokrasi Pancasila, -yang sejatinya sudah dinyatakan Sekuler dengan tegas oleh Bapak Presiden[25].

Lebih-lebih lagi, kita dapat melihat ketegasan Natsir (akan Sekularisme) pada level yang lebih tinggi. Saat itu Juni 1956, dalam rangka pembebasan Al-Jazair dari kolonial Perancis, Natsir berpidato menyuarakan agar negara-negara Muslim dapat menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika khusus untuk membincangkan permasalahan antara Al-Jazair dan Perancis. Bagusnya, Natsir bukan obral mulut semata. Terbukti beberapa hari kemudian, beliau melanjutkan aumannya dalam Kongres Dunia Islam di Damaskus, di mana beliau menyerukan untuk MEMUTUSKAN segala bentuk HUBUNGAN dengan PERANCIS.[26]

Belum lagi pemikiran Natsir tentang kemampuan Masyumi dalam memerintah TANPA BERALIANSI dengan PNI (Partai Nasional Indonesia), Partai milik Soekarno saat itu. Dan ini adalah wujud anti-Sekularisme yang paling ‘norak’ dari beliau. Sebab bagi beliau sentimen keagamaan melebihi sentimen nasional, dan harus menjadi landasan dukungan rakyat terhadap pemerintah.[27]

Bukan hanya itu saja, M. Natsir dan kawan-kawan pun membantah dan menyelisihi suara-suara 'sekularisasi' Nurcholish Madjid, salah seorang yang dekat dengan Masyumi mulanya namun di kemudian hari menjadi gembong Jaringan Islam liberal. Natsir dan kawan-kawan menganggapnya telah berkhianat kepada para mantan pemimpin Masyumi, terutama sejak ia berceramah pada 3 Februari 1970.Terbukti naskah ceramah tersebut tidak dimuat di pewarta Islam, melainkan di Harian Indonesia Raya yang berbau sosialis. Di antara gonggongan Sekularisasi Nurcholish yang terkenal adalah slogannya:
Islam Yes, Islamic Party, no![28]

Mengenai betapa kolotnya Nurcholish membela Sekularisme, tidak perlu diperjelas di sini. Orang-orang terpelajar sudah sangat kenal. Bahkan barangkali, Sekularisme sudah lebih dekat kepadanya daripada lidahnya sendiri! Dan menyedihkannya, sebagian tokoh-tokoh Partai Islam masih sempat membela-bela Nurcholish, bahkan menggelarinya sebagai pemikir besar Islam abad ini. Lebih ngawur lagi, seorang tokoh besar Partai Islam yang kebetulan ‘nyangkut’ di kursi Presiden, melindungi dan mengembangkan gerakan Nurcholish ini.

Berbeda dengan M. Natsir yang tidak puas-puas juga untuk menentang Sekularisme. Pasca bubarnya Masyumi pun, saat seharusnya beliau lepas tangan dari politik, masih saja beliau terus melanjutkan suara-suara anti-Sekularisme dengan gencarnya melalui media barunya DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia).Terbitan-terbitan DDII menyiarkan wacana terhadap dunia Islam Internasional mengenai perjuangan melawan KEBOBROKAN DAN PENINDASAN BARAT, yang tentu saja tidak jauh-jauh dari dampak Sekularisme. Sampai-sampai salah satu terbitan utama DDII yang bertajuk “Media Dakwah”dicap oleh William Liddle sebagai corong aliran 'skriptualis' dan 'fundamentalis'.[29]

Maka jangan tanyakan sekarang di mana jiwa-jiwa Natsir yang masih bergentayangan di Parpol Islam hari ini. Mereka yang menentang Sekularisme hanyalah orang-orang kecil Partai yang suaranya kekecilan, alias gak kedengaran. Sisanya, seperti para pembesar-pembesar Partai lebih memilih tutup mulut tentang Sekularisme. Karena mereka sudah sadar kalau Sekularisme adalah Demokrasi, menentangnya berarti menentang diri mereka sendiri. Alias, gak jadi dapat kursi nantinya.

M. NATSIR MENENTANG KOMUNISME
Sekalipun hari ini Komunisme katanya sudah dikatakan ‘punah’ bersama Uni Soviet, sebenarnya ini hanyalah trik kuno dengan mengubah istilah dan berita. Buktinya hingga hari ini pemikiran-pemikiran Karl Marx bebas berkembang biak di kampus-kampus. Bahkan jangan-jangan orang-orang sudah lupa bahwa Atheisme yang sok disemarakkan sekarang iniadalah anak kandung Komunisme.

Tidak salahlah pernyataan Natsir dahulu, bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah ANCAMAN YANG SERIUS terhadap negara dan bangsa Indonesia.[30] Benar-benar jauh pandangan Natsir, hingga hari ini kita merasakan bukti yang nyata. Maka jangan harap anda bisa bandingkan beliau dengan tokoh Parpol Islam hari ini.Kemungkaran yang jelas-jelas di depan mata saja mereka anggap bukan ancaman. Mungkin mereka sudah begitu menjiwai filsafat “gitu aja kok repot!”.

Kalau mau bukti nyata, silahkan lihat upaya atheisasi dan pluralisasi di kampus-kampus UIN, STAIN dan IAIN[31] yang jelas-jelas asli punya negara! Adakah seorang tokoh Parpol saja yang pernah mencegahnya? Jangankan mencegah, mengirim surat ke kotak kritik dan saran saja gengsi!Apalagi sampai melarang buku-buku para Filosof, Orientalis, Evangelis, dan Atheis! Lha wong, mereka saja ada yang menghadiri seminar bedah bukunya, asal dapat fulus!

Begitulah, lain kandang, lain makhluknya. Partai semacam PKI yang dilindungi oleh sebagian pejabat saja, tidak takut-takut M. Natsiruntuk menentangnya. Beliau suarakan dengan lantang melalui media partainya: Masyumi di panggung politik. Tanpa segan-segan beliau kritik Soekarno yang saat itu terlihat sangat melindungi PKI.Sampai-sampai terjadilah polemik perdebatan yang tajam antara Soekarno dengan M. Natsir dan A. Hassan, gurunya, baik melalui risalah, buku, maupun mimbar-mimbar.[32]

Bagaimana tidak, kali ini racun yang dibawa Soekarno adalah hasil perkawinan antara Komunisme dan Sekularisme Liberal. Terbukti saat itu Soekarno menginginkan agar keislaman dikembalikan kepada perorangan saja.[33]

Racun komunisme yang semacam ini mirip sekali dengan pemikiran Mahasiswa hari ini, bahkan lebih parah. Sebagian dari mereka menginginkan agar keislaman dapat ditafsirkan menurut masing-masing orang, tidak perlu lagi penafsiran Sahabat Rasulullah yang terlalu kuno. Tapi adakah satu tokoh Parpol Islam saja yang bergerak menentangnya? Adakah yang semisal Natsir walau seujung jari?

Dan perlu diingat pula, kritik yang Natsir lakukan adalah tugas dari jabatan beliau sebagai Menteri... Bukan dengan Demonstrasi ‘culun’yang sudah menjadi hobi Parpol-parpol Islam saat ini. Dalam pembahasan selanjutnya nanti jelas ada pernyataan Natsir dalam menentang Demonstrasi.


TELADAN M. NATSIR DALAM BERPOLITIK
Ada baiknya dalam pembahasan ini untuk dikelompokkan dalam beberapa poin, sehingga dapat memperjelas hal-hal apa saja yang kini telah hilang dan perlu dicari dalam jiwa M. Natsir ini. Maka perhatikanlah dengan seksama, wahai para Hizbi[34]!

1. DAKWAH BUKAN CAPER
M. Cholil Badawi, Mantan Ketua PW Masyumi Magelang berkata:
Pak Natsir itu tidak bisa membedakan antara Dakwah dan Politik, orang sekarang tidak bisa. Belum ada. Sulit. Waktunya benar-benar sibuk untuk mengatur...[35]
Kalaupun ada yang mengaku-aku Politiknya itu Dakwah, silahkan lihat saja apa yang dikerjakannya. Justru jadi terbalik, pengajian-pengajian saja dipasangi lambang Partai. Ceramah-ceramah disusup-susupi kepentingan begituan. Akhirnya dakwah diperalat sebagai media kampanye, istilah-istilah Agama tinggal jadi pelaris saja, wal-iyaadzu billah.

Jauh dari seorang M. Natsir yang memahami ayat:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang BERDAKWAH KEPADA ALLAH, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”[36]
Bukan dakwah kepada Parpol! Bukan dakwah kepada kepentingan Politik! Bukan dakwah untuk Pemilu, wahai para penggila Partai!

Begitulah, seorang Natsir pernah mempermasalahkan Dakwah yang semacam itu. Dakwah melalui media 'caper', pamer aksi, yang menurut beliau hanya akan memecah belah ummat. Beliau berkata:
...Yang tadinya diniatkan untuk da'watunila 'llah (memanggil ummat kepada Allah). Yang tumbuh ditengah jalan justru da'watun ilayya nafsi (JUAL TAMPANG AGAR LAKU). Yang kemudian juga tumbuh subur adalah ananiyah (akuisme) dalam berbagai bentuk dan corak. Inilah yang menyebabkan tafarruq (PERPECAHAN) di tengah-tengah umat Islam.[37]

Maka jangan bingung saat anda melihat banyaknya Partai Islam unjuk diri, muncul begitu banyak, padahal tujuan mereka tidak berbeda. Selain karena masing-masing Partai punya hawa nafsu masing-masing, juga karena masing-masing tokoh mereka ingin berebut posisi. Semakin banyak Partai Islam, semakin luas peluang mereka untuk ditokohkan. Dan semakin tak peduli lagi, apakah umat Islam semakin terkotak-kotak oleh Partai atau tidak.

Dan M. Natsir sudah jauh-jauh menyinggung model-model tokoh Partai yang semacam itu. Tokoh-tokoh hari ini yang tukang caper dalam beramal, asal masuk TV dan koran (Hati-hati, awas tersinggung!). Berikut perkataan Natsir saat menjelaskan masalah Ukhuwwah Islamiyah:
“Di sini (perwujudan Ukhuwwah) diperlukan daya cipta para pemimpin untuk ber-ijtihad, diperlukan pekerja lapangan tanpa nama, TANPA MAU DIKENAL KHALAYAK RAMAI dan bersedia meniadakan diri.”[38]

Karena memang yang menimbulkan fanatisme anggota Partai adalah tokoh Partai itu sendiri. Kalau mereka tidak dijadikan fanatik, otomatis mereka tidak bisa naik ke singgasana jabatan. Berbeda dengan Natsir yang anti-fanatisme Partai, -yang nanti akan dibahas pada poin ke-4.

2. MENOLAK DEMONSTRASI
M. Natsir pernah mengkritik Demonstrasi dalam perkataannya mengenai Ukhuwah Islamiyah yang tak kunjung terwujud:
Kita, selama ini lebih tertarik dengan cara borongan, demonstratif, berteras (diekspose) keluar, asal kelihatan orang banyak. Karena itu perlu peninjauan kembali cara kita membangun ukhuwwah.

Berbeda dengan Parpol-parpol Islam sekarang, yang dengan bodohnya menganalogikan antara Demonstrasi dengan Nahi Munkar atau metode dakwah lainnya[39], padahal di antara keduanya ada jurang yang dalam. Padahal Demonstrasi adalah pembuka fitnah pertama bagi umat Islam yang berujung pada pembunuhan Utsman bin ‘Affan. Padahal Demonstrasi adalah Bid’ah Khawarij yang merisaukan ummat dan meragukan mereka dari para pemimpin. Apakah para penggila Partai ini buta sejarah?!

Saya sangat yakin bahwa M. Natsir benar-benar paham metode dakwah kepada pemerintah yang sudah digariskan dalam Al-Qur’an. Bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
Pemimpin semacam Fir’aun yang jelas-jelas menyatakan dirinya adalah Tuhan saja, masih diperintahkan untuk mendakwahinya dengan Dialog. Bahkan dengan “kata-kata yang lemah lembut”! Lalu bagaimana lagi dengan orang yang tidak sampai selevel Fir’aun?[40]

3. MENOLAK GAYA HIDUP MEWAH
Hamdy el-Gumanty, kerabat dekat M. Natsir pernah berkata:
Pertama kali dan yang masih saya rekam dari almarhum Natsir adalah KESEDERHANAANNYA.
Dia juga berkata:
Beliau SEDERHANA. Saya betul-betul kagum dengan kesederhanaan Pak Natsir.[41]
Berdasar pengakuannya lagi, M. Natsir tidak biasa mengendarai mobil mewah, atau mengenakan pakaian yang 'wah'.[42]
(Sungguh, jangan coba-coba anda bandingkan dengan Politikus-politikus hari ini, karena tidak pernah bisa, dan nyaris tidak akan! Kalaupun mereka mau pamer aksi sederhana, minimal sudah calling wartawan untuk diliputkan di berita!)

Hamdy juga mengatakan bagaimana gambaran kesederhanaan dari seorang Natsir:
Secara  pribadi, saat itu (beliau hendak membeli sebuah materi pelajaran yang sangat mahal, di samping itu) beliau memiliki kebutuhan lain yang juga mendesak. Tapi beliau memilih mendahulukan kepentingan umat dan orang banyak dibanding memenuhi kebutuhan pribadinya.[43]

Adapun gambaran yang lebih jelas lagi, digambarkan langsung oleh Ahmad Fauzi Natsir, anak bungsu dari M. Natsir. Dia jelaskan bagaimana kesederhanaan dan manajemen rumah tangga M. Natsir dalam pengakuannya kepada Adhes Satria, seorang wartawan Sabili. Hasil dari wawancara tersebut tergambar beliau, yang setidaknya dapat terambil beberapa poin:
1. Keluarga M. Natsir tidak memiliki pembantu, pekerjaan rumah tangga dikerjakan secara gotong royong.
2. Jatah makanan keluarga M. Natsir diatur, disebabkan banyaknya anggota keluarga.
3. Makanan yang dimakan keluarga M. Natsir hanyalah apa yang ada dan secukupnya saja.
4. Kehidupan keluarga M. Natsir berpindah-pindah rumah, bahkan sempat menumpang di rumah kerabat dan teman M. Natsir.[44]

Seperti yang saya sebutkan di awal, jangan coba-coba anda bandingkan, bahkan dengan pejabat-pejabat kecil Partai di kecamatan sekalipun! Karena kalau kita bahas perbandingannya disertai bahasan-bahasan dari ajaran Islam tentang Zuhud dan semacamnya akan menghabiskan berpuluh-puluh halaman! Cukuplah mereka malu melihat bagaimana Natsir dan keluarganya hidup! Kalau tidak juga merasa malu, sebenarnya mereka sudah sangat memalukan.

5. MENOLAK FANATISME PARTAI
Sebagaimana pengakuan dari Ahmad Fauzi Natsir, bahwa ayahnya, Natsir, tidak pernah menyuruh anggota keluarganya untuk fanatis kepada Partai Politik tertentu.[45] Pembuktian sikap Natsir yang anti-fanatisme ini sudah sangat jelas terlihat dari karya-karya beliau tentang Ukhuwwah Islamiyyah yang tidak sedikit. Seperti buku “Dakwah Komprehensif” berupa himpunan pesan-pesan dakwah M. Natsir oleh H. Mas’oed Abidin, terutama dalam artikel beliau “Persatuan adalah Soal Hati” dan “Iman sebagai Dasar Persatuan”.[46]

Bahkan, saat Partai Masyumi harus dibubarkan pada 1960, Natsir tetap ngotot untuk berdakwah melalui media barunya DDII tanpa membawa unsur-unsur Politik lagi. Bukankah ini sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Masyumi bukanlah segala-galanya bagi Natsir? Sekalipun Masyumi pernah meraih posisi yang tidak pernah diraih oleh Parpol-parpol mana pun hingga hari ini, Natsir tidak kecewa mati. Natsir tidak sampai ingin ngotot membentuk Masyumi kembali!
Sebab bagi Natsir, Dakwah tidak dipersempit oleh logo Partai atau bendera. Dakwah tidak bisa dihentikan oleh sedikitnya simpatisan atau dana, apalagi hanya karena gagal duduk di singgasana.

6. MENOLAK AJI MUMPUNG
Seorang Natsir bukan orang level kacangan yang suka pakai Aji Mumpung. Mumpung jabatnya tinggi, ‘gunakan jabatan’ semaksimal mungkin sebelum nanti turun.

Anak beliau, Ahmad Fauzi Natsir menyebutkan bahwa dia beserta saudara-saudaranya telah tegas dilarang untuk mendompleng nama beliau. Membawa-bawa nama beliau ke sini dan ke situ. Kami anak menteri, dan lain sebagainya. Bahkan sekalipun hanya mencantumkan nama Natsir di belakang nama mereka, seperti layaknya nama-nama orang pada umumnya.[47]

Padahal ini masalah yang sangat remeh di mata kita, tapi lihatlah bagaimana ketatnya seorang Natsir dalam mendidik anak-anak beliau, agar tidak manja dan pasrah pada ayah kebanggaannya! Tidak seperti mereka yang kini pasang-pasang nama ayahnya di belakang namanya, -yang sudah terkenal ditokohkan oleh masyarakat, agar saat kampanye namanya jadi lebih mentereng.

Tambah lagi, menurut pengakuan Fauzi, bahwa M. Natsir selama menjabat, hampir tidak pernah membawa anak-anaknya pergi jalan-jalan, atau bahkan hanya sekedar dimintai oleh-oleh saat urusan dinas dalam dan luar negeri.[48]
Allahu Akbar!
Sampai sekedar oleh-oleh yang dibelinya dengan uang pribadi saja tidak boleh, apalagi seperti orang-orang sekarang yang uangnya sudah gado-gado. Masuk dari sana-sini, dibilang ini ‘biaya administrasi’?!

SYARAT-SYARAT POLITIKUS MENURUT M. NATSIR
M. Natsir menekankan bahwa orang-orang yang hendak duduk di parlemen haruslah MENGUASAI HUKUM-HUKUM ISLAM dan ilmu pengetahuan modern.[49] Sebab ini masalah yang tidak bisa diremehkan. Adakah satu saja dari ketua Parpol Islam yang memberikan syarat semacam ini bagi pejabat-pejabat Partai mereka? Atau, malah syarat utamanya hanya harus kaya dan terkenal?

Cobalah lihat sekarang! Ada berapa banyak tokoh Partai Islam yang belum selesai mengaji Fiqih bab Jinayah, Hudud, dan Qadhaa’? Bahkan hanya ditanya arti dari 3 lafal ini saja, saya yakin lebih dari 50% mereka tidak bisa menjawabnya, apalagi menjelaskan dalil dan penerapannya. Tapi kok begitu bebasnya mereka naik mencalonkan diri jadi anggota legislatif, kalau tidak hanya karena kepentingan pribadi. Begitu lancangnya mereka-mereka ini sampai membawa-bawa tujuan kesejahteraan umat Islam tapi belum selesai mengaji Islam!

Menyedihkannya, justru yang duduk di parlemen dan mengatas namakan Parpol Islam hari ini adalah orang-orang yang melepas jilbab dan menghalalkannya. Mereka courtingSyari’at-syari’at Islam dengan discount-discount ngawur agar laku di pasar parlemen. Kalau mereka tidak mengusung Parpol Islam masihlah mending, tapi nyatanya malah berlomba-lomba menjadi musang berbulu ayam!

KEKUATAN PARTAI ISLAM MENURUT M. NATSIR
Setidaknya ada 2 syarat tercapainya kekuatan Partai Islam yang maksimal menurut M. Natsir:
1. MENGUTAMAKAN KUALITAS DI ATAS KUANTITAS
M. Natsir dalam artikelnya "Tauhid sebagai Dasar Pendidikan" membuahkan pemikiran mengenai pentingnya kualitas di atas kuantitas. Bagi beliau, Islam akan jaya jika kualitas keislaman umatnya baik. Beliau TIDAK SEPAKAT dengan kalangan yang menyebut Islam akan menag seiring BERTAMBAHNYA JUMLAH pengikutnya. Beliau lebih berpendapat bahwa kualitas-lah yang akan membawa kuantitas.[50]

2. BERLANDASKAN AL-QUR’AN DAN HADITS
Pada November, 1952, mingguan Hikmah asuhan M. Natsir menegur keras PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) cabang Semarang, oleh sebab salah seorang wakilnya mengeluarkan pernyataan:
"Meski merupakana organisasi Islam, PSII adalah Partai modern yang sanggup menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan tidak akan membiarkan perkataan bahwa semua umat Islam setuju dengan poligami."
Mingguan Hikmah membantah bahwa Partai Islam haruslah berlandaskan kepada Al-Qur'an dan Hadits. Dan masalah poligami adalah sesuatu yang boleh bahkan wajjib dalam keadaan-keadaan tertentu.[51]

NAMUN...
Partai bukanlah sebuah keharusan bagi seorang Natsir. Kita dapat mempelajarinya dari sikapnya pasca pembubaran Masyumi oleh Soekarno. Beliau justru tidak membentuk Partai baru untuk menyusun kekuatan baru. Namun beliau malah membentuk organisasi dakwah yang jelas terpisah dari politik, yang kita kenal dengan DDII, yang dibentuk pada tahun 1967. Lebih tegas lagi, beliau tidak ikut membuat partai baru bersama mantan tokoh-tokoh Masyumi lainnya, seperti Jusuf Wibisono dan Soekiman.[52]

Ini menunjukkan bahwa dakwah Partai tidak dapat menjamin persatuan umat Islam yang dicita-citakannya, selama tokoh-tokoh Partai masih lalai terhadap isi dakwah yang sebenarnya. Perubahan arah dakwah M. Natsir ini, setidaknya menunjukkan bahwa dakwah Partai hanya akan menghasilkan kesia-siaan dan perpecahan selama dakwah Syari'at yang hakiki ditinggalkan. Yakni, saat dakwah hanya disuarakan di parlemen dan kampanye tidak akan membawa apa-apa melainkan fanatisme, yang nyatanya kemudian dakwah ini begitu jauh dan terhijab dari lapisan bawah masyarakat awam.

Natsir ibarat seorang komandan yang kabur dari kalahnya peperangan, dan mencoba menyusun kekuatan baru untuk membalas kekalahan, tanpa harus terjun langsung ke dalam perang. Dia sadar bahwa bendera tidak dapat menyatukan pasukan yang kocar-kacir saat peperangan berlangsung. Dia sadar bahwa jiwa pasukan lebih penting daripada otot-otot mereka.

Demikianlah, Natsir bukanlah Nabi yang suci dari kesalahan. Natsir sempat tercebur dalam lumpur Hizbiyah[53] dan Politik, juga mengusung sebagian pemikiran Ikhwanul Muslimien, walau tidak seutuhnya. Sebab, setidaknya beliau masih jauh lebih baik daripada Politikus-politikus hari ini yang mengatas namakan Parpol Islam, atau bahkan Ikhwanul Muslimien versi Indonesia. Bahkan sangat jauh, sejauh timur dari barat!

Herry Nurdi, mantan pemimpin Redaksi Majalah Sabili pernah menyatakan dalam artikelnya mengenai M. Natsir:
Di tengah kondisi negeri seperti saat ini, mengenang Natsir seolah seperti mimpi. Sosok Natsir nampak begitu jauh tak terperi. Politikus kita hanya memikirkan kekuasaan, yang harus dicapai dengan segala cara.[54]

Bersambung...
Negeri Iman dan Hikmah, Yaman, 7 April 2014

REFERENSI
Al-Qur’an Al-Karim, terjemahan dari Al-Qur’an Digital versi 2.1 file (.chm)
Arsip artikel website (al-manhaj.or.id) file (.chm)
Sabili, Majalah, Edisi khusus Seratus Tahun Mohammad Natsir, Edisi ke-2 tahun XVI, 2008, PT. Dian Rakyat, Jakarta Timur
Madinier, Remy, Partai Masyumi antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral, 2013, Mizan, Bandung
Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Shaleh, Mulakhkhash Al-Qawa’ied Al-Fiqhiyyah, Maktabah Syamilah, TT.
Al-Banna, Hasan, Ke Mana Kita Menyeru, versi PDF, terjemahan Bahasa Melayu
Al-Banna, Fuad, Dr., Mabahits Fii Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah, cet. Ke-3, ‘Adn li Ath-Thaba’ah wa An-Nasyr, 2013, Taiz







[1]PRRI: Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, pemberontakan yang dimulai pada tanggal 10 Februari 1958, lihat Sabili hlm. 36-41
[2]Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih meminta untuk diadakan suatu kajian ulang tentang peranan M. Natsir, melalui naskah yang dibacakan oleh Hatta Radjasa dalam Seminar Nasional peringatan 58 tahun Mosi Integral Mohammad Natsir di Universitas Jenderal Soeirman, Rabu, 9 Juli 2008, lihat Sabili hlm. 53
[3]Pernyataan beliau terhadap Harian “As-Siyasah Al-Kuwaitiyah” tanggal 27 November 2002 dan harian Kuwait “Arab Times” tanggal 18 Desember 2002, dalam artikel Dr. Muhammad Arifin Badri dalam Majalah As-Sunnah edisi 10/Tahun XIII/1431 H./2010 M., dari arsip artikel website (al-manhaj.or.id)
[4]Pernyataan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam karyanya “Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah Al-‘Arabiyyah” hlm. 31, dalam “Mabahits fii Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah” karya Dr. Fuad Al-Banna, hlm. 20
[5]Gabungan antara manhaj Salaf dengan manhaj Harokah, tuduhan palsu yang sudah dibantah oleh beberapa ustadz Salafi, karena Al-Haq dengan Al-Bathil tidak bisa bertemu untuk menjadi jalan hidup seorang Muslim
[6]Seperti yang dinyatakan oleh tokoh PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Fahri Hamzah dalam media-media
[7]Seperti yang dilegalkan oleh fatwa keputusan NU (Nahdlatul Ulama’) tentang lokalisasi tempat pelacuran
[8]Pernyataan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang sudah sangat masyhur dalam karya-karyanya, namun lebih jelasnya telah dibantah oleh Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi dalam karyanya “Al-Qaradhaawiy Fii Miizaan”, Edisi Indonesia: Pemikiran Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam Timbangan, penerjemah: M. Abdul Ghoffar, E.M., diambil dari arsip artikel website (al-manhaj.or.id)
[9]Seperti pernyataan Amien Rais, tokoh PAN (Partai Amanat Nasional) yang lebih-lebih lagi dalam salah satu karyanya yang menggugat keberadaan Daulah Islamiyah di zaman Rasulullah
[10]Pernyataan Dr. Hidayat Nur Wahid, tokoh PKS dalam liputan berita online (voa-islam.com)
[11]Lihat “Ke Mana Kita Menyeru” karya Hasan Al-Banna versi Bahasa Melayu hlm. 5, PDF
[12]Lihat Sabili seluruh halaman
[13]Lihat Majalah Sabili hlm. 22
[14]Lihat Mulakhkhash Al-Qawa’ied Al-Fiqhiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hlm. 4
[15]Pada Pemilihan Umum 1955 yang berhasil memenangkan suara di 10 dari 15 tempat
[16]Lihat Majalah Sabili, hlm. 58
[17]Dalam Artikel beliau "Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur'an?" di surat kabar Abadi dan Hikmah, 22 Mei 1954, dalam Partai Masyumi, hlm. 309
[18]Lihat Partai Masjumi, Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral, hlm. 302
[19]Lihat Majalah Sabili hlm. 28
[20]Op. Cit., hlm. 302
[21]Ibid hlm. 325
[22]Sikapnya membuntuti Kemal Attaturk sudah sangat jelas dalam karya-karyanya, terutama dalam perselisihan pendapat dengan A. Hassan, pendiri Persis (Persatuan Islam) dan guru dari M. Natsir
[23]Tidak mungkin bergabung antara Sunnah dengan Bid’ah, antara Haq dengan Bathil, silahkan lihat fatwa gabungan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’ie dalam Majalah Al-Ashalah, edisi 2 Jumadil Akhir 1413H, penerjemah: Abu Nuaim Al-Atsari, Disalin ulang dari Majalah Al-Furqon, edisi 7/Tahun III. Hlm.39-43, dalam arsip artikel website (al-manhaj.or.id)
[24]Lihat Partai Masjumi, hlm. 22
[25]Saat Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi Presiden kedua kalinya untuk masa jabatan 2009-2014 dalam pidato pelantikan beliau
[26]Op. Cit. hlm. 177
[27]Ibid hlm. 360
[28]Ceramahnya yang berjudul "Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam  dan Masalah Integrasi Umat" diterbitkan dalam Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1987, Ibid hlm. 400
[29]Ibid hlm. 403
[30]Ibid hlm. 30
[31]UIN: Universitas Islam Negeri, STAIN: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, dan IAIN: Institut Agama Islam Negeri, bisa anda perluas lagi dengan membaca “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz
[32]Sekalipun ada perbedaan antara Natsir dan A. Hassan, di mana Natsir lebih cenderung menerima Demokrasi sementara A. Hassan menolaknya dengan tegas, lihat Ibid hlm. 38
[33]Ibid
[34]Julukan bagi orang yang berpartai, lebih-lebih bagi yang fanatis, diadopsi dari Bahasa Arab dengan akar kata (Haa’, Zay, dan Baa’)
[35]Lihat Majalah Sabili hlm. 71
[36]QS. Fushilat: 33
[37]Lihat artikel beliau "Timbulnya Tafarruq Bukanlah Karena Besarnya Jumlah Organisasi" dalam Majalah Sabili hlm. 76
[38]Ibid hlm. 73-74
[39]Seperti pernyataan Abdurrahman Abdul Khaliq yang sudah dibantah oleh Syaikh Bin Baz dalam fatwa beliau, dalam Majmu Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz jilid VIII hlm. 245, dalam arsip artikel website (al-manhaj.or.id)
[40]Sebenarnya pembahasan tentang haramnya Demonstrasi ini tidak bisa diperpanjang dalam artikel ini karena hanya akan mengaburkan pokok penjelasan yang bersifat umum tentang M. Natsir
[41]Op. Cit. hlm. 84
[42]Ibid hlm. 81
[43]Ibid
[44]Ibid hlm. 118-119
[45]Ibid hlm. 119
[46]Ibid hlm. 74-75
[47]Ibid hlm. 118-119
[48]Ibid
[49]Lihat Natsir, 2000, Islam sebagai Dasar Negara, Penerbit Media Da'wah dan Universitas Mohammad Natsir, hlm. 299, dalam Partai Masyumi hlm. 298
[50]Op. Cit. hlm. 45
[51]Op. Cit. hlm. 374
[52]Ibid hlm. 400
[53]Sikap berpartai atau fanatisme terhadap partai yang merusak kesatuan umat Islam
[54]Majalah Hlm. 17

0 komentar:

Posting Komentar