sumber gambar: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13119557121304389911.jpg
Saya
tidak ingin berbohong. Tapi dalam tulisan ini, saya merasa perlu berbohong
kepada anda. Saya perlu mengisahkan sebuah kisah bohong. Kisah yang mungkin
tidak ada di dunia ini dan saya hanya mengarang-ngarangnya. Kisah agar kita
tidak lagi membohong-bohongi hidup.
Kisah
ini saya karang-karang berada di sebuah kelas tingkatan sekolah menengah
pertama. Saat itu sebuah tahun pelajaran baru dimulai. Suasana kelas saat itu
hanyalah berisi perkenalan dan hal basa-basi lainnya. Seorang ibu guru bertanya
kepada murid-muridnya satu persatu. Pertanyaan itu berbunyi, “Apa cita-citamu?”
Satu
detik, dua detik, tiga detik berselang. Eng-ing-eng...
Terdengarlah
jawaban bermacam-macam. Mulai dari jawaban-jawaban zaman koloni Belanda, “Aku
mau jadi polisi, bu!” “Aku mau jadi persiden, bu!” “Aku dokter, bu!” sampai
jawaban-jawaban zaman koloni Lebayis dan Alayis, “Aku jadi artis aja, bu!” “Aku
buat boyband, bu!” “Aku mau ikut X-Factor, bu!”
Semua
adu beken jawaban. Adu keren. Takut temen sebangkunya lebih bagus jawabannya,
dijawab saja sekreatif-kreatifnya. Ya, biar dibilang, “Wuih, keren, si itu
cita-citanya jadi ini!”
Dalam
keadaan seperti itu pun, hati sang guru sudah jadi kebun bunga. Senengnya bukan
main. Kaget, kalau ternyata otak-otak calon muridnya itu tidak sekurus yang ia
kira. Asumsinya dua cabang; apakah murid-muridnya itu jenius dan ambisius atau
bakal rajin menggombal di kertas ujian.
Jawaban
terus bersahutan menimpali pertanyaannya. Tapi tanpa tiba-tiba, pertanyaan itu terhenti
pada satu orang muridnya. Lama sekali murid itu terdiam, sang guru tak sabar.
Ditanyainya lagi, “Apa cita-citamu?” Tapi murid itu malah makin lama terdiam.
Suasana kelas hening menunggu jawaban.
Perlahan
suaranya terdengar. Wajahnya terlihat semakin lugu.
“Maaf,
bu! Cita-cita itu apa, ya? Apakah itu masa depan yang kita inginkan? Setahu
saya, polisi, presiden, dokter, serta semua cita-cita teman-teman tadi pasti
mati. Semua berakhir dan terasa begitu pendek. Mengapa kita memilih yang
seperti itu?
Berarti
ada masa depan yang lebih depan dari masa depan itu dong, bu! Aku ingin masa
depan yang paling depan itu, bu! Aku ingin cita-cita yang tidak akan mati, bu!
Tolong beritahu aku, bu, apa cita-cita yang kekal dan abadi itu?”
Ibu
gurunya hanya terdiam. Seakan-akan tulangnya kini terbuat dari kertas. Jawaban
seorang muridnya itu telah menusuknya hingga ke dasar bumi. Ia tertunduk lebih
lugu dari wajah muridnya. Tangannya tak henti mengusap wajah yang basah,
dibanjiri air mata. Dalam hatinya ia membatin.
“Maaf,
nak! Jawaban kamu memang lebih benar. Kita sudah lama dibohongi selama ini. Cita-cita
itu hanya ada satu dari dua, ialah Surga atau Neraka.”
***
Ahh, barangkali
kebohongan itu sudah lebih dekat pada manusia lebih dari rohnya sendiri. Bahkan
seandainya isi dunia ini adalah suatu produk, maka setidaknya pada tabel
“Informasi Nilai Gizi” akan ditemukan sajian “Karbohongidrat” lebih dari 50%.
Semua kandungan buruknya saja sudah sangat-sangat demokratif bagi Majelis
Permusyawaratan Tubuh Manusia, “kebohongan dari manusia, untuk manusia, oleh
manusia”. Begitupula dalam cita-cita.
Ada
banyak kisah tentang itu. Tapi yang saya paparkan adalah kronologi pencernaan
Karbohongidrat pada jiwa manusia menurut otak kerdil saya.
Pertama, kebohongan bahwa kita mesti
mengikuti kemauan diri.
Satu
permisalan kisahnya, ada seseorang yang hobi menggambar. Angan-angannya besar,
ia bahkan ingin menambah barisan nama-nama seniman dunia. Tidak ingin kalah
dari Da Vinci. Harus lebih aneh dari Picasso. Atau lebih tenar dari Masashi
Kishimoto. Tapi di kemudian hari, ia harus terjebak menjadi pegawai negeri.
Entah itu karena orang tua, calon istri, atau makhluk aneh lainnya.
Sehingga
terbitlah pepatah-pepatah beken baru semisal, “Be yourself! Jadilah diri
sendiri, jangan membohongi diri dengan menjadi orang lain!” atau “Be different!
Berfikir berbeda!” dan lain sebagainya. Terjadi maka terjadilah.
Pepatah-pepatah itu seakan bersuara dari kitab suci mereka. Sehingga muncullah
landasan Hak Asasi Manusia (yang mencoba menyaingi Hak Asasi Tuhan) sebagai undang-undang
dasar baru, intinya “setiap manusia berhak menentukan cita-citanya sendiri”.
Lalu
tanpa diperintah, setiap manusia pun bebas act, mencak-mencak. Demi
cita-cita yang katanya maha luhur, sekalipun ternyata cita-citanya itu jadi
pelacur (beserta majas profesi satanis lainnya). Kalau ditegur orang tuanya,
diarahkan baik-baik, eh jawabnya ngotot seperti berdalil buku seperpustakaan, “Eh,
ma, pa, aku tahu yang aku lakukan, jangan paksakan aku untuk sukai apa yang gak
aku suka. Now it’s age of the freedom...please dech...” Atau jika
ditegur orang lain, dijawabnya sekonyong-konyong dengan otak kekar, “Loe,
loe! Gue, gue! Urusin diri loe dulu, deh, jangan urusin urusan orang
lain! Hus hus hus!”
Kedua, termasuk pada kisah seorang
murid dan guru di bagian awal esai. Kebohongan lebih besar adalah tujuan hidup
manusia adalah cita-cita.
Bahasa mudahnya,
abad ini otak sudah banyak yang jempalikan, jungkir-balik ora karuan.
Kepala dan kaki sulit dibedakan atas bawahnya. Memang, karena konsumsi
“Karbohongidrat” tingkat tinggi menyebabkan “Radang Selaput Hati”. Gejala-gejalanya,
ya, pengingkaran kepada bau-bau agama dan keimanan kepada hal-hal tidak berbau agama.
Kalau anda bertanya “masa iya, ya?” saya akan jawab, “ya!”
Karena
bohong sendiri dalam bahasa Arab berbunyi, kadzaba, yang memiliki makna
lain berupa kafara. Orang yang berbohong, berdusta, dan mengingkari
sesuatu, disebutkan dalam satu garis nasab bahasa bercabang dua, yakni kadzib
atau kafir. Saya tidak menuduh si fulan kafir atau umat manusia
sudah kafir semua, tidak. Tapi anda akan menemukan keakraban dua lafadz
tersebut dalam Al-Qur’an begitu banyaknya.
Dan
kalau anda baca keseluruhan ayat yang mengandung dua lafadz itu, maka
ujung-ujungnya biasanya berbunyi, ulaaaaaika ashhabun naar, mereka semua
penghuni neraka. Tapi maaf, saya tidak bermaksud menuduh kepada anda atau siapa
saja yang meremehkan ilmu agama. Hanya saja kalau ada yang tersinggung,
takut-takut memang itu dia.
Atau
andai kata kita semua tidak ada yang tersinggung misalnya. Perlu kita takuti, cita-cita
itu sudah berhasil membohongi manusia berabad-abad. Katanya dengan cita-cita
bisa bahagia, eh tapi mati juga. Katanya sudah punya mobil seribu, eh dikubur
juga orangnya. Lha, begitu, orang-orang penganut “Mbah Cita-cita” ini sudah
sering berbohong kepada diri sendiri semasa hidupnya. Kalau dia punya duit,
yang teringat pertama kali adalah cita-cita. Kalau dia bokek, yang
teringat pertama kali juga cita-cita. Yang dilakukan sepanjang hidupnya hanya
demi “Sang Hyang Cita-cita”
Saya
miris mengingat ini. Hati saya kayak dikuliti. Saya merasa orang yang ber-karbohongidrat
ahlul cita-cita tadi, hatinya sudah radang selaput tahap stadium I juta. Sudah
tidak memperhatikan ada apa nanti setelah dia mati (mentang-mentang dia belum
mati). Sudah menganggap Surga dan Neraka itu kisah dari negeri dongeng
(mentang-mentang belum ke Surga atau Neraka). Bahkan sudah menganggap Tuhan itu
hanya imajinasi manusia (mentang-mentang belum ketemu Tuhan).
Padahal
kalau dia diwawancarai dengan pertanyaan-pertanyaan berikut juga bakal bingung
tujuh puluh kepala;
Bagi
orang yang tidak percaya Tuhan, minimal bisa ditanya begini, “Anda jadi manusia
begini, siapa yang ngerakit anggota tubuh anda di dalam perut ibu anda? Orang
tua anda atau siapa? Kalau anda menjawab itu karena kelumrahan sains, saya
tanya, lebih dulu mana tercipta; sains atau manusia? Bukannya sains tercipta
karena memikirkan penciptaan manusia?”
Bagi
orang yang tidak percaya Surga dan Neraka, coba pertanyaan ini, “Anda lihat ada
banyak orang miskin di sana lalu mati kelaparan, sementara di sana ada banyak
pejabat semena-mena memakan harta rakyatnya. Anda lihat di sana ada banyak
orang melacur, menipu, merampok, sementara segelintir orang tetap berlaku baik
dan jujur, apakah mereka setelah meninggal akan hilang begitu saja tanpa
mendapat balasan apa-apa? Apakah itu hidup yang adil? Apakah tidak penghakiman
bagi mereka atas apa yang mereka perbuat selama itu?”
Bagi
orang yang tidak percaya masa setelah kematian, silahkan di-share
pertanyaan ini kepadanya, “Saya percaya hidup setelah mati dengan bukti-bukti
dari kitab suci para Utusan Tuhan, tapi anda punya bukti apa kok berani bilang
‘tidak ada kehidupan setelah mati’? Apakah anda pernah mensurvei orang-orang
yang sudah mati ke kuburan mereka, atau sesosok malaikat turun membisikkan kabar
itu kepada anda, atau itu hanya angan-angan kosong anda? Sebutkan referensi
jawaban anda lalu mari kita bandingkan dengan referensi-referensi dari kitab
suci agama saya secara kualitatif-kuantitatif!”
Tapi
bagi mereka yang hatinya sudah terkubut, pertanyaan-pertanyaan di atas hanya
akan menambah dalam sumbatan di telinga mereka.
***
So, back
to the Otentic Qur’an, Hadith and Athar! Mari kembali letakkan kesempurnaan Qur’an, Hadits dan Atsar
Sahabat di tubuh kita, lebih dekat daripada alamat cita-cita palsu kita selama
ini. Buat ketiganya kita pegang lebih kuat daripada kita memegang komputer,
laptop, tablet, handphone, dkk.! Buat seakan kita tidak enak kalau tidak
membaca Qur’an atau Hadits, seperti halnya kita tidak enak kalau tidak membaca
status atau pesan di facebook, twitter, skype, dkk.
So, Saatnya menimbang, mana yang lebih
bagus, apakah Produk Tuhan ataukah produk manusia? Mana yang lebih kita cintai,
Perkataan Tuhan ataukah perkataan manusia? Mana yang lebih kita harapkan,
popularitas di depan Tuhan ataukah di depan manusia?
Maka
tidak ada waktu lagi. Sekaranglah saatnya kita membuka telinga bagi kata-kata
Tuhan, Surga, Neraka atau kematian. Saatnya kita berpikir panjang tentang “Masa
Depan yang Paling Depan”. Saatnya kita adu ibadah, adu kecintaan kepada Tuhan.
Adu banyak gaji di Akherat. Adu gengsi di Surga mana nanti kita tinggal. Adu
takut kalau-kalau Neraka menyambut “Selamat Datang”.
Tidak
terpungkiri. Saya dan anda adalah konsumen Karbohongidrat yang sampai saat ini
masih sering kecanduan. Setiap jiwa punya kadar candu dan sadar masing-masing.
Kalkulasi kadarnya beragam, ada yang candu per minggu, tapi sadar per menit.
Atau juga mungkin ada yang candu per minggu, tapi sayang gak sadar-sadar.
Hingga saya dan anda adalah pemikir keras bagaimana bisa sembuh (walaupun sebagian
orang berpikir itu tidak menyembuhkan penyakit). Tapi dengan kondisi seperti
ini, harapan itu ada. Harapan harus muncul. Kalau tidak bisa juga, berarti ia
harus dipaksakan untuk muncul.
Kitab
suci kita mengingatkan, “tidak akan berputus asa dari Kasih Tuhan kecuali
orang-orang yang mengingkari-Nya.” Entahlah kita di kubu mana, tapi yang jelas
pesan saya untuk diri saya, “jangan pernah putus hubungan dengan Tuhan!”







0 komentar:
Posting Komentar