Blogger news

Sabtu, 21 September 2013

KARBOHONGIDRAT



sumber gambar: http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/13119557121304389911.jpg


Saya tidak ingin berbohong. Tapi dalam tulisan ini, saya merasa perlu berbohong kepada anda. Saya perlu mengisahkan sebuah kisah bohong. Kisah yang mungkin tidak ada di dunia ini dan saya hanya mengarang-ngarangnya. Kisah agar kita tidak lagi membohong-bohongi hidup.
Kisah ini saya karang-karang berada di sebuah kelas tingkatan sekolah menengah pertama. Saat itu sebuah tahun pelajaran baru dimulai. Suasana kelas saat itu hanyalah berisi perkenalan dan hal basa-basi lainnya. Seorang ibu guru bertanya kepada murid-muridnya satu persatu. Pertanyaan itu berbunyi, “Apa cita-citamu?”
Satu detik, dua detik, tiga detik berselang. Eng-ing-eng...
Terdengarlah jawaban bermacam-macam. Mulai dari jawaban-jawaban zaman koloni Belanda, “Aku mau jadi polisi, bu!” “Aku mau jadi persiden, bu!” “Aku dokter, bu!” sampai jawaban-jawaban zaman koloni Lebayis dan Alayis, “Aku jadi artis aja, bu!” “Aku buat boyband, bu!” “Aku mau ikut X-Factor, bu!”
Semua adu beken jawaban. Adu keren. Takut temen sebangkunya lebih bagus jawabannya, dijawab saja sekreatif-kreatifnya. Ya, biar dibilang, “Wuih, keren, si itu cita-citanya jadi ini!”
Dalam keadaan seperti itu pun, hati sang guru sudah jadi kebun bunga. Senengnya bukan main. Kaget, kalau ternyata otak-otak calon muridnya itu tidak sekurus yang ia kira. Asumsinya dua cabang; apakah murid-muridnya itu jenius dan ambisius atau bakal rajin menggombal di kertas ujian.
Jawaban terus bersahutan menimpali pertanyaannya. Tapi tanpa tiba-tiba, pertanyaan itu terhenti pada satu orang muridnya. Lama sekali murid itu terdiam, sang guru tak sabar. Ditanyainya lagi, “Apa cita-citamu?” Tapi murid itu malah makin lama terdiam. Suasana kelas hening menunggu jawaban.
Perlahan suaranya terdengar. Wajahnya terlihat semakin lugu.
“Maaf, bu! Cita-cita itu apa, ya? Apakah itu masa depan yang kita inginkan? Setahu saya, polisi, presiden, dokter, serta semua cita-cita teman-teman tadi pasti mati. Semua berakhir dan terasa begitu pendek. Mengapa kita memilih yang seperti itu?
Berarti ada masa depan yang lebih depan dari masa depan itu dong, bu! Aku ingin masa depan yang paling depan itu, bu! Aku ingin cita-cita yang tidak akan mati, bu! Tolong beritahu aku, bu, apa cita-cita yang kekal dan abadi itu?”
Ibu gurunya hanya terdiam. Seakan-akan tulangnya kini terbuat dari kertas. Jawaban seorang muridnya itu telah menusuknya hingga ke dasar bumi. Ia tertunduk lebih lugu dari wajah muridnya. Tangannya tak henti mengusap wajah yang basah, dibanjiri air mata. Dalam hatinya ia membatin.
“Maaf, nak! Jawaban kamu memang lebih benar. Kita sudah lama dibohongi selama ini. Cita-cita itu hanya ada satu dari dua, ialah Surga atau Neraka.”
***
Ahh, barangkali kebohongan itu sudah lebih dekat pada manusia lebih dari rohnya sendiri. Bahkan seandainya isi dunia ini adalah suatu produk, maka setidaknya pada tabel “Informasi Nilai Gizi” akan ditemukan sajian “Karbohongidrat” lebih dari 50%. Semua kandungan buruknya saja sudah sangat-sangat demokratif bagi Majelis Permusyawaratan Tubuh Manusia, “kebohongan dari manusia, untuk manusia, oleh manusia”. Begitupula dalam cita-cita. 
Ada banyak kisah tentang itu. Tapi yang saya paparkan adalah kronologi pencernaan Karbohongidrat pada jiwa manusia menurut otak kerdil saya.
Pertama, kebohongan bahwa kita mesti mengikuti kemauan diri.
Satu permisalan kisahnya, ada seseorang yang hobi menggambar. Angan-angannya besar, ia bahkan ingin menambah barisan nama-nama seniman dunia. Tidak ingin kalah dari Da Vinci. Harus lebih aneh dari Picasso. Atau lebih tenar dari Masashi Kishimoto. Tapi di kemudian hari, ia harus terjebak menjadi pegawai negeri. Entah itu karena orang tua, calon istri, atau makhluk aneh lainnya.
Sehingga terbitlah pepatah-pepatah beken baru semisal, “Be yourself! Jadilah diri sendiri, jangan membohongi diri dengan menjadi orang lain!” atau “Be different! Berfikir berbeda!” dan lain sebagainya. Terjadi maka terjadilah. Pepatah-pepatah itu seakan bersuara dari kitab suci mereka. Sehingga muncullah landasan Hak Asasi Manusia (yang mencoba menyaingi Hak Asasi Tuhan) sebagai undang-undang dasar baru, intinya “setiap manusia berhak menentukan cita-citanya sendiri”.
Lalu tanpa diperintah, setiap manusia pun bebas act, mencak-mencak. Demi cita-cita yang katanya maha luhur, sekalipun ternyata cita-citanya itu jadi pelacur (beserta majas profesi satanis lainnya). Kalau ditegur orang tuanya, diarahkan baik-baik, eh jawabnya ngotot seperti berdalil buku seperpustakaan, “Eh, ma, pa, aku tahu yang aku lakukan, jangan paksakan aku untuk sukai apa yang gak aku suka. Now it’s age of the freedom...please dech...” Atau jika ditegur orang lain, dijawabnya sekonyong-konyong dengan otak kekar, “Loe, loe! Gue, gue! Urusin diri loe dulu, deh, jangan urusin urusan orang lain! Hus hus hus!”
Kedua, termasuk pada kisah seorang murid dan guru di bagian awal esai. Kebohongan lebih besar adalah tujuan hidup manusia adalah cita-cita.
Bahasa mudahnya, abad ini otak sudah banyak yang jempalikan, jungkir-balik ora karuan. Kepala dan kaki sulit dibedakan atas bawahnya. Memang, karena konsumsi “Karbohongidrat” tingkat tinggi menyebabkan “Radang Selaput Hati”. Gejala-gejalanya, ya, pengingkaran kepada bau-bau agama dan keimanan kepada hal-hal tidak berbau agama. Kalau anda bertanya “masa iya, ya?” saya akan jawab, “ya!”
Karena bohong sendiri dalam bahasa Arab berbunyi, kadzaba, yang memiliki makna lain berupa kafara. Orang yang berbohong, berdusta, dan mengingkari sesuatu, disebutkan dalam satu garis nasab bahasa bercabang dua, yakni kadzib atau kafir. Saya tidak menuduh si fulan kafir atau umat manusia sudah kafir semua, tidak. Tapi anda akan menemukan keakraban dua lafadz tersebut dalam Al-Qur’an begitu banyaknya.
Dan kalau anda baca keseluruhan ayat yang mengandung dua lafadz itu, maka ujung-ujungnya biasanya berbunyi, ulaaaaaika ashhabun naar, mereka semua penghuni neraka. Tapi maaf, saya tidak bermaksud menuduh kepada anda atau siapa saja yang meremehkan ilmu agama. Hanya saja kalau ada yang tersinggung, takut-takut memang itu dia.
Atau andai kata kita semua tidak ada yang tersinggung misalnya. Perlu kita takuti, cita-cita itu sudah berhasil membohongi manusia berabad-abad. Katanya dengan cita-cita bisa bahagia, eh tapi mati juga. Katanya sudah punya mobil seribu, eh dikubur juga orangnya. Lha, begitu, orang-orang penganut “Mbah Cita-cita” ini sudah sering berbohong kepada diri sendiri semasa hidupnya. Kalau dia punya duit, yang teringat pertama kali adalah cita-cita. Kalau dia bokek, yang teringat pertama kali juga cita-cita. Yang dilakukan sepanjang hidupnya hanya demi “Sang Hyang Cita-cita”
Saya miris mengingat ini. Hati saya kayak dikuliti. Saya merasa orang yang ber-karbohongidrat ahlul cita-cita tadi, hatinya sudah radang selaput tahap stadium I juta. Sudah tidak memperhatikan ada apa nanti setelah dia mati (mentang-mentang dia belum mati). Sudah menganggap Surga dan Neraka itu kisah dari negeri dongeng (mentang-mentang belum ke Surga atau Neraka). Bahkan sudah menganggap Tuhan itu hanya imajinasi manusia (mentang-mentang belum ketemu Tuhan).
Padahal kalau dia diwawancarai dengan pertanyaan-pertanyaan berikut juga bakal bingung tujuh puluh kepala;
Bagi orang yang tidak percaya Tuhan, minimal bisa ditanya begini, “Anda jadi manusia begini, siapa yang ngerakit anggota tubuh anda di dalam perut ibu anda? Orang tua anda atau siapa? Kalau anda menjawab itu karena kelumrahan sains, saya tanya, lebih dulu mana tercipta; sains atau manusia? Bukannya sains tercipta karena memikirkan penciptaan manusia?”
Bagi orang yang tidak percaya Surga dan Neraka, coba pertanyaan ini, “Anda lihat ada banyak orang miskin di sana lalu mati kelaparan, sementara di sana ada banyak pejabat semena-mena memakan harta rakyatnya. Anda lihat di sana ada banyak orang melacur, menipu, merampok, sementara segelintir orang tetap berlaku baik dan jujur, apakah mereka setelah meninggal akan hilang begitu saja tanpa mendapat balasan apa-apa? Apakah itu hidup yang adil? Apakah tidak penghakiman bagi mereka atas apa yang mereka perbuat selama itu?”
Bagi orang yang tidak percaya masa setelah kematian, silahkan di-share pertanyaan ini kepadanya, “Saya percaya hidup setelah mati dengan bukti-bukti dari kitab suci para Utusan Tuhan, tapi anda punya bukti apa kok berani bilang ‘tidak ada kehidupan setelah mati’? Apakah anda pernah mensurvei orang-orang yang sudah mati ke kuburan mereka, atau sesosok malaikat turun membisikkan kabar itu kepada anda, atau itu hanya angan-angan kosong anda? Sebutkan referensi jawaban anda lalu mari kita bandingkan dengan referensi-referensi dari kitab suci agama saya secara kualitatif-kuantitatif!”
Tapi bagi mereka yang hatinya sudah terkubut, pertanyaan-pertanyaan di atas hanya akan menambah dalam sumbatan di telinga mereka.
***
So, back to the Otentic Qur’an, Hadith and Athar! Mari kembali letakkan kesempurnaan Qur’an, Hadits dan Atsar Sahabat di tubuh kita, lebih dekat daripada alamat cita-cita palsu kita selama ini. Buat ketiganya kita pegang lebih kuat daripada kita memegang komputer, laptop, tablet, handphone, dkk.! Buat seakan kita tidak enak kalau tidak membaca Qur’an atau Hadits, seperti halnya kita tidak enak kalau tidak membaca status atau pesan di facebook, twitter, skype, dkk.
So, Saatnya menimbang, mana yang lebih bagus, apakah Produk Tuhan ataukah produk manusia? Mana yang lebih kita cintai, Perkataan Tuhan ataukah perkataan manusia? Mana yang lebih kita harapkan, popularitas di depan Tuhan ataukah di depan manusia?
Maka tidak ada waktu lagi. Sekaranglah saatnya kita membuka telinga bagi kata-kata Tuhan, Surga, Neraka atau kematian. Saatnya kita berpikir panjang tentang “Masa Depan yang Paling Depan”. Saatnya kita adu ibadah, adu kecintaan kepada Tuhan. Adu banyak gaji di Akherat. Adu gengsi di Surga mana nanti kita tinggal. Adu takut kalau-kalau Neraka menyambut “Selamat Datang”.
Tidak terpungkiri. Saya dan anda adalah konsumen Karbohongidrat yang sampai saat ini masih sering kecanduan. Setiap jiwa punya kadar candu dan sadar masing-masing. Kalkulasi kadarnya beragam, ada yang candu per minggu, tapi sadar per menit. Atau juga mungkin ada yang candu per minggu, tapi sayang gak sadar-sadar. Hingga saya dan anda adalah pemikir keras bagaimana bisa sembuh (walaupun sebagian orang berpikir itu tidak menyembuhkan penyakit). Tapi dengan kondisi seperti ini, harapan itu ada. Harapan harus muncul. Kalau tidak bisa juga, berarti ia harus dipaksakan untuk muncul.
Kitab suci kita mengingatkan, “tidak akan berputus asa dari Kasih Tuhan kecuali orang-orang yang mengingkari-Nya.” Entahlah kita di kubu mana, tapi yang jelas pesan saya untuk diri saya, “jangan pernah putus hubungan dengan Tuhan!”

0 komentar:

Posting Komentar