PASAL[1] DALAM PEMAHAMAN
TERHADAP
PETUNJUK-PETUNJUK AKAN DEKATNYA PERIODE KIAMAT
Tanda-tanda bahwa periode
kiamat telah dekat menghampiri suatu zaman, sungguh ada begitu banyak yang
perlu kita sebut, ingat dan pahami. Di antaranya adalah tidak adanya orang yang
saling menolong dan membantu agama. Ini bersumber dari Anas bin Malik ra.
tentang sabda Rasulullah Saw. : “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana
manusia menjadi sabar terhadap keadaan agamanya seperti sedang memegang api.”
(HR. Tirmidzi)
Lalu di antaranya pula, dari
Anas bin Malik ra. tentang sabda Rasulullah Saw. : “Di akhir zaman akan
didapati hamba-hamba yang bodoh[2] dalam
beribadah dan para pembaca Al-Qur’an yang fasik[3].” (HR.
Abu Na’iem dalam Hilyah[4] dan HR.
Hakim dalam Mustadrak[5])
Lalu di antaranya pula, dari
Anas bin Malik ra. tentang sabda Rasulullah Saw. : “Tidak terjadi/datang
periode kiamat sampai tiba saatnya di mana manusia saling berlomba-lomba dalam
memegahkan masjid-masjid penuh kesombongan terhadap masing-masing mereka[6].” (HR. Ahmad
dalam hadis musnad [7]
kumpulannya dan Abu Daud dalam sunah-sunah[8]kumpulannya)
Selanjutnya pula, dari Anas bin
Malik ra. tentang sabda Rasulullah Saw. : “(Dari tanda-tanda dekatnya kiamat)
Terputusnya kasih sayang, berkhianatnya orang-orang yang dipercaya, dan dipercayanya
para pengkhianat.” (HR. Thabrani)
Dari Ibn Mas’ud ra., tentang
sabda Rasulullah Saw. : “(Dari tanda-tanda dekatnya kiamat) antara lain, sombongnya
keluarga dan kaum kerabat, lalu terlihatnya hilal[9] secara
nyata dengan dua tanda pembuka (bulan pada tahun hijriah), yakni … yang terbit sehingga dikatakan bahwa ia milik dua
malam.”
Dan dari tanda-tanda dekatnya
kiamat pula antara lain, orang-orang yang shalih berpulang (wafat) satu
per-satu terlebih dahulu (dari kaum lainnya), lalu menetapnya kehinaan [10] seperti
sesuatu yang gugur dari tangkai gandum maupun
kurma. (HR. Ahmad dan Bukhari)
Juga (dari tanda-tanda dekatnya
kiamat), tidak akan datang periode kiamat sampai sikap zuhud[11] tinggal
menjadi riwayat (cerita) dan sikap wara’[12] tinggal
menjadi kepura-puraan yang dibuat-buat. (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah[13])
Lalu dari Ibn Mas’ud ra.
mengenai tanda-tanda dekatnya kiamat, yakni, bila anak justru menyebabkan
kemarahan, lalu hujan justru menyebabkan hawa yang panas, serta membanjirnya
orang-orang yang keji tabi’atnya lagi kikir, dengan begitu derasnya. (HR.
Thabrani)
Dari Ibn Mas’ud ra. pula, bahwa
tidak akan terjadi hari kiamat, hingga tiba saatnya orang-orang munafik[14] menjadi
tinggi martabatnya, sehingga mampu menguasai dan mengepalai kabilah[15]nya masing-masing,
serta di saat pemimpin dari suatu kaum adalah orang yang paling buruk[16] dari
mereka, juga di saat orang-orang fasik[17]
memperoleh martabat yang mulia di antara kabilah[18]nya
masing-masing (HR. Thabrani)
Lalu dari Ibn Mas’ud ra. pula,
bahwa termasuk tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain ialah, saat mihrab-mihrab[19] diperhias
namun hati-hati manusia justru mengidap penyakit[20]. (HR.
Thabrani)
Selanjutnya dari Ibn Mas’ud ra.
pula, bahwa termasuk tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain ialah, semaraknya[21]
perdagangan sehingga seorang istri ikut membantu suaminya dalam perdagangan,
terputusnya perbuatan mengasihi (orang lain), semaraknya pena, tertampakkannya
sumpah-sumpah beriring dusta (HR. Ahmad, Bukhari) Adapun maksud dari
“semaraknya pena” adalah kiasan atas banyaknya tulisan (makalah, kitab, dsb.)
dan sedikitnya ulama’, yakni di mana mereka mencukupkan dirinya dengan
mempelajari khat (tulisan) untuk mencampuri pemerintah (dalam urusan
pemerintahan)
Dari Abu Hurairah ra., bahwa
termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain saat di mana amanah
(pemercayaan) diambil untuk mendapatkan sesuatu (harta) tanpa bersusah payah,
dan zakat diambil untuk membayar hutang, serta ilmu dipelajari terlepas dari
dedikasi (pengabdian) terhadap agama (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra. pula,
bahwa termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain saat di mana
seorang lelaki menaati wanita pasangannya namun mendurhakai ibunya sendiri, ia
lebih memilih mendekati sahabatnya namun justru menjauhkan ayahnya sendiri dari
dirinya, serta meningginya[22]
suara-suara di masjid-masjid (HR. Tirmidzi)
Lalu dari Abu Hurairah ra.
pula, bahwa termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain saat di
mana munculnya biduan-biduan (penyanyi) wanita, alat-alat musik, dan diminumnya
khamr-khamr, di mana generasi akhir dari umat tersebut melaknat generasi
pertamanya (yang menggagas dan membuatnya)
Dari Anas bin Malik ra., bahwa
termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain saat di hadapan
Dajjal terdapat tahun-tahun yang penuh tipu muslihat, dalam tahun-tahun
tersebut orang yang jujur diingkari, namun orang yang berbohong justru
dipercaya, pada saat itu pula orang yang terpercaya (kuat menjaga amanah)
dituduh berkhianat, sedangkan orang yang berkhianat justru dipercayai amanah,
serta pada saat itu pula Ruwaibudlah berbicara, dan dikatakan “Apa itu Ruwaibudlah?”
Rasulullah menjawab dalam sabdanya, “Seorang lelaki bodoh yang berbicara
mengenai perkara yang luas (umum).” (HR. Ahmad dan Bazzar)
Dari Samirah bin Jandab ra.,
bahwa tidak akan datang kiamat hingga kalian melihat perkara-perkara besar yang
belum pernah kalian perbincangkan, perkara itu begitu besar dan tidak diserupai
oleh apapun[23]
(tidak terpikirkan) dalam diri kalian, lalu kalian bertanya
(atau mungkin ditanyai) “Apakah nabi kalian pernah menyebutkan perkara
tersebut sekalipun?” lalu hingga kalian melihat gunung-gunung hancur pada
pasak-pasaknya (tempat-tempat tegaknya gunung) (HR. Ahmad dan Thabrani)
Dari Abu Hurairah ra., bahwa
dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat antara lain saat di mana suatu perkara
disandarkan (dipasrahkan) kepada orang yang bukan ahlinya, maka nantikanlah
kedatangan periode akhir zaman tersebut (HR. Bukhari)
[1] Bagian yang menjelaskan
tentang sesuatu dan memisahkan dari bagian lainnya (Mashdar dari fahsala
yang berarti qatha’ahu wa abaanahu, lihat Kamus al-Munjid fil lughah,
hlm. 575 baris ke-7 di kolom ke-2)
[2] Tidak mengetahui sya’riat,
tarikat, dan hakikat ibadahnya
[3] Keluar dari garis
kebenaran Al-Qur’an itu sendiri, diambil dari arti fasik secara lughawi,
kharaja ‘an thariiqil haqqi wa ash-shawaabi, yakni keluar dari jalan
kebenaran, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 573 baris ke-35 di
kolom ke-1
[4] Hilyah al- Auliyaa’,
kitab karangan Abu Na’iem al-Ashbahaniy
[5] Salah satu kitab karangan
Hakim
[6] Lihat Kamus al-Munjid
fil lughah, tabaahaa di hlm. 52 baris ke-21 kolom ke-2 dan tafaakhara
di hlm. 571 baris ke-17-19 di kolom ke-3
[7] Sanadnya tersambung menuju
Rasulullah Saw. dari pangkal hingga ujungnya, merupakan khabar (serupa
dengan hadis namun juga berasal dari selain sabda Rasulullah Saw. juga lebih
umum) yang kedudukannya berada di antara maqbul (diterima) dan mardud
(diterima), lihat Taiisiiru Mushthalah al-Hadits, 1985 M., hlm. 17 dan 135-136
[8] Kejadian praktikal dari
pengamalan syari’at sejak zaman Rasulullah Saw. hingga akhir zaman para sahabat,
lihat Al-Mudkhil ilaa ‘ilm al-Hadits, 1427 H., hlm. 6
[9] Ghurratul Qamar,
yaitu awal bulan dengan bentuk sabit dalam rentang waktu tanggal 1-3 atau 1-7
juga dua malam di akhir bulan atau juga di tanggal 26-27 selain dari itu
disebut dengan “Qamar”, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm.
870 baris ke-40-44 di kolom ke-1
[10] Hutsaalatun
bermakna rudzaalatun pada Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 118
baris ke-23 di kolom ke-1 yang berarti sesuatu yang terpilih kebaikannya
dan tetap keburukannya pada Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 257
baris ke-20 di kolom ke-1, lalu hlm. 835 baris 15 kolom ke-1, sedangkan jika
disandarkan pada sesuatu, maka artinya adalah yang paling buruk pada hlm. 257
baris ke-21 di kolom ke-1
[11] Menghindarkan diri dari
kenikmatan dunia demi tujuan beribadah, lihat Kamus al-Munjid fil lughah,
hlm. 308 baris ke-35-37 di kolom ke-2
[12] Menjauhi perbuatan dosa
dan menolak sesuatu yang bersifat syubhat serta tindakan maksiat, lihat Kamus al-Munjid
fil lughah, hlm. 896 baris ke-20-21 di kolom ke-3
[14] Orang yang berpura-pura
pada agamanya, lihat Kamus Al-Kaamil, hlm. 570 baris ke-9 di kolom ke-2
[15] Suatu Bani yang berasal
dari satu bapak, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 607 baris ke-24-25
di kolom ke-2, yang dengan bahasa
lainnya berarti marga, klan, atau suku, lihat KLBI
[16] Dilengkapi pula dengan
artian sifat yang keji, hina dan jahat, lihat Kamus Al-Kaamil, hlm. 140
baris ke-2 di kolom ke-2
[17] Lihat arti fasik di
catatan kaki no. 3
[18] Lihat arti kabilah di
catatan kaki no.15
[19] Majlis dan tempat berkumpul
masyarakat, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 124 baris ke-40-41 di
kolom ke-3, namun jika disandarkan kepada masjid, maka dapat berarti tempat
imam, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 125 baris ke-1-2 di
kolom ke-1
[20] Shaara Masyquuqal udzuuni
aw matsquubahaa, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 172 baris
ke-38-39 di kolom ke-1, atau bisa berarti Hadamahu wa dammarahu, al-Munjid
fil lughah, hlm. 172 baris ke-25 di kolom ke-1, yang terdapat dalam Kamus Al-Kaamil,
hlm. 104 baris ke-14 di kolom ke-1
[21] Intasyaara wa dzaa’a,
lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 584 baris ke-23 di kolom ke-2,
yang berarti tersiar, tersebar, namun juga memiliki makna khabruhu aw
fadhluhu aw sirruhu di baris ke-23, yakni berita, keutamaan dan rahasia
mengenainya
[22] Muthaawa’u rafa’a
mengikuti kata rafa’a (dalam artiannya), yakni akhadzahu
(mengambilnya) juga dapat berarti ash’ada yakni meninggikan, lihat Kamus
al-Munjid fil lughah, hlm. 272 baris ke-28-30 di kolom ke-1, namun juga
bisa berarti tinggi, naik dan hilang, dalam Kamus al-Kaamil, hlm. 146
baris ke-6 di kolom ke-2
[23] ‘Adhuma wa lam yajri
‘ala istiwaa’in, lihat Kamus al-Munjid fil lughah, hlm. 591 baris
ke-33-34 di kolom ke-1






0 komentar:
Posting Komentar