Blogger news

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 Januari 2014

BLOKADE TELINGA DARI AL-QUR’AN


sumber gambar: google
Catatan Ahmad Ubaidillah


Jangan-jangan telinga kita sudah diembargo dari asupan suara Al-Qur’an. Jangan-jangan ayat-ayatnya sudah dijadikan tersangka teroris yang dicari, dicurigai, dibunuh, dan diperangi di telinga kita. Maka ini sudah masuk tingkatan SIAGA SERATUS...!

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu MENDUSTAKANNYA?”[1]

“Sesungguhnya ayat-ayatKu (Al Quran) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu BERPALING ke belakang.”[2]

2 tindakan di atas ini, adalah bentuk dari meninggalkan Al-Qur’an.Tersinggung atau tidak, kita mesti melihatnya dari 2 sebab utamanya:
1. Blokade oleh Allah langsung
Blokade Al-Qur’an jenis ini marak terjadi pada orang-orang Kafir, Musyrik, Munafiq, Ahli Bid’ah, dan Fasiq. Atau orang-orang yang menyerupai mereka. Atau orang-orang yang akrab dengan mereka.

Pertama, blokade Allah berlaku bagi orang yang merasa RISIH dari mendengar ayat Al-Qur’an. Bahkan rasa risih ini bisa menyebabkan pelakunya diblokade dari Hidayah selama-lamanya!

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan AYAT-AYAT Tuhannya lalu dia BERPALING dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) SUMBATAN di TELINGA mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk SELAMA-LAMANYA.”[3]

Kedua, karena MELUPAKAN planning dan mindmapAKHIRAT di kepalanya. Yang memenuhi otak hanya dunia, dunia, dan dunia. Sekaligus yang ketiga, karena rasa BENCI yang mendalam.

“Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang TIDAK BERIMAN kepada kehidupan AKHIRAT, suatu DINDING yang TERTUTUP,
dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan SUMBATAN di TELINGA mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya.Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka BERPALING ke belakang karena BENCINYA.”[4]

Keempat, karena CUEK dari nasehat dan Al-Qur’an dengan berdalih, “suka-suka kami, lah, kamu urus dirimu aja sendiri”, seperti dalam ayat berikut:

“Mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya (Al-Qur’an) dan telinga kami ada sumbatan,serta antara kami dan kamu ada dinding (pembatas), maka BERBUATLAH KAMU, sesungguhnya KAMI BERBUAT (pula).’”[5]

Penderita paling akut dariblokade ini adalah:
“Mereka itulah orang-orang yang DILAKNATI Allah dan DITULIKAN-NYA TELINGA mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”[6]
Na’udzubillah, sampai-sampai

Kesimpulannya, ada 4 tindakan kepada Al-Qur’an yang bisa berakibat blokade fatal di atas:
- Risih
- Lupa Akhirat
- Benci
- Cuek.

2. Blokade oleh Jin Setan dan Manusia Setan
Blokade Al-Qur’an jenis ini marak terjadi pada mayoritas manusia, terutama para muslim sebagai target utama. Blokade ini adalah tingkatan pertama, sebelum menuju tahap blokade yang berbahaya (blokade pertama). Ada 2 makhluk yang beraksi dalam penyingkiran Al-Qur’an dari telinga: Jin Setan dan Manusia Setan. Proyek-proyek mereka antara lain:

Pertama, kata-kata indah yang menipu:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu SYAITAN-SYAITAN (dari jenis) MANUSIA dan (dan jenis) JIN, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang INDAH-INDAH untuk MENIPU (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”[7]

Waspada! Pepatah, puisi, sya’ir, angan-angan, filsafat, dan berbagai gombalan kata-kata indah bisa membuka celah bagi Syaitan untuk menyelipkan bom waktu tipuannya. Cobalah lihatpara perangkai dan penikmat kata-kata indah, seringkali tanpa sadar mereka sedang berjalan menjauhi keindahan Al-Qur’an.

Kedua, sibuk tiada henti:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘JANGANLAH kamu MENDENGAR dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah HIRUK-PIKUK terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.’”[8]

Ada yang sibuk dengan TV tapi tidak mau mengaku, atau dengan gadget, facebook dan twitter tapi berdalih silaturrahim, atau dengan shopping,fashion, dan film, tapi bilang refreshing, atau kuliner dan wisata, tapi bilang: “Apaan sih, jadi orang kok sewot!” Waduh, kena semprot.

Sibuk, sibuk, sibuk. Sibuk apa, seh? Saking sibuknya sampai terus dipikirin ketika Shalat. Sibuk itu jauh dari dengerin Al-Qur’an. Sibuk itu nangis berliter-liter karena dengerin selain Al-Qur’an. Sibuk itu berjam-jam kerjain ini dan itu, pas semenit dengerin Al-Qur’an langsung ngantuk.

“Ah, biasa aja kali... gak usah segitunya...”
“Iya, iya, tuh, orang-orang Kafir nyengir lebar-lebar, dengar kamu ngomong gitu...”

Ketiga, kontaminasilife styleorangKafir:
“Dan apabila DIBACAKAN kepada mereka AYAT-AYAT Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik TEMPAT TINGGALNYA dan lebih indah TEMPAT PERTEMUAN(nya)?"”[9]

Saat mata udah silau ngelihat Barat yang udah terlalu maju. Saat begitu teganya ngata-ngatain Islam itu kolot, sempit, beku, ndeso, melarat. Saat itulah telinga mereka pantas menjadi ladang subur buat ritual musik, film, filsafat, dan fashionagama Westernisme.

Keempat, mengubah makna ayat Al-Qur’an:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka MENDENGAR firman Allah, lalu mereka MENGUBAHNYA setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?”[10]

Serius! Torah dan Bible sekarang adalah bukti nyata korban kriminal akal picik mereka. Mereka rombak kata-kata di dalamnya. Tidak puas dengan itu, mereka mentarget korban selanjutnya adalah Al-Qur’an yang Allah jaga ini.Meski mereka tidak bisa mengubah kata-kata di dalamnya,bukankah mereka bisa mengubah makna dan pemahamannya?

Cobalah dengar suara mulut-mulut Islam Liberal yang sibuk mengunyah uang!Coba lihat betapa buta para pengagumnya, tidak melihat di dalam kepala idolanya, ada tangan-tangan Yahudi Liberal dan Kristen Liberal asyik mengetik kata-kata dan nilai transfer.

Kelima, menghina sang Nabi:
“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka MENDENGAR Al Quran dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang GILA.’”[11]

Slow down, fren, tiap orang punya opini.”
“Ya, udah, aku bilang bapak kamu gila, mau enggak?”
“Ya, jangan gitu juga kali...”
“Lha ini Nabi kita, orang yang lebih penting dari bapakmu dan bapakku.”
“Ya udah gak usah bawa-bawa bapak... santai-santai...”
“Apalagi bawa-bawa Nabi...”

Fren, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah banyak diejek-ejek oleh kaum Liberal, Orientalis dan Evangelis dengan cacian: gila darah, gila jabatan, gila wanita, dsb. dalam berjilid-jilid buku dan makalah. Dan dengan tenangnya, mereka berlindung kepada HAM (Saya baru tahu kalau ada tempat berlindung baru).Terima?

Lebih tragis lagi, sebagian orang Islam yang ngakunya pemikir justru santai-santai dengar Nabinya diejek. Bilangnya:
“Ini kan opini orang, kita harus menghargai, Nabi tidak usah dibela juga tetap menang.”
“Mas, saya gak bisa bayangkan kalau dulu Sahabat Nabi punya mental seperti sampeyan...”

So, saat orang santai mendengar Nabinya dihina-hina, saat ajaran Sunnah-nya dipandang sebelah mata, saat itu pula dia semakin santai meninggalkan Al-Qur’an dan mulai gatal mendengarkannya.

Keenam, forum penghinaan Al-Qur’an:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu MENDENGAR AYAT-AYAT Allahdiingkari dan DIPEROLOK-OLOKKAN (oleh orang-orang kafir), maka JANGANLAH kamu DUDUK beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,”[12]

Untuk mencari group diskusi yang asyik menghina ayat-ayat Al-Qur’an ini begitu mudah. Mulai dari media-media sosial, media massa, sampai organisasi mahasiswa, anda bisa lihat bagaimana seriusnya perdebatan dan penghinaan yang mereka koar-koarkan. Satu kali saja ikut duduk dalam forum mereka, akan mendatang puluhan keraguan tentang Al-Qur’an, yang kemudian membuat anda putus hubungan dengan Al-Qur’an.

“Kalau duduk bareng mereka buat dakwah gimana?”
“Kamu udah hafal Al-Qur’an belum?”
“Belum sih... tapi kan...”
“Kalau Al-Qur’an mereka serang, terus kamu gak bisa jawab gimana? Siap tanggung jawab? Hayo..? Hayo?”

Ketujuh, pembunuhan dan penyiksaan:
“Dan apabila DIBACAKAN di hadapan mereka AYAT-AYAT Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka MENYERANG orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka...”[13]

Dan inilah puncak proyek mereka. Saat anda membiarkan 6 proyek sebelumnya berjalan di sisi anda, saat itu pula proyek ke-7 ini dibangun.Bukankah Negara palsu Israel (Yahudi)telah membakar Al-Qur’an dan membantai para penghafalnya di Palestina?Atau Rezim bengis Suriah, yakni kaum Syi’ah Nushairiyah, juga Syi’ah Hutsiy di Dammaj, Yaman, yang tidak puas-puasnya membakar Al-Qur’an danmembunuh para penghafalnya. Apakah telinga kita sudah tertutup dari ini semua?

Siap cinta Al-Qur’an, berarti siap merelakan kontrak pakai telinga buat dengarin Al-Qur’an. Bahkan juga harus siap korbankan seluruh aliran nafas dan darah di dalam tubuh kita.Siap menjadi pasukan pembela Al-Qur’an di mana pun kita berada. Menjadi orang yang dipilih Al-Qur’an, -dipilih oleh perkataan Tuhan yang Menciptakan Kita.




[1] QS. Al-Mu’minuun: 105
[2] QS. Al-Mu’minuun: 66
[3] QS. Al-Kahfi: 57
[4] QS. Al-Israa’: 45-46
[5] QS. Fushilat: 5
[6] QS. Muhammad: 23
[7] QS. Al-An’am: 112
[8] QS. Fushilat: 26
[9] QS. Maryam: 73
[10] QS. Al-Baqarah: 75
[11] QS. Al-Qalam: 51
[12] QS. An-Nisaa’: 140
[13] QS. Al-Hajj: 72

SUARA AL-QUR’AN ATAU SUARA MEMATIKAN?


sumber gambar: google
Catatan Ahmad Ubaidillah

Coba heningkan telinga sejenak. Yakni saat Anda merasa risih dengan suara Al-Qur’an. Imajinasikan perlahan, bahwa saat ini ada SERIBU PETIR datang menggelegar silih berganti. Saat itu, akan sembunyi di manakah telinga kita?

“...mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (MENDENGAR suara) PETIR,sebab takut akan mati...”[1]

Orang-orang Kafir itu baru merasa takut saat mendengarkan suara petir. Sementara, saat Suara Zat yang Melepaskan Petir diperdengarkan pada mereka, di manakah rasa takut itu bersembunyi?Apakah setelah petir-Nya datang menyambar telinga kita, barulah kita ingin mendengarkan ayat-ayat-Nya?

Dan GURUH itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena TAKUT kepada-Nya, dan Allah melepaskan HALILINTAR, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki,...”[2]

Kalau kita takut kepada petir, mesti kita ingat lagi bahwa sebenarnya petir itu bersumber dari takutnya Guruh dan para Malaikat kepada Allah. Janganlah sampai kita salah meletakkan rasa takut!

Atau terserah sajalah, mau santai-santai tidak peduli sama petunjuk Al-Qur’an. Mau cuek bebek dengan Al-Qur’an. Mau gatal telinganya kalau dengarin suara orang baca Al-Qur’an, terserah sajalah. Tapi...

Tapi ingat, bahwa dari abad ke abad, Adzab Allah datang berupa SUARA! Sejak dari kaum Tsamud, kaum ‘Aad, Sodom, dan Madyan, hingga kaum Kafir di akhir zaman. Bukankah pula, tiupan Sangkakala pertama adalah SUARA yang menghancurkan seluruh alam semesta?

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, ... dan di antara mereka ada yang ditimpa SUARA keras yang MENGGUNTUR, ...”[3]

Ingat lagi! Sebab dari semua adzab SUARA itu hanya karena mereka tidak ingin mendengarkan suara para Nabi (Firman Allah).

1. Tsamud (Kaum Nabi Shaleh)
“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang LUAR BIASA.”[4]

“Maka mereka (penduduk Al-Hijr/Kaum Tsamud) dibinasakan oleh SUARA KERAS yang mengguntur di waktu pagi.”

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka (Kaum Tsamud) satu SUARA yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti RUMPUT KERING (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”[5]

”Dan SATU SUARA KERAS yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu (Kaum Tsamud), lalu mereka MATI BERGELIMPANGAN di rumahnya.”[6]

2. ‘Aad (Kaum Nabi Hud)
“Maka dimusnahkanlah mereka (Kaum ‘Aad) oleh SUARA yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) SAMPAH BANJIRmaka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.”[7]

3. Sodom (Kaum Nabi Luth)
“Maka mereka (Kaum Luth) DIBINASAKAN oleh SUARA KERAS yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.”[8]

4. Madyan (Kaum Nabi Syu’aib)
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh SATU SUARA yang mengguntur, lalu jadilah mereka MATI BERGELIMPANGAN di rumahnya.”[9]

5. Dari Seluruh Bangsa (Kaum Nabi Muhammad)
Yakni kaum Kafir di akhir zaman, mereka akan mendengarkan SUARA SANGKAKALA ISRAFIL yang pertama. Suara dahsyat itu menghancurkan seluruh alam semesta.

“Mereka tidak menunggu melainkan SATU TERIAKAN saja (Sangkakala pertama)yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.”[10]

“Tidak ada SIKSAAN atas mereka melainkan satu TERIAKAN suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya MATI.”[11]

Ngeri banget. Lantas, apakah orang yang mendahulukan suara penyanyi idolanya dibandingkan suara Al-Qur’an, merasa aman dari adzab suara? Apakah orang yang menyingkirkan suara Al-Qur’an dari playlist mp3-nya, dan menggantinya dengan ratusan musik bersyahwat akan dibiarkan begitu saja?

Dahulukanlah suara Al-Qur’an, sebelum suara yang tidak kita inginkan meluluh-lantakkan tubuh kita.

“Santai napa, bro, gak usah ekstrem gitu...”
“Gak bisalah, bro, emangnya masuk surga itu bisa sambil santai-santai, tiketnya gak diobral murah, masbro...”
“Yah, kan kita-kita masih muda nih, Al-Qur’an biar di Mesjid sono, bareng yang udah bau kuburan...”
“Wah, kayaknya Syaitan seneng banget denger kata-kata ente...”


[1] QS. Al-Baqarah: 19
[2] QS. Ar-Ra’d: 13
[3] QS. Al-Ankabut: 40
[4] QS. Al-Haaqqah: 5
[5] QS. Al-Qamar: 31
[6] QS. Hud: 67
[7] QS. Al-Mu’minun: 41
[8] QS. Al-Hijr: 73
[9] QS.  Hud: 94
[10] QS. Yasiin: 49
[11] QS. Yasiin: 29

Rabu, 15 Januari 2014

TANGGAL MAULID NABI YANG RANCU


Benarkah Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabi’ul Awwal?

Tunggu dulu, jangan terburu-buru memutuskan. Bagi kalian para Maulid Nabi Mania, sekehendaknya kalian mengetahui bahwa kalender kalian belum tentu benar. Silahkan gemetar membacanya!

Masalah tanggal kelahiran beliau adalah masalah dengan begitu banyak pendapat. Yang bahkan dikatakan, didalamnya terdapat PERSELISIHAN yang cukup PANJANG untuk dikaji. Sebabnya adalah sedikitnya sumber riwayat yang tersambung langsung kepada para sahabat, atau yang Marfu’ sampai kepada Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa mereka TIDAK MENGANGGAPNYA sebagai peristiwa penting, yang kemudian harus dikultuskan. Sebab sejak kapan ULANG TAHUN menjadi bagian dari Syari’at Islam?

Mereka tidak mengagung-agungkan hari-hari tertentu kecuali HARI YANG DITETAPKAN Allah. Hampir tidak terdengar dari para sahabat, bahwa mereka bersusah payah untuk mengetahui kapan Rasulullah lahir. Menanyakan tanggal lahir Rasulullah kepada Rasulullah langsung saja TIDAK PERNAH ADA dalam kitab-kitab Hadits. Karena para sahabat memang tidak diperintahkan untuk SIBUK MENGKULTUSKAN MAKHLUK. Bagi mereka pengkhususan hari itu dilarang, bagi mereka shalawat dengan bernyanyi itu dilarang, bagi mereka istighotsah itu do’a langsung kepada Allah, tidak pakai prosedur arwah ini dan itu.

Pantaslah, jika ada begitu banyak pendapat dalam menentukan tanggal kelahiran beliau:

1. MALAM KE-2 RABI’UL AWWAL

Ibn Katsir menyebutkan Ulama’ yang mengambil pendapat ini beserta periwayatnya:

“...kemudian Jumhur (mayoritas) berpendapat bahwa itu (kelahiran Rasul) terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, dikatakan pada malam ke-2 dari bulan tersebut, yang berkata seperti ini adalah Ibn ‘Abdil Barr dalam “Al-Isti’aab”, dan ini diriwayatkan oleh Al-Waqidi dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al-Madini.”[1]

Terdapat Atsar Sahabat yang menyebutkannya di awal bulan Rabi’ul Awwal. Saya tidak tahu, apakah maksud kata “awal” di sini adalah tanggal pertama, ataukah seminggu atau sepuluh hari pertama bulan Rabi’ul Awwal. Yang jelas, tanggal 12 HAMPIR TIDAK MUNGKIN untuk dikategorikan dalam Atsar ini, karena kedekatannya dengan “Ayyamul Bidh” (13,14, dan 15), pertengahan bulan.

Ahmad bin Humaid Al-Anshari memberitahukan kepada kami, dari Al-Mu’alla bin Abdur-Rahman dia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitahukan kepada kami dari Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah, dari Ibn ‘Abbas Radhiyallhu ‘anhuma, dia berkata:

وُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي أَوَّلِ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ، وَقُبِضَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي أَوَّلِ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin, di awal bulan Rabi’ul Awwal, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada hari Senin, di awal bulan Rabi’ul Awwal.”[2]

2. MALAM KE-8 RABI’UL AWWAL

Salah satu Ulama’ yang mengusung pendapat ini adalah Ibn Al-Muthahhir, beliau berkata:
“Kelahiran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, malam ke-8 dari Rabi’ul Awwal.”[3]

Tapi ternyata beliau tidak sendirian. Bahkan, justru ada banyak Ulama’ yang MENGUATKANNYA. Ibn Katsir menyebutkan:

“Dikatakan pula pada malam ke-8 dari bulan tersebut, ini dikisahkan oleh Al-Humaidi dari Ibn Hazm, dan ini diriwayatkan Malik, Aqil, dan Yunus bin Yazid, serta selain mereka dari Az-Zuhri dari Muhammad bin Jabir bin Math’am, dan dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dan para sejarahwan, bahwa mereka MENSHAHIHKANNYA, dan dipastikan oleh Al-Hafizh Al-Kabir Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, DIRAJIHKAN oleh Al-Hafizh Abu Al-Khaththab bin Dahyah dalam kitabnya “At-Tanwir fii Maulid Al-Basyir An-Nadzir”.[4]

Melihat nama-nama Ulama’, para Sejarahwan menshahihkannya, bahkan ada dua gelar Al-Hafizh di sana, yang salah satunya memilihnya sebagai pendapat RAJIH (kuat). Lantas apakah kemudian, kita begitu ngotot bahwa tanggal 12 adalah pendapat yang lebih kuat dibanding pendapat ini?

3. MALAM KE-10 RABI’UL AWWAL

Diriwayatkan kepada kami, dari Abi Al-‘Ainaa’, yang bersambung sampai ke Abu Ja’far Muhammad bin Ali, beliau berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada Senin malam, yakni malam ke-10 dari bulan Rabi’ul Aqqal, dan dan jarak antara malam pertengahan Muharram dengan kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 55 malam.”[5]

Adapun Ibn Katsir menyebutkan Ulama’ yang meriwayatkannya:
“Dikatakan pula pada malam ke-10 dari bulan tersebut, ini dinukil oleh Ibn Dahyah dalam kitabnya, dan diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir, dan diriwayatkan pula oleh Mujahid dari Asy-Sya’bi dst.”[6]

4. MALAM KE-12 RABI’UL AWWAL

Yang terkenal mengusung pendapat ini adalah penulis Sirah Nabawiyah terkenal: Ibn Ishaq. Barangkali, atas landasan popularitas karya beliau inilah, yang kemudian membuat para pembuat Bid’ah Maulid Nabi, -entah dari Syi’ah Fathimiyah-kah atau lainnya, memulangkan kepadanya dalih. Akan tetapi, sekalipun begitu, sayangnya tidak dapat saya temukan teks riwayat yang bersambung, baik Mursal: sampai kepada Tabi’ien, atau Mauquf: sampai kepada Sahabat. Tidak sebanding dengan pendapat lainnya yang lebih kuat.

Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Syibawaih pemimpin di daerah Moro mengabarkan, kabar Ja’far bin Muhammad An-Nisaburi kabar dari Ali bin Mahran, kabar dari Salmah bin Al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada malam ke-12 dari bulan Rabi’ul Awwal.”[7]

5. MALAM KE-17 RABI’UL AWWAL

Ibn Katsir berkata:
“Dan dikatakan pula pada malam ke-17 dari bulan tersebut, sebagaimana dinukil oleh Ibn Dahyah dari sebagian Syi’ah.”[8]

6. MALAM KE-18 RABI’UL AWWAL

Bahkan dalam pendapat ini terdapat DUA ORANG SAHABAT yang menyebutkan tanggal lahirnya. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Mushannifnya dari ‘Affan dari Sa’ied bin Minaa dari Jabir dan Ibn ‘Abbas, bahwa KEDUANYA berkata:

ولد رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الفيل يوم الاثنين الثامن عشر من شهر ربيع الأول وفيه بعث وفيه عرج به إلى السماء وفيه هاجر وفيه مات

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada Tahun Gajah hari Senin, tanggal 18 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan pada masa itu beliau diutus, dan pada masa itu beliau diangkat ke langit, juga pada masa itu beliau hijrah, dan wafat.”[9]

Ibn Katsir menyatakan:
“Dan inilah yang TERMASYHUR menurut JUMHUR (mayoritas), Wallahu a’lam.”[10]

Kalau benar perkataan Ibn Katsir, bahwa ini adalah yang termasyhur menurut Jumhur. Lalu di manakah posisi tanggal 12 sebagai perayaan Maulid Nabi dibanding kemasyhurannya?

7. MALAM KE-20/21 RABI'UL AWWAL
Ibn Katsir menyebutkan:
“Dikatakan pula pada malam ke-8 sebelum akhir dari bulan tersebut, ini dinukil oleh Ibn Dahyah dari Khath Al-Wazir Abi Raafi’ bin Al-Hafizh Abi Muhammad bin Hazm dari ayahnya.”[11]

Saya tidak tahu jumlah pasti dari bulan Rabi’ul Awwal, jadi saya tulis saja antara malam ke-20 atau ke-21.

8. MALAM DI BULAN RAMADHAN

Jikalau kita lihat Hadits Abi Qatadah yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, tentang pertanyaan seorang Arab pedalaman kepada Rasulullah, tentang puasa hari Senin, di situ kita bisa membaca bahwa hari kelahiran Rasulullah adalah hari yang sama dengan hari diturunkannya wahyu. Dan riwayat lain yang semacam ini, memang ada beberapa hadits. Hanya saja, titik perselisihan opini yang terjadi adalah apakah kesamaannya hanya pada hari Senin saja, ataukah beserta tanggal-tanggalnya.

Ibn Katsir menyebutkan penukil dan periwayatnya:
“...bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan yang dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dari Az-Zubair bin Bakaar... dia bersandarkan pada bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwahyukan kepadnya di bulan Ramadhan tanpa adanya perbedaan, dan itu terjadi saat berumur 40 tahun, maka kelahirannya terjadi pada bulan Ramadhan, dan ini memang terdapat beberapa pandangan (opini).”

KESIMPULAN

Sementara saya bukan siapa-siapa, tidak pantas bagi saya untuk ngotot membela salah satu pendapat. Biarlah saya serahkan kepada Ibn Katsir, sebagai Sejarahwan besar di masanya, untuk menyimpulkan perbedaan ini:

“Dan yang SHAHIH adalah pendapat pertama dari Ibn Hazm, malam ke-8 dari bulan tersebut, sebagaimana dinukil oleh Al-Humaidi, dan dia menegaskannya. Adapun pendapat kedua, bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan yang dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dari Az-Zubair bin Bakaar ini adalah pendapat yang sangat gharib, dia bersandarkan pada bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwahyukan kepadnya di bulan Ramadhan tanpa adanya perbedaan, dan itu terjadi saat berumur 40 tahun, maka kelahirannya terjadi pada bulan Ramadhan, dan ini memang terdapat beberapa pandangan (opini), Wallahu a’lam.”[12]

Kalau kita lihat kembali ke atas, memang pendapat yang sangat kuat adalah pendapat malam ke-8. Permasalahan pentingnya adalah tidak perlu begitu ngototnya mencari yang mana yang benar, hanya untuk melakukan Bid’ah Maulid Nabi. Di dalam kubur, kita tidak akan ditanya: “Pada tanggal berapakah Maulid Nabi seharusnya dilaksanakan?” Kita tidak dituntut untuk itu, bahkan justru yang akan dipertanyakan adalah: “Kapan Allah dan Rasul-Nya memerintahkan Maulid Nabi?”.
----------------------------
[1] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[2] Lihat Al-Fakihi, Akhbaru Makkah lil Fakihi, jilid IV hlm. 7, no. 2299
[3] Lihat Ibn Al-Muthahhir, Al-Bad’u wa At-Tarikh, Mawqi’ul Waraaq, Maktabah Syamilah, hlm. 225
[4] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[5] Lihat Al-Marzuqi, Al-Azminah wa Al-Amkinah, Mawqi’ul Waraaq, Maktabah Syamilah, hlm. 239
[6] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[7] Lihat Al-Hakim, Al-Mustadrak, jilid II hlm. 659, no. 4182, dan Al-Baihaqi, Sya’bu al-Iman, Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, jilid II hlm. 134, no. 1387
[8] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[9] Tidak dapat saya temukan, dalam Mushannaf dan Musnad Ibn Abi Syaibah, juga dalam kitab-kitab Hadits lainnya
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid