Coba
heningkan telinga sejenak. Yakni saat Anda merasa risih dengan suara Al-Qur’an.
Imajinasikan perlahan, bahwa saat ini ada SERIBU PETIR datang menggelegar silih
berganti. Saat itu, akan sembunyi di manakah telinga kita?
“...mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena
(MENDENGAR suara) PETIR,sebab takut akan mati...”[1]
Orang-orang Kafir itu baru merasa takut saat mendengarkan
suara petir. Sementara, saat Suara Zat yang Melepaskan Petir diperdengarkan
pada mereka, di manakah rasa takut itu bersembunyi?Apakah setelah petir-Nya
datang menyambar telinga kita, barulah kita ingin mendengarkan ayat-ayat-Nya?
“Dan GURUH itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para
malaikat karena TAKUT kepada-Nya, dan Allah melepaskan HALILINTAR, lalu
menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki,...”[2]
Kalau
kita takut kepada petir, mesti kita ingat lagi bahwa sebenarnya petir itu bersumber
dari takutnya Guruh dan para Malaikat kepada Allah. Janganlah sampai kita salah
meletakkan rasa takut!
Atau
terserah sajalah, mau santai-santai tidak peduli sama petunjuk Al-Qur’an. Mau
cuek bebek dengan Al-Qur’an. Mau gatal telinganya kalau dengarin suara orang
baca Al-Qur’an, terserah sajalah. Tapi...
Tapi
ingat, bahwa dari abad ke abad, Adzab Allah datang berupa SUARA! Sejak dari
kaum Tsamud, kaum ‘Aad, Sodom, dan Madyan, hingga kaum Kafir di akhir zaman.
Bukankah pula, tiupan Sangkakala pertama adalah SUARA yang menghancurkan
seluruh alam semesta?
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan
dosanya, ... dan di antara mereka ada yang ditimpa SUARA keras yang MENGGUNTUR,
...”[3]
Ingat
lagi! Sebab dari semua adzab SUARA itu hanya karena mereka tidak ingin
mendengarkan suara para Nabi (Firman Allah).
1.
Tsamud (Kaum Nabi Shaleh)
“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan
kejadian yang LUAR BIASA.”[4]
“Maka mereka (penduduk Al-Hijr/Kaum Tsamud) dibinasakan oleh
SUARA KERAS yang mengguntur di waktu pagi.”
“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka (Kaum Tsamud) satu
SUARA yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti RUMPUT KERING (yang
dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”[5]
”Dan SATU SUARA KERAS yang mengguntur menimpa orang-orang
yang zalim itu (Kaum Tsamud), lalu mereka MATI BERGELIMPANGAN di rumahnya.”[6]
2.
‘Aad (Kaum Nabi Hud)
“Maka dimusnahkanlah mereka (Kaum ‘Aad) oleh SUARA yang
mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) SAMPAH BANJIRmaka
kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.”[7]
3. Sodom (Kaum Nabi Luth)
“Maka mereka (Kaum Luth) DIBINASAKAN oleh SUARA KERAS yang
mengguntur, ketika matahari akan terbit.”[8]
4.
Madyan (Kaum Nabi Syu’aib)
“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan
orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan
orang-orang yang zalim dibinasakan oleh SATU SUARA yang mengguntur, lalu
jadilah mereka MATI BERGELIMPANGAN di rumahnya.”[9]
5.
Dari Seluruh Bangsa (Kaum Nabi Muhammad)
Yakni kaum Kafir di akhir zaman, mereka akan mendengarkan
SUARA SANGKAKALA ISRAFIL yang pertama. Suara dahsyat itu menghancurkan seluruh
alam semesta.
“Mereka tidak menunggu melainkan SATU TERIAKAN saja
(Sangkakala pertama)yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang
bertengkar.”[10]
“Tidak ada SIKSAAN atas mereka melainkan satu TERIAKAN suara
saja; maka tiba-tiba mereka semuanya MATI.”[11]
Ngeri
banget. Lantas, apakah orang yang mendahulukan suara penyanyi idolanya
dibandingkan suara Al-Qur’an, merasa aman dari adzab suara? Apakah orang yang
menyingkirkan suara Al-Qur’an dari playlist mp3-nya, dan menggantinya dengan
ratusan musik bersyahwat akan dibiarkan begitu saja?
Dahulukanlah
suara Al-Qur’an, sebelum suara yang tidak kita inginkan meluluh-lantakkan tubuh
kita.
“Santai
napa, bro, gak usah ekstrem gitu...”
“Gak
bisalah, bro, emangnya masuk surga itu bisa sambil santai-santai, tiketnya gak
diobral murah, masbro...”
“Yah,
kan kita-kita masih muda nih, Al-Qur’an biar di Mesjid sono, bareng yang udah
bau kuburan...”
“Wah,
kayaknya Syaitan seneng banget denger kata-kata ente...”







0 komentar:
Posting Komentar