Jika mata anda selama sebulan terakhir ini tidak pernah menangis.
Sepertinya ada yang perlu direfleksi. Tapi tunggu dulu, menangis untuk apakah?
Menangis karena apakah?
Kalau hanya menangis karena mendengarkan sebuah lagu, atau karena
menonton sebuah film, semua orang juga bisa menangis karena itu. Kalau hanya
menangis karena datangnya musibah atau cobaan yang terus datang bertubi-tubi,
maka anak kecil pun juga bisa menangis karena itu.
Maka lihatlah bagaimana Al-Qur’an memuliakan orang-orang yang menangis,
bukan karena apa-apa melainkan karena-Nya:
“Dan mereka MENYUNGKUR atas muka mereka sambil MENANGIS
dan mereka bertambah KHUSYU'.”[1]
Siapakah mereka? Allah menjawabnya dalam firman sebelumnya:
“Sesungguhnya orang-orang yang DIBERI PENGETAHUAN
sebelumnya apabila AL-QURAN DIBACAKAN kepada mereka, mereka menyungkur atas
muka mereka sambil bersujud.”[2]
Orang-orang yang bisa menangis karena ini adalah orang-orang yang
khusus. Spesial. Istimewa di mata Allah. Al-Qur’an begitu hidup di hati mereka.
Dan membutakan mata dari selain-Nya. Mereka ditingkatkan BERSAMA PARA NABI DAN
RASUL.
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi NIKMAT
oleh Allah, yaitu para NABI dari keturunan ADAM, dan dari orang-orang yang Kami
angkat bersama NUH, dan dari keturunan IBRAHIM dan ISRAIL, dan dari orang-orang
yang telah Kami beri petunjuk dan telah KAMI PILIH. Apabila dibacakan ayat-ayat
Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan BERSUJUD
dan MENANGIS.”[3]
Bagi mereka, SEGUNUNG EMAS pun akan mereka berikan hanya untuk
DITUKARKAN dengan SETETES AIR MATA dalam sujud dan ibadah kepada-Nya. Apa yang
lebih indah daripada tangisan karena-Nya? Tidak ada yang lebih mahal daripada
tangisan di sela-sela sujud. Tangisan yang menumpahkan ketenangan yang luar
biasa ke sekujur tubuh.
Tidakkah anda ingin termasuk dari mereka? Tapi
bagaimanakah anda ingin menjadi seperti mereka, sementara pesan-pesan Al-Qur’an
hanya anda baca sesekali. Itu pun kalau paham dan merenunginya. Namun,
sayangnya anda lebih sibuk memahami dan merenungi pesan-pesan di Facebook,
Whatsapp, dan media sosial lainnya. Lebih anehnya kemudian anda merasa, bahwa
anda bisa seperti mereka?
“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan BANYAK
MENANGIS, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”[4]
Di manakah kita dari ayat ini? Berapa banyak acara TV
yang membuat kita banyak tertawa. Butuh berapa lagi gurauan dan canda yang
selama ini membuat kita larut begadang hingga malam. Hitunglah berapa kali anda
tertawa dalam sehari, dan timbanglah dengan tetesan air mata (yang nyaris tidak
ada) dalam sehari!! Hitunglah, dan malulah pada-Nya!
Ibn ‘Abbas setidaknya memberikan kunci dari ayat
tersebut: bahwa sedikitlah kalian tertawa dalam masalah DUNIA, dan banyaklah
menangis dalam masalah AKHIRAT.[5]
Dari ini, Allah sudah menantang kita yang memiliki
mata, untuk menangis tentang Akhirat. Tapi adakah perasaan tersinggung sedikit
saat membacanya? Allah berfirman:
“Telah dekat terjadinya hari kiamat.
Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu
selain Allah.
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?
Dan kamu justru mentertawakannya, malah TIDAK
MENANGIS?”[6]
Memang hanya Dia yang bisa mengatur tangisan kita.
Sementara kita tidak peduli kepada-Nya, bagaimana pula kita bisa menangis
karena-Nya. Sementara kita meletakkan-Nya di belakang pacar-pacar kita,
ayah-ibu kita, hobi-hobi kita, dan harta-harta kita. Memang hanya Dia yang
mengatur takaran air mata kita.
“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa
dan MENANGIS,”[7]
Bahkan lebih hinanya lagi, bila mata dan hati kita
diibaratkan sebagai BATU. Allah mengkiaskan dengan begitu indahnya:
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti
BATU, bahkan lebih keras lagi.
Padahal diantara BATU-BATU itu sungguh ada yang
MENGALIR SUNGAI-SUNGAI dari padanya
dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu
KELUARLAH MATA AIR dari padanya
dan diantaranya sungguh ada yang meluncur JATUH, karena
takut kepada Allah.
Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu
kerjakan.”[8]
Bahkan batu pun, ada yang menangis begitu deras menjadi
sungai-sungai, menjadi mata air, bahkan jatuh, karena-Nya. Adakah mata kita
lebih hina dari batu???







0 komentar:
Posting Komentar