Dapatkah
anda bayangkan jika para sahabat melakukan perayaan Maulid Nabi di Masjid
Nabawi, dan Nabi Muhammad berdiri di bagian depan, lalu Abu Bakar menyanyikan
Qasidah, sedangkan Umar memukul Rebana, Utsman membagi-bagikan 10.000 Dirham
serta menanggung semua biaya, lalu Ali memimpin Istighotsah, lalu mereka semua
ber-Maulid ria sampai tengah malam. Ini tidak mungkin!!! Kalau Maulid itu
adalah Syari’at Islam, mengapa mereka sebagai para Pembawa Syari’at Islam yang
pertama kali tidak melakukannya??? Lalu dari manakah datangnya perayaan ini?
PEMBUAT BID’AH MAULID NABI
Ada 2 versi besar sejarah mengenai siapakah pembuat
Bid’ah Maulid Nabi ini:
1. PENGUASA IRBAL DARI DINASTI AYYUBIYAH
Yang memegang pendapat ini adalah As-Suyuthi, dengan
merujuk pada perkataan Ibn Katsir dalam “Al-Bidayah wa An-Nihayah”:
“Yang pertama kali melakukan perbuatan ini (perayaan
Maulid) adalah penguasa Irbal, Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’ied Kaukaburi bin
Zainuddin bin Ali bin Baktikain, salah satu dari Raja-raja yang mulia dan
pembesar-pembesar yang baik.”[1]
Muhammad Rasyid Ridha, penulis Tafsir Al-Manaar, memilih
mengikuti pendapat As-Suyuthi, beliau berkata:
“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi yang mulia telah
menjadi adat yang umum, dan termasyhur bahwa orang yang pertama membuatnya
adalah Abu Sa’ied Kaukaburi bin Abi Al-Hasan Ali bin Baktikain bangsa Turki,
yang dikenal dengan julukan Raja Besar Muzhaffaruddin Penguasa Irbal. Dia
membuatnya pada awal abad ke-7 atau akhir-akhir abad ke-6. Shalahuddin Al-Ayyubi
telah memerintahkannya untuk menjabat di Irbal sejak Dzul Hijjah tahun 580 H.”[2]
Namun
pendapat keduanya adalah PENDAPAT YANG LEMAH. Hal ini dapat dilihat dari 3 TAHAPAN
ALASAN:
TAHAPAN
PERTAMA: Imam As-Suyuthi salah memahami
teks penjelasan dari Imam Ibn Katsir yang beliau rujuk. Teks tersebut terdapat
dalam sub bab yang menerangkan biografi Raja Muzhaffaruddin Abu Sa’ied
Kaukaburi yang berbunyi:
وكان يعمل المولد
الشريف في ربيع الاول
“...dan
dia melakukan Maulid yang mulia pada Rabi’ul Awwal...”[3]
Lafal
(يعمل) berarti berbuat atau melakukan. Sehingga
lafal ini cenderung berarti melakukan sesuatu yang sudah ada terlebih dahulu,
dengan meniru atau pun menerapkan. Sebab jikalau memang Kaukaburi adalah orang
yang menggagas pertama kali, maka Ibn Katsir akan menuliskannya (احدث\يحدث), yang berarti membuat.
TAHAPAN
KEDUA: Perbuatan Bid’ah Maulid yang dilakukan oleh Kaukaburi bukanlah hal yang
baru ia buat sendiri. Ia hanya mengikuti Bid’ah yang dilakukan oleh Syaikh Umar
Al-Milaa, sebagaimana perkataan Abu Syamah Asy-Syafi’ie, seorang Ulama’ besar
dari Madzhab Syafi’ie:
“Dan
yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Perayaan Maulid Nabi) adalah Syaikh
Umar bin Muhammad Al-Milaa salah satu dari orang-orang sholeh yang masyhur,
yang dengannya kemudian DITIRU (perayaan Maulid tersebut) oleh PENGUASA IRBAL dan
selainnya.”[4]
Dari pernyataan Abu Syamah dapat diketahui, bahwa
Kaukaburi sang penguasa Irbal, hanya meniru Bid’ah yang telah dilakukan oleh
Syaikh Umar Al-Milaa tersebut.
TAHAPAN KETIGA: Ada 3 orang yang hidup di masa yang
sama, dan mereka disebut-sebut sebagai pembuat Bid’ah Maulid ini. Untuk
mengetahui siapa yang lebih berhak digelari sebagai penggagas, saya susun ketiganya
beserta tahun kelahiran dan kewafatannya, dan perinciannya:
1. Raja Abu Sa’ied Kaukaburi hidup pada 549-630 H.[5] yang
mulai mendapatkan jabatan di Irbal pada tahun, sampai meninggal pada tahun 630
H. Dia tidak dapat dikatakan sebagai penggagas, oleh sebab pernyataan Abu
Syamah Asy-Syafi’ie yang telah saya sebutkan sebelumnya, telah menggugurkannya.
2. Syaikh Umar bin Muhammad Al-Milaa, seseorang yang
tidak dapat saya temukan biografinya dalam kitab-kitab Sejarah di Maktabah
Syamilah. Sekalipun beliau sudah disebut sebagai penggagas Maulid Nabi sebelum
Raja Kaukaburi, mengapa namanya saja tidak disebutkan dalam Al-Bidayah wa
An-Nihayah karya Ibn Katsir, serta kitab-kitab Sejarah berkelas lainnya.
Bukankah aneh, jika biografi seorang penggagas Maulid Nabi tidak dapat
ditemukan dalam kitab-kitab Sejarah.
3. Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin
Ahmad Al-‘Azfi. Seseorang yang
disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membuat Maulid Nabi di Jazirah
Arab bagian Barat. [6] Dia hidup pada 557-636 H. Rentang zaman hidup yang
hampir sama dengan Kaukaburi, menunjukkan ketidakmungkinan
Juga melihat kepada pernyataan mengenai beliau pada teks
“Majalah At-Tarikh Al-‘Araby” yang saya rujuk:
... وكان أول من أحدث
ودعا إلى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف في المغرب العربي
“Dan dia (Al-‘Azfi) adalah orang yang pertama kali
MENGAJAK kepada perayaan Maulid Nabi yang mulia DI ARAB BAGIAN BARAT ( atau
yang dikenal dengan daerah Maghrib).”
Dapat dipahami bahwa lafal “mengajak” dan “di Arab
bagian Barat”, adalah dua kata yang menunjukkan bahwa dia bukanlah penggagas
Bid’ah Maulid tersebut, melainkan ia meniru, dan menerapkannya di suatu daerah.
Istilahnya dia sebatas penggagas kelas regional, atau kasarnya kelas kampung
halaman.
2. SYI’AH FATHIMIYYAH
Setelah menjelaskan bantahan tentang versi pertama
dari sejarah di atas, jelaslah sudah, bahwa versi sejarah yang kedua ini adalah
pendapat yang KUAT. Dan inilah yang dipegang oleh para Sejahrawan besar seperti:
Taqiyuddin Al-Muqrizi, -yang mengulas sejarah Mesir selama 720-an tahun
dalam karyanya “Al-Mawa’iezh wa Al-I’tibar” dan
Muhyiddin Ahmad Imam. Juga oleh mayoritas Ulama’ Saudi dan Mesir kontemporer.
Secara UMUM, sejarah yang tersohor adalah yang ditulis
Taqiyuddin Al-Muqrizi, seorang Ahli Sejarah Mesir yang dipuji-puji oleh Ibn
Hajar Al-Asqalani. Beliau menjelaskan bahwa dalang Bid’ah Maulid dan
Bid’ah-bid’ah yang hingga kini diamalkan oleh Kaum Shufi, berasal dari Syi’ah
Fathimiyyah ini. Beliau berkata:
“Para Khalifah Dinasti FATHIMIYYAH sepanjang tahunnya
memiliki Hari-hari Raya dan perayaan-perayaan, di antaranya:
- Perayaan Tahun Baru
- Perayaan Awal Tahun
- Hari Asyura’
- MAULID NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Maulid ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu
- Maulid Al-Hasan dan Al-Husain ‘alaihimas salam
- Maulid Fathimah Az-Zahra’ ‘alaihas salam
- Maulid Khalifah yang menjabat
- Malam Rajab
- Malam Nishfu Rajab
- Malam Awal Sya’ban
- Malam Nishfu Sya’ban
- Perayaan Malam Ramadhan
- Permulaan Ramadhan
- Hidangan Makanan Ramadhan
- Malam Khataman
- Perayaan Idul Fitri
- Perayaan Idul Kurban
- Idul Ghadir
- Kiswah Musim Dingin
- Kiswah Musim Panas
- Perayaan Membuka Teluk
- Hari Nairuz (perayaan Kaum Musyrik)
- Hari Ghuthas
- Hari Ulang Tahun
- Kamis ‘Adas (nama tanaman)
- Hari-hari Rukubat.”[7]
Adapun
secara KHUSUS, beberapa ahli menjelaskan bahwa pembuat Bid’ah ini adalah
AL-MU’IZZ LIDINILLAH AL-FATHIMIY, yang dia mulai berkuasa sebagai Khalifah
Dinasti Syi’ah Fathimiyyah pada tahun 362 H. Dan ini membuktikan bahwa 3 orang
yang disebut sebagai penggagas Bid’ah Maulid pada pendapat pertama adalah pendapat
yang lemah, oleh karena rentang jarak yang sangat jauh dengan mereka (200-250
tahun). Sekalipun beberapa kabar-kabar dalam kitab-kitab Sejarah hanya
menunjukkan secara umum bahwa Syi’ah Fathimiyyah yang dianut olehnya adalah
dalang dari Bid’ah ini.
Syaikh
Muhammad Muhammad Bakhits Al-Muthi’ie, mantan Mufti Mesir menyebutkan bahwa
yang pertama kali membuat perayaan-perayaan dalam 6 Maulid, -yakni: Maulid Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali, Fathimah, Hasan dan Husein
Radhiyallahu ‘anhum, serta Maulid Khalifah yang menjabat, adalah Al-Mu’izz
lidinillah pada tahun 362 H. Dan perayaan-perayaan ini terus ada hingga dihapus
setelah itu oleh Al-Afdhal, anak dari Panglima Pasukan.[8]
Dr. I’zzat ‘Uthyah juga menjelaskannya dengan
pengaruhnya pada sejarah Maulid Nabi di Irbal:
“Adapun yang pertama kali membuatnya (Maulid Nabi) di
KAIRO, Al-Mu’iz lidinillah Al-Fathimiy pada tahun 362 H., dan perayaan tersebut
berlangsung hingga seorang Panglima pasukan menghapusnya, ialah Badruddin
Al-Jamali pada tahun 488 H. di masa pemerintahan Al-Musta’li billah. Adapun
ketika Kekhalifahan beralih kekuasaan kapada anak Al-Musta’li, perayaan
tersebut (Maulid Nabi) kembali dirayakan pada tahun 495 H. Dan yang pertama
kali mengadakan perayaan ini di Irbal adalah Rajah Al-Muzhaffar Abu Sa’ied
(yang dikenal dengan Kaukaburi) di abad ke-6 atau ke-7.”[9]
LALU SIAPAKAH AL-MU’IZZ LIDINILLAH?
Dia adalah MU’AD BIN TAMIM, yang dilahirkan di
Al-Mahdiyah pada haris Senin bulan Ramadhan tahun 319 H. dia memegang tampuk
kekuasaan pada umur 22 tahun (341 H.)[10]. Pada
Jumadil Akhir tahun 358 H., pasukan Al-Mu’izz dapat memasuki Mesir di bawah
komando Jauhar Ash-Shiqili yang tidak ditemui kesusah payahannya dalam
menggabungkannya (Mesir) sebagai kekuasaan Raja-raja Ubaidiyyah.
Al-Mu’izz memimpin perpindahan pusat kekuasaan Dinasti
Fathimiyyah dengan membangung sebuah benteng di Kairo, dan kubu pertahanan di
daerah kota (Kairo). Kairo pun menjadi tempat keempat yang mereka jadikan
ibukota, setelah Fusthath dan Askar. Hingga dinasti ini musnah, Kairo tetap
menjadi pusat pemerintahan berkatnya.[11]
Adapun Jauhar Ash-Shiqili, yang dipilih oleh Al-Mu’izz
sebagai penakluk Mesir, adalah orang yang membangun (Universitas) Al-Azhar,
yang selesai pembangunannya pada tahun 361 H. agar menjadi benteng perlindungan
bagi persiapan Da’ie-da’ie Sekte (Syi’ah) Isma’iliyah Al-Bathiniyah.[12]
Jauhar Ash-Shiqili ini berceramah dengan ceramah yang
panjang, di mana di dalamnya ia berkata:
اللهم صلّ على عبدك ووليك، ثمرة النبوة وسليل العترة الهادية
المهدية، معدّ أبي تميم الإمام المعز لدين الله أمير المؤمنين، كما صليت على آبائه
الطاهرين، وسلفه المنتخبين الأئمة الراشدين
“Ya Allah berikanlah Shalawat kepada hamba-Mu dan
wali-Mu, buah kenabian dan silsilah keturunan yang memberi dan mendapat hidayah,
Mu’ad Abi Tamim Al-Imam Al-Mu’izz lidinillah, sang Amirul Mu’minin, sebagaimana
Engkau memberi Shalawat kepada leluhur-leluhurnya yang suci, orang-orang yang
mendahuluinya yang terpilih sebagai pemimpin-pemimpin yang mendapat petunjuk.”[13]
Abu Syamah Al-Maqdisi mengomentari do’a ini:
“Telah BERDUSTA MUSUH ALLAH YANG LAKNAT INI. Tidak ada
kebaikan di dalamnya (dirinya), tidak juga pada orang-orang yang mendahuluinya
secara keseluruhan, tidak juga pada anak-anak keturunan setelahnya, dan
keturunan kenabian yang suci dari mereka melalui Al-Mu’izz lidinillah...”[14]
Dia juga menjelaskan:
“Dan telah jelas nasab mereka ini (Yahudi atau Majusi,
seperti yang ia sebutkan pada paragraf sebelumnya), dan terang pula kebengkokan
mereka, juga perbuatan mereka dalam penyimpangan dan permusuhan kepada Islam,
yakni Jama’ah kaum Salaf dari para Imam dan Ulama’.”[15]
SEKILAS TENTANG DINASTI FATHIMIYYAH
Dinasti Syi’ah Fathimiyyah berkuasa dalam rentang
zaman 307-567 H. Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie mengatakan:
“Masa pemerintahan Dinasti Fathimiyyah berlangsung
selama 260 tahun, di antaranya 52 tahun di daerah Maghrib, lalu 208 tahun di
Mesir. Jumlah keseluruhan Khalifahnya ada 14 Khalifah, yang pertama adalah
Ubaidillah Al-Mahdi, dan yang terakhir adalah Al-‘Adhid yang meninggal di Mesir
pada Hari Asyura’ tahun 567 H. Dengan kematiannya pun musnahlah Dinasti
Fathimiyyah dari daerah Timur dan Barat. Adapun akhir dari mereka berada di
tangan sang pahlawan, Shalahuddin Al-Ayyubi.”[16]
Adapun para Ulama’ Ahlu As-Sunnah banyak menyebut
Syi’ah Fathimiyyah dengan penisbatan kepada Ubaidillah Al-Mahdi, yakni dengan
sebutan BANI UBAID AL-QADDAH, seperti perkataan Abu Syamah Al-Maqdisi:
“Dan setiap orang Wara’ dari mereka (Ulama’ Ahlu
As-Sunnah) tidak memberi nama mereka melainkan BANI UBAID AL-AD’IYAA’, yakni
(karena) mereka mengklaim Nasab (keturunan Rasul) yang tidak mereka miliki.”[17]
Abu Syamah Al-Maqdisi menjelaskan perihal
Khalifah-khalifah dari Dinasti Fathimiyyah ini:
“(Seluruhnya) ada 14 Khalifah, 3 dari mereka
(kepemimpinannya) berada di Afrika, dan mereka digelari dengan Al-Mahdi,
Al-Qaa’im, Al-Manshur. Adapun 11 (sisanya) memimpin di Mesir, dan mereka
digelari dengan Al-Mu’izz, Al-‘Aziz, Al-Hakim, Azh-Zhahir, Al-Mustanshir,
Al-Musta’lii, Al-Aamir, Al-Haafizh, Al-Faaiz, Al’Aadhid. Mereka mengaku-aku
kesyarifan (keturunan Rasulullah), sementara NASAB mereka sampai kepada orang
MAJUSI ATAU YAHUDI, hingga hal ini tersohor di antara kalangan awam. Sehingga
mereka justru menyebutnya sebagai Dinasti Fathimiyyah atau Dinasti Alawiyyah.
Padahal ini adalah Dinasti Yahudiyah atau Majusiyah Bathiniyah yang Atheis. Dan
dari kelancangan mereka bahwa mereka memerintahkan kepada para Khatib untuk
menyatakan (kesyarifan) mereka di Mimbar-mimbar, dan menulisnya di
tembok-tembok Masjid, dsb.”[18]
Dari catatan sejarah ini, kita bisa melihat bahwa
Dinasti Ayyubiyah yang menganut ajaran Sunni tidak sepakat dengan Dinasti
Syi’ah Fathimiyyah, dengan bukti bahwa penaklukan Shalahuddin Al-Ayyubi adalah
akhir dari kekuasaan mereka. Lalu bagaimana bisa, ajaran yang dianut oleh musuh
Shalahuddin Al-Ayyubi, seperti Maulid Nabi ini, bisa justru disemarakkan oleh
beliau untuk menyemangati pasukan dalam Perang Salib, seperti yang diklaim para
Shufi???
WUJUD PERAYAAN MAULID SYI’AH FATHIMIYYAH
Bid’ah Maulid Nabi yang digagas Fathimiyyah ini bukan
berita bohong. Dikisahkan berbagai penggambaran bagaimana para Khalifahnya
menghadiri Maulid tersebut. Di antaranya Ibn Ath-Thawir berkata:
“Disebutkan
kehadiran Khalifah dalam 6 Maulid di berbagai sejarah yang berbeda-beda, dan
tentang apa yang dia keluarkan (dari sedekah) di dalamnya. Yakni Maulid Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib,
Maulid Fathimah ‘alaihaas salam, Maulid Al-Hasan dan Maulid Al-Husein ‘alaihimas
salam, dan Maulid Khalifah yang memimpin. Kehadiran beliau tersebut menunjukkan
nampaknya beliau terjun, dan lebih dekat kepada tanah wilayah Kabilah
Fakhruddin Jaharkas, juga Penginapan Al-Mustajid. Dan jika datang hari ke-12
dari Rabi’ul Awwal, memerintahkan untuk diproduksi di Dar Al-Fithrah dari 20
kuintal gula kering menjadi manisan-manisan kering dari yang paling asli, yang
kemudian memenuhi 300 baki dari tembaga...”[19]
Al-Muqrizi
menjelaskan dari sudut pandang objek sejarah:
“Dia
(seseorang) berkata: Memasuki Rabiul Awwal, dan kami memulainya dengan sesuatu
yang mulia dari bulan tersebut, yakni peringatan Maulid Sayyid bagi kaum
terdahulu dan terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ke-13
dari bulan tersebut. Dan dia mengeluarkan apa yang ada dengan pajak sedekah
dari harta para penasehat secara khusus sebanyak 6.000 Dirham, dan dari
bagian-bagiannya, yakni dari tempat fithrah, sebanyak 40 baki fithrah, dan dari
perbendaharaan dengan pajak para pengurusnya, dan Sudnah milik majelis
permusyawaratan yang mulia yang terletak di antara gunung dan pekuburan tempat
anggota keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengisi buah
badam dengan madu, dan minyak wijen bagi setiap anggota majelis
permusyawaratan, serta apa saja yang menjadi manajemen pemisahan (sedekahnya).
Raja Ibn Muyassir melepaskan 400 kati Halawah (manisan) dan 1.000 kati roti.”[20]
Seperti
perkataan Dr. Izzat di awal pembahasan, bahwa memang ada seorang yang
mendapatkan hidayah dengan MENGHAPUS PERAYAAN MAULID-MAULID ini, Al-Muqrizi
menjelaskan sejarah ini dengan rinci:
“Diaberkata:
dan AL-AFDHAL anak dari Komandan pasukan telah menghapus 4 perkara yang
diperintahkan ayahnya: peringatan (Maulid) Nabi, (Maulid) Ali, (Maulid)
Fathimah, dan (Maulid) Imam yang memimpin, serta segala yang bersifat peduli
dengannya. Kemudian sampai lama masa pemerintahannya, hingga peringatan
tersebut dilupakan. Kemudian para guru bermaksud memperbaharui peringatan
tersebut, (menyampaikannya) kepada Khalifah sebagai penegak hukum-hukum Allah.
Mereka membantah Hadits yang digunakannya (Khalifah) mengenai peringatan
tersebut, dan mereka memperbagus presentasi-presentasi kepada para menteri akan
sebab-sebabnya, dan pengembalian perihal (perayaan) tersebut, serta menegakkan
keamanan dan pemungutan pajak (sedekah) di dalamnya (perayaan Maulid). Maka
beliau mengabulkan hal tersebut, dan melakukan apa yang telah disebutkan tadi.”[21]
GERAKAN BID’AH FATHIMIYYAH
Ternyata, untuk menguatkan kekuatan Dinasti Syi’ah
Fathimiyyah, mereka tidak bisa mendakwahkan sesuatu selain dakwah kepada
perayaan-perayaan Bid’ah. Terbukti bahwa dakwah Bid’ah ini kemudian masuk ke
kota suci Makkah. Muhyiddin Ahmad Imam, penulis Sejarah Makkah menyebutkan:
“Diketahui
di MAKKAH terdapat banyak Hari-hari Raya baru berupa dampak dari Bid’ah-bid’ah
kaum (Syi’ah) Fathimiyyah, seperti MAULID NABI, Maulid Sayyidah Fathimah,
Maulid Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aminah, Maulid Ali, Asyuraa’, juga Rabu
terakhir bulan Shafar (REBO WEKASAN), dsb. yang Bid’ah-bid’ah tersebut TERJADI
pada masa PEMERINTAHAN FATHIMIYYAH.”[22]
Bagaimana
bisa kota suci Makkah, dimasuki amalan-amalan Bid’ah yang berasal dari Syi’ah
tersebut? Semua berasal dari hubungan antara orang-orang yang mengaku Syarif
(keturunan Rasul melalui Ali) dengan Dinasti Syi’ah Fathimiyyah. Maka tak
heran, sejak terjadinya Bid’ah Maulid di Kiblat Umat Islam ini, mulailah
tersebar secara cepat perayaan Bid’ah ini ke seluruh negeri.
Muhyiddin
Ahmad Imam menjelaskan hubungan mereka dengan Syi’ah Fathimiyyah:
“Kaum
(Syi’ah) Fathimiyyah muncul dari Afrika bagian Utara, dan menguasai Mesir pada
tahun 358 H./968 M. Kemudian membentang kekuasaannya hingga ke tanah Syam dan
Palestina, dan pada saat itu pemerintahan di Makkah dikuasai oleh pembesar dari
para Syarif (keturunan Rasul) AL-HUSAIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN AL-HUSAIN. Yang
dengan itu diserahkanlah kekuasaan hukum tertinggi kepada para Syarif, dan
Makkah berada di bawah naungan hukum para Syarif, yang setelah itu menjadi
berselisih. Terkadang mereka menunjukkan loyalitasnya kepada Kaum ‘Abbasiyah,
dan terkadang kepada kaum Fathimiyyah di Mesir...”[23]
Beliau
juga menyebutkan ketidakpantasan para Syarif memimpin Makkah:
“Para Syarif tersebut hanya memerhatikan
kemuliaan diri mereka sendiri dan pangkat-pangkat mereka. Mereka juga memutuskan
untuk menuntut masyarakat umum untuk MENSUCIKAN (mengkultuskan) mereka beserta
menampakkan keagungan mereka dalam majelis-majelis, arak-arakan, serta
pesta-pesta mereka, yang semua itu tidak pernah ada di Mekkah sebelum
ditambahkannya penghormatan oleh Khatib saat Khuthbah Jum’at, dan munculnya BID’AH-BID’AH
YANG BANYAK.”[24]
Lalu apakah seluruh penduduk Makkah rela dengan adanya
Bid’ah ini? Beliau menyatakan bahwa masih ada penduduk yang mempertahankan
ajaran Sunnah, yang terus ditekan oleh pengawasan para Syarif:
“Kelemahan
Ilmiah ini terus berlangsung di Mekkah oleh karena pengawasan (mereka), dan
tidak ada dari para Ulama’ yang menampakkan (kekuatan ilmiahnya) kecuali
anak-anak dari sebagian rumah yang mendapatkan warisan ilmu dan Khutbah Jum’at,
seperti di rumah ATH-THABARI.”[25]
HUBUNGAN DINASTI FATHIMIYYAH DENGAN SYI’AH RAFIDHAH
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti Kerajaan Saudi
Arabia menyatakan bahwa Bid’ah Maulid Nabi berasal dari Syi’ah Fathimiyyah yang
sejatinya adalah Syi’ah Rafidhah:
“...Kemudian mereka (FATHIMIYYAH) membuat-buat Bid’ah
begitu banyak, di antaranya: “Bid’ah-bid’ah Maulid, mereka berkata: ‘bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir di bulan Rabi’uul Awwal, maka wajib bagi
kita untuk membuat Bid’ah perayaan atas kelahirannya, dan kelahiran Fathimah,
Hasan, Husain, dan Ali Radhiyallahu ‘anhu’. Maka mereka membuat Bid’ah yang
belum pernah diturunkan perintahnya oleh Allah. Dan mereka berasal dari Syi’ah
Rafidhah. Mereka mengatasnamakan Islam, namun batin mereka adalah Syi’ah Rafidhah,
dari orang-orang yang mengokohkan fanatisme kultus kepada Ahli Bait (keluarga
Nabi). Adapun Ibadah-ibadah mereka yang tidak kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sehingga merekalah yang merayakan 5 perayaan Maulid: Maulid Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Ali, Husain, Hasan, Fathimah, (dan ditambahkan Maulid milik)
pemimpin mereka yang ada pada saat itu, yang menjadi Imam dan Khalifah bagi
mereka.”[26]
Apakah perkataan ini hanya sekedar hiasan lisan?
Tidak, kedua sekte ini memang memiliki hubungan yang sangat erat. Ubaidillah
Al-Mahdi, sebagai Khalifah pertama Dinasti Fathimiyyah ini, adalah seorang
Syi’ah RAFIDHAH (297–322 H.).[27]
Pernyataan Syaikh Abdul Aziz
bin Baz ini sesuai dengan perkataan Al-Qadhi Al-Baqillani dalam karyanya “Kafsu
Al Asraar wa Hatki Al Atsaar” yang menunjukkan penolakannya terhadap mereka (pengikut
Ubaidillah Al-Mahdi: Syi’ah Fathimiyyah) dan menjelaskan tentang
kejelekan-kejelakan mereka. Dia berkata:
"Mereka adalah kaum yang
menampakkan faham Rafiidhah secara lahir dan menyembunyikan kekafiran."[28]
SIAPAKAH UBAIDILLAH AL-MAHDI, KHALIFAH PERTAMA DINASTI
FATHIMIYYAH?
Al Qadhi Abu Bakar Al Baqilani
mengatakan:
"Al Qaddah, yakni kakek
Ubaidillah yang menamakan dirinya Al-Mahdi sejatinya dia adalah seorang MAJUSI".[29]
Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Ath-Thayyib,
mengungkap mereka dalam karya pertamanya, “Kasyfu Asrar Al-Bathiniyyah” tentang
kebathilan Nasab mereka kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Al-Qaddah (Ubaid,
Khalifah pertama Syi’ah Fathimiyyah) yang mengambil Nasab kepadanya adalah
orang yang mengaku-aku, dia PENIPU PENDUSTA, dan dia ORANG YANG PALING SESAT di
antara Da’ie-da’ie kaum (Syi’ah) Qaramithah, Semoga Allah melaknat mereka.[30]
Imam As-Suyuti dalam Tarikh Khulafa' berkata:
"...bahkan sejatinya kakek mereka adalah MAJUSI".[31]
Al-Hafizh Adz-Dzahabi juga mengatakan:
"Para peneliti dan pengamat sejarah sepakat bahwa
sesungguhnyavUbaidillah Al Mahdi bukan orang baik."[32]
KEJAHATAN SYI’AH FATHIMIYYAH
Sebagaimana Syi’ah-syi’ah lainnya, yang mengaku
mengikuti para Ahli Bait, yang mereka klaim berasal dari keturunan Ali, dan
tidak menganggap Ahli Bait dari selain mereka. Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani
menjawabnya, dengan membantah pemikiran Ibn Khaldun yang menetapkan bahwa
Syi’ah Fathimiyyah memiliki nasab keturunan kepada Rasulullah:
“Adapun Ibn Khaldun, karena kecondongannya kepada
keluarga Ali, dia menetapkan nasab Fathimiyyah kepada mereka (keluarga Ali).
Sementara itu telah masyhur KERUSAKAN AKIDAH Fathimiyyah, dan sebagian mereka
telah bersandar kepada orang-orang ZINDIQ, dan MENGAKU-AKU TUHAN, seperti
Al-Hakim. Adapun sebagian dari mereka juga sampai pada FANATISME AKUT kepada
Sekte RAFIDHAH. Hingga di zaman mereka, TERBUNUH beberapa kelompok dari AHLU
AS-SUNNAH.”[33]
Beliau pun menyimpulkan bahwa mereka bukan dan TIDAK
PANTAS menjadi keturunan Ali:
“Mereka (FATHIMIYYAH) terang-terangan MENGHINA SAHABAT
dalam Masjid-masjid Jami’ dan perkumpulan-perkumpulan mereka. Kalaupun mereka
(berlaku) seperti ini, kemudian mereka benar-benar berasal dari keluarga Ali,
maka melekatlah CELAAN kepada keluarga Ali.”[34]
Siapa pula yang percaya jikalau orang-orang yang
menghina dan membunuh orang-orang yang membela Abu Bakar dan Umar adalah para
keturunan Ali. Ini penghancuran Islam dari dalam secara bertubi-tubi. Dari
Kerusakan Akidah mereka, Kezindiqan mereka, bahkan kesesatan dengan mengaku
sebagai Tuhan, serta pembelaan mereka kepada Rafidhah, adakah anda masih ingin
menganggapnya sebagai keturunan Ali yang mulia? Sungguh Ali dan keluarga
Rasulullah berlepas diri dari ini semua.
Abu Hamid Al Ghazali dalam “Fadhail al-Mustadzhiriyah
wa Fadahil al Bathiniyah” berkata:
"Secara
lahir mereka RAFIDHAH, tetapi batinnya KAFIR MUTLAK!!"[35]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
ketika ditanya tentang mereka, beliau menjawab:
"Mereka adalah orang yang
paling fasik dan paling kufur. Siapa yang memberi kesaksian bahwa mereka adalah
orang beriman dan takwa atau benar nasabnya, maka dia telah bersaksi tentang sesuatu
yang tidak diketahuinya.[36]
Yusuf Ar Ru'yani berkata:
“Para ulama Qayruwan sepakat
bahwa orang-orang dari Bani Ubaid adalah orang-orang MURTAD DAN ZINDIQ karena
mereka melakukan penentangan terhadap syari'ah.”
Ulama’ yang membatalkan nasab
mereka adalah Ibnu Jauzi, Abu Syamah, Al-Qadhi bin Khalikan. Adapun Ulama’ yang
menulis buku khusus dalam membongkar kedok mereka adalah Al-Qadhi Al Baqillani
yang mengatakan mereka adalah keturunan MAJUSI dan aliran mereka lebih
berbahaya dari
Sekte
Al-Ghaliyah. Begitu juga Abu Ya’la dalam “Al-Mu’tamad” yang menjelaskan
KEZINDIKAN DAN KEKAFIRAN mereka.
[1] Lihat As-Suyuthi, Al-Haaawi lil-Fatawaa li
As-Suyuthi, Maktabah Syamilah, jilid I hlm. 272
[2] Lihat Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa Ash-Shufiyah,
jilid XXVI hlm. 180
[3] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah,
jilid XIII hlm. 136
[4] Lihat Abu Syamah, Al-Baa’its ‘alaa inkari
al-Bida’ wa al-Hawadits, hlm. 16, dalam Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa Ash-Shufiyah,
jilid XXVI hlm. 180
[5] Lihat Wafiyaatul A’yaan jilid IV hlm. 120,
dalam Abdullah bin
Abdul Aziz Ahmad At-Tuwaijiry, Al-Bida’ Al-Hauliyah, jlid I hlm. 143
[6] Lihat Majalah at-Tarikh al-‘Araby, Maktabah
Syamilah, hlm. 777-778
[7] Lihat Taqiyuddin Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa
Al-I’tibar bi Dzikri al-Khithath wa al-Atsar, jilid I hlm. 490, dalam Isma’iel
Al-Anshary, Al-Qaul Al-Fashl fii Hukmi Al-Ihtifal bi Maulidi Khairi Rasul, hlm.
64-72, dalam Abu Mu’adz As-Salafi, Ar-Radd ‘alaa Syubhat Man Ajaaza Al-Ihtifal
bil Maulid, hlm. 9 dan Ursyaif Multaqa Ahli Al-Hadits, Maktabah Syamilah, hlm.
16.238
[8] Lihat Ali bin Naif Asy-Syuhud, Mawsu’ah
al-Buhuts wa al-Maqaalaat al-Islamiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 5
[9] Lihat Izzat ‘Uthyah, Dr., Al-Bid’ah Tahiduhaa
wa Mawqifu Al-Islam minhaa, hlm. 481,dalam Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa
Ash-Shufiyah, jilid XXVI hlm. 180
[10] Lihat Muhammad bin Ali bin Hammad Abu
Abdillah, Akhbaru Muluk Bani Ubaid wa Siratuhum, Daru Ash-Shahwah, hlm. 83
[11] Lihat Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa Al-I’tibar,
Maktabah Syamilah, jilid I hlm. 438
[12] Lihat Muhammad Muhammad Ash-Shalabiy, Dr.,
As-Sirah Az-Zankiyah, Maktabah Syamilah, jilid II hlm. 317
[13] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii
Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] Lihat Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie, Ab’aadu
At-Tahaaluf Ar-Rafidhi Ash-Shalibi fi Al-‘Iraqi wa Atsarihi ‘ala al-Manthiqah,
Maktabah Syamilah, hlm. 23
[17] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii
Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[18] Ibid
[19] Lihat Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa Al-Ikhtibar,
Mawqiul Waraaq, Maktabah Syamilah, jilid II hlm. 49
[20] Ibid
[21] Ibid
[22] Lihat Muhyiddin Ahmad Imam, Fii Rihabi Al-Bait
Al-‘Atiq, Daar Al-Qurthubah li Ath-Thab’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzie’, hlm. 39
[23] Ibid
[24] Ibid
[25] Ibid
[26] Lihat Abdul Aziz bin Baz, Durus li Asy-Syaikh
Abdul Aziz bin Baz, Mawqi’u Syubkah Al-Islamiyah, Maktabah Syamilah, jilid IV
hlm. 10
[27] Lihat Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie, Ab’aadu
At-Tahaaluf Ar-Rafidhi Ash-Shalibi fi Al-‘Iraqi wa Atsarihi ‘ala al-Manthiqah,
Maktabah Syamilah, hlm. 23
[28] Lihat Ibn Katsir, Al Bidayah wa Nihayah jilid
XI hlm. 387 dalam Bid'a Hauliyah hlm. 141, Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi
Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 16
[29] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid
Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 7
[30] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii
Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[31] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid
Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 7
[32] Ibid hlm. 8
[33] Lihat Khalid Kabir ‘Ilaal, Akhthaa’u Ibn
Khaldun fii Kitabihi Al-Muqaddimah, Daar Al-Imam Malik, hlm. 167
[34] Lihat Khalid Kabir ‘Ilaal, Akhthaa’u Ibn
Khaldun fii Kitabihi Al-Muqaddimah, Daar Al-Imam Malik, hlm. 167
[35] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid
Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 17
[36] Dinukil dari Bid'a Hauliyah hlm. 141 dalam Abu
Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 17







0 komentar:
Posting Komentar