Blogger news

Senin, 13 Januari 2014

SEJARAH HAPPY BIRTHDAY NABI

sumber gambar: google


Artikel Ahmad Ubaidillah


Dapatkah anda bayangkan jika para sahabat melakukan perayaan Maulid Nabi di Masjid Nabawi, dan Nabi Muhammad berdiri di bagian depan, lalu Abu Bakar menyanyikan Qasidah, sedangkan Umar memukul Rebana, Utsman membagi-bagikan 10.000 Dirham serta menanggung semua biaya, lalu Ali memimpin Istighotsah, lalu mereka semua ber-Maulid ria sampai tengah malam. Ini tidak mungkin!!! Kalau Maulid itu adalah Syari’at Islam, mengapa mereka sebagai para Pembawa Syari’at Islam yang pertama kali tidak melakukannya??? Lalu dari manakah datangnya perayaan ini?

PEMBUAT BID’AH MAULID NABI
Ada 2 versi besar sejarah mengenai siapakah pembuat Bid’ah Maulid Nabi ini:
1. PENGUASA IRBAL DARI DINASTI AYYUBIYAH

Yang memegang pendapat ini adalah As-Suyuthi, dengan merujuk pada perkataan Ibn Katsir dalam “Al-Bidayah wa An-Nihayah”:
“Yang pertama kali melakukan perbuatan ini (perayaan Maulid) adalah penguasa Irbal, Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’ied Kaukaburi bin Zainuddin bin Ali bin Baktikain, salah satu dari Raja-raja yang mulia dan pembesar-pembesar yang baik.”[1]

Muhammad Rasyid Ridha, penulis Tafsir Al-Manaar, memilih mengikuti pendapat As-Suyuthi, beliau berkata:
“Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi yang mulia telah menjadi adat yang umum, dan termasyhur bahwa orang yang pertama membuatnya adalah Abu Sa’ied Kaukaburi bin Abi Al-Hasan Ali bin Baktikain bangsa Turki, yang dikenal dengan julukan Raja Besar Muzhaffaruddin Penguasa Irbal. Dia membuatnya pada awal abad ke-7 atau akhir-akhir abad ke-6. Shalahuddin Al-Ayyubi telah memerintahkannya untuk menjabat di Irbal sejak Dzul Hijjah tahun 580 H.”[2]

Namun pendapat keduanya adalah PENDAPAT YANG LEMAH. Hal ini dapat dilihat dari 3 TAHAPAN ALASAN:
TAHAPAN PERTAMA:  Imam As-Suyuthi salah memahami teks penjelasan dari Imam Ibn Katsir yang beliau rujuk. Teks tersebut terdapat dalam sub bab yang menerangkan biografi Raja Muzhaffaruddin Abu Sa’ied Kaukaburi yang berbunyi:
وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول
“...dan dia melakukan Maulid yang mulia pada Rabi’ul Awwal...”[3]

Lafal (يعمل) berarti berbuat atau melakukan. Sehingga lafal ini cenderung berarti melakukan sesuatu yang sudah ada terlebih dahulu, dengan meniru atau pun menerapkan. Sebab jikalau memang Kaukaburi adalah orang yang menggagas pertama kali, maka Ibn Katsir akan menuliskannya (احدث\يحدث), yang berarti membuat.

TAHAPAN KEDUA: Perbuatan Bid’ah Maulid yang dilakukan oleh Kaukaburi bukanlah hal yang baru ia buat sendiri. Ia hanya mengikuti Bid’ah yang dilakukan oleh Syaikh Umar Al-Milaa, sebagaimana perkataan Abu Syamah Asy-Syafi’ie, seorang Ulama’ besar dari Madzhab Syafi’ie:
“Dan yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Perayaan Maulid Nabi) adalah Syaikh Umar bin Muhammad Al-Milaa salah satu dari orang-orang sholeh yang masyhur, yang dengannya kemudian DITIRU (perayaan Maulid tersebut) oleh PENGUASA IRBAL dan selainnya.”[4]

Dari pernyataan Abu Syamah dapat diketahui, bahwa Kaukaburi sang penguasa Irbal, hanya meniru Bid’ah yang telah dilakukan oleh Syaikh Umar Al-Milaa tersebut.

TAHAPAN KETIGA: Ada 3 orang yang hidup di masa yang sama, dan mereka disebut-sebut sebagai pembuat Bid’ah Maulid ini. Untuk mengetahui siapa yang lebih berhak digelari sebagai penggagas, saya susun ketiganya beserta tahun kelahiran dan kewafatannya, dan perinciannya:
1. Raja Abu Sa’ied Kaukaburi hidup pada 549-630 H.[5] yang mulai mendapatkan jabatan di Irbal pada tahun, sampai meninggal pada tahun 630 H. Dia tidak dapat dikatakan sebagai penggagas, oleh sebab pernyataan Abu Syamah Asy-Syafi’ie yang telah saya sebutkan sebelumnya, telah menggugurkannya.
2. Syaikh Umar bin Muhammad Al-Milaa, seseorang yang tidak dapat saya temukan biografinya dalam kitab-kitab Sejarah di Maktabah Syamilah. Sekalipun beliau sudah disebut sebagai penggagas Maulid Nabi sebelum Raja Kaukaburi, mengapa namanya saja tidak disebutkan dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibn Katsir, serta kitab-kitab Sejarah berkelas lainnya. Bukankah aneh, jika biografi seorang penggagas Maulid Nabi tidak dapat ditemukan dalam kitab-kitab Sejarah.
3. Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al-‘Azfi. Seseorang yang disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membuat Maulid Nabi di Jazirah Arab bagian Barat. [6] Dia hidup pada 557-636 H. Rentang zaman hidup yang hampir sama dengan Kaukaburi, menunjukkan ketidakmungkinan

Juga melihat kepada pernyataan mengenai beliau pada teks “Majalah At-Tarikh Al-‘Araby” yang saya rujuk:
... وكان أول من أحدث ودعا إلى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف في المغرب العربي
“Dan dia (Al-‘Azfi) adalah orang yang pertama kali MENGAJAK kepada perayaan Maulid Nabi yang mulia DI ARAB BAGIAN BARAT ( atau yang dikenal dengan daerah Maghrib).”
Dapat dipahami bahwa lafal “mengajak” dan “di Arab bagian Barat”, adalah dua kata yang menunjukkan bahwa dia bukanlah penggagas Bid’ah Maulid tersebut, melainkan ia meniru, dan menerapkannya di suatu daerah. Istilahnya dia sebatas penggagas kelas regional, atau kasarnya kelas kampung halaman.

2. SYI’AH FATHIMIYYAH
Setelah menjelaskan bantahan tentang versi pertama dari sejarah di atas, jelaslah sudah, bahwa versi sejarah yang kedua ini adalah pendapat yang KUAT. Dan inilah yang dipegang oleh para Sejahrawan besar seperti: Taqiyuddin Al-Muqrizi, -yang mengulas sejarah Mesir selama 720-an tahun dalam karyanya “Al-Mawa’iezh wa Al-I’tibar” dan Muhyiddin Ahmad Imam. Juga oleh mayoritas Ulama’ Saudi dan Mesir kontemporer.

Secara UMUM, sejarah yang tersohor adalah yang ditulis Taqiyuddin Al-Muqrizi, seorang Ahli Sejarah Mesir yang dipuji-puji oleh Ibn Hajar Al-Asqalani. Beliau menjelaskan bahwa dalang Bid’ah Maulid dan Bid’ah-bid’ah yang hingga kini diamalkan oleh Kaum Shufi, berasal dari Syi’ah Fathimiyyah ini. Beliau berkata:
“Para Khalifah Dinasti FATHIMIYYAH sepanjang tahunnya memiliki Hari-hari Raya dan perayaan-perayaan, di antaranya:
- Perayaan Tahun Baru
- Perayaan Awal Tahun
- Hari Asyura’
- MAULID NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Maulid ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu
- Maulid Al-Hasan dan Al-Husain ‘alaihimas salam
- Maulid Fathimah Az-Zahra’ ‘alaihas salam
- Maulid Khalifah yang menjabat
- Malam Rajab
- Malam Nishfu Rajab
- Malam Awal Sya’ban
- Malam Nishfu Sya’ban
- Perayaan Malam Ramadhan
- Permulaan Ramadhan
- Hidangan Makanan Ramadhan
- Malam Khataman
- Perayaan Idul Fitri
- Perayaan Idul Kurban
- Idul Ghadir
- Kiswah Musim Dingin
- Kiswah Musim Panas
- Perayaan Membuka Teluk
- Hari Nairuz (perayaan Kaum Musyrik)
- Hari Ghuthas
- Hari Ulang Tahun
- Kamis ‘Adas (nama tanaman)
- Hari-hari Rukubat.”[7]

Adapun secara KHUSUS, beberapa ahli menjelaskan bahwa pembuat Bid’ah ini adalah AL-MU’IZZ LIDINILLAH AL-FATHIMIY, yang dia mulai berkuasa sebagai Khalifah Dinasti Syi’ah Fathimiyyah pada tahun 362 H. Dan ini membuktikan bahwa 3 orang yang disebut sebagai penggagas Bid’ah Maulid pada pendapat pertama adalah pendapat yang lemah, oleh karena rentang jarak yang sangat jauh dengan mereka (200-250 tahun). Sekalipun beberapa kabar-kabar dalam kitab-kitab Sejarah hanya menunjukkan secara umum bahwa Syi’ah Fathimiyyah yang dianut olehnya adalah dalang dari Bid’ah ini.

Syaikh Muhammad Muhammad Bakhits Al-Muthi’ie, mantan Mufti Mesir menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat perayaan-perayaan dalam 6 Maulid, -yakni: Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali, Fathimah, Hasan dan Husein Radhiyallahu ‘anhum, serta Maulid Khalifah yang menjabat, adalah Al-Mu’izz lidinillah pada tahun 362 H. Dan perayaan-perayaan ini terus ada hingga dihapus setelah itu oleh Al-Afdhal, anak dari Panglima Pasukan.[8]

Dr. I’zzat ‘Uthyah juga menjelaskannya dengan pengaruhnya pada sejarah Maulid Nabi di Irbal:
“Adapun yang pertama kali membuatnya (Maulid Nabi) di KAIRO, Al-Mu’iz lidinillah Al-Fathimiy pada tahun 362 H., dan perayaan tersebut berlangsung hingga seorang Panglima pasukan menghapusnya, ialah Badruddin Al-Jamali pada tahun 488 H. di masa pemerintahan Al-Musta’li billah. Adapun ketika Kekhalifahan beralih kekuasaan kapada anak Al-Musta’li, perayaan tersebut (Maulid Nabi) kembali dirayakan pada tahun 495 H. Dan yang pertama kali mengadakan perayaan ini di Irbal adalah Rajah Al-Muzhaffar Abu Sa’ied (yang dikenal dengan Kaukaburi) di abad ke-6 atau ke-7.”[9]

LALU SIAPAKAH AL-MU’IZZ LIDINILLAH?

Dia adalah MU’AD BIN TAMIM, yang dilahirkan di Al-Mahdiyah pada haris Senin bulan Ramadhan tahun 319 H. dia memegang tampuk kekuasaan pada umur 22 tahun (341 H.)[10]. Pada Jumadil Akhir tahun 358 H., pasukan Al-Mu’izz dapat memasuki Mesir di bawah komando Jauhar Ash-Shiqili yang tidak ditemui kesusah payahannya dalam menggabungkannya (Mesir) sebagai kekuasaan Raja-raja Ubaidiyyah.

Al-Mu’izz memimpin perpindahan pusat kekuasaan Dinasti Fathimiyyah dengan membangung sebuah benteng di Kairo, dan kubu pertahanan di daerah kota (Kairo). Kairo pun menjadi tempat keempat yang mereka jadikan ibukota, setelah Fusthath dan Askar. Hingga dinasti ini musnah, Kairo tetap menjadi pusat pemerintahan berkatnya.[11]

Adapun Jauhar Ash-Shiqili, yang dipilih oleh Al-Mu’izz sebagai penakluk Mesir, adalah orang yang membangun (Universitas) Al-Azhar, yang selesai pembangunannya pada tahun 361 H. agar menjadi benteng perlindungan bagi persiapan Da’ie-da’ie Sekte (Syi’ah) Isma’iliyah Al-Bathiniyah.[12]

Jauhar Ash-Shiqili ini berceramah dengan ceramah yang panjang, di mana di dalamnya ia berkata:
اللهم صلّ على عبدك ووليك، ثمرة النبوة وسليل العترة الهادية المهدية، معدّ أبي تميم الإمام المعز لدين الله أمير المؤمنين، كما صليت على آبائه الطاهرين، وسلفه المنتخبين الأئمة الراشدين
“Ya Allah berikanlah Shalawat kepada hamba-Mu dan wali-Mu, buah kenabian dan silsilah keturunan yang memberi dan mendapat hidayah, Mu’ad Abi Tamim Al-Imam Al-Mu’izz lidinillah, sang Amirul Mu’minin, sebagaimana Engkau memberi Shalawat kepada leluhur-leluhurnya yang suci, orang-orang yang mendahuluinya yang terpilih sebagai pemimpin-pemimpin yang mendapat petunjuk.”[13]

Abu Syamah Al-Maqdisi mengomentari do’a ini:
“Telah BERDUSTA MUSUH ALLAH YANG LAKNAT INI. Tidak ada kebaikan di dalamnya (dirinya), tidak juga pada orang-orang yang mendahuluinya secara keseluruhan, tidak juga pada anak-anak keturunan setelahnya, dan keturunan kenabian yang suci dari mereka melalui Al-Mu’izz lidinillah...”[14]

Dia juga menjelaskan:
“Dan telah jelas nasab mereka ini (Yahudi atau Majusi, seperti yang ia sebutkan pada paragraf sebelumnya), dan terang pula kebengkokan mereka, juga perbuatan mereka dalam penyimpangan dan permusuhan kepada Islam, yakni Jama’ah kaum Salaf dari para Imam dan Ulama’.”[15]

SEKILAS TENTANG DINASTI FATHIMIYYAH

Dinasti Syi’ah Fathimiyyah berkuasa dalam rentang zaman 307-567 H. Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie mengatakan:
“Masa pemerintahan Dinasti Fathimiyyah berlangsung selama 260 tahun, di antaranya 52 tahun di daerah Maghrib, lalu 208 tahun di Mesir. Jumlah keseluruhan Khalifahnya ada 14 Khalifah, yang pertama adalah Ubaidillah Al-Mahdi, dan yang terakhir adalah Al-‘Adhid yang meninggal di Mesir pada Hari Asyura’ tahun 567 H. Dengan kematiannya pun musnahlah Dinasti Fathimiyyah dari daerah Timur dan Barat. Adapun akhir dari mereka berada di tangan sang pahlawan, Shalahuddin Al-Ayyubi.”[16]

Adapun para Ulama’ Ahlu As-Sunnah banyak menyebut Syi’ah Fathimiyyah dengan penisbatan kepada Ubaidillah Al-Mahdi, yakni dengan sebutan BANI UBAID AL-QADDAH, seperti perkataan Abu Syamah Al-Maqdisi:
“Dan setiap orang Wara’ dari mereka (Ulama’ Ahlu As-Sunnah) tidak memberi nama mereka melainkan BANI UBAID AL-AD’IYAA’, yakni (karena) mereka mengklaim Nasab (keturunan Rasul) yang tidak mereka miliki.”[17]

Abu Syamah Al-Maqdisi menjelaskan perihal Khalifah-khalifah dari Dinasti Fathimiyyah ini:
“(Seluruhnya) ada 14 Khalifah, 3 dari mereka (kepemimpinannya) berada di Afrika, dan mereka digelari dengan Al-Mahdi, Al-Qaa’im, Al-Manshur. Adapun 11 (sisanya) memimpin di Mesir, dan mereka digelari dengan Al-Mu’izz, Al-‘Aziz, Al-Hakim, Azh-Zhahir, Al-Mustanshir, Al-Musta’lii, Al-Aamir, Al-Haafizh, Al-Faaiz, Al’Aadhid. Mereka mengaku-aku kesyarifan (keturunan Rasulullah), sementara NASAB mereka sampai kepada orang MAJUSI ATAU YAHUDI, hingga hal ini tersohor di antara kalangan awam. Sehingga mereka justru menyebutnya sebagai Dinasti Fathimiyyah atau Dinasti Alawiyyah. Padahal ini adalah Dinasti Yahudiyah atau Majusiyah Bathiniyah yang Atheis. Dan dari kelancangan mereka bahwa mereka memerintahkan kepada para Khatib untuk menyatakan (kesyarifan) mereka di Mimbar-mimbar, dan menulisnya di tembok-tembok Masjid, dsb.”[18]

Dari catatan sejarah ini, kita bisa melihat bahwa Dinasti Ayyubiyah yang menganut ajaran Sunni tidak sepakat dengan Dinasti Syi’ah Fathimiyyah, dengan bukti bahwa penaklukan Shalahuddin Al-Ayyubi adalah akhir dari kekuasaan mereka. Lalu bagaimana bisa, ajaran yang dianut oleh musuh Shalahuddin Al-Ayyubi, seperti Maulid Nabi ini, bisa justru disemarakkan oleh beliau untuk menyemangati pasukan dalam Perang Salib, seperti yang diklaim para Shufi???

WUJUD PERAYAAN MAULID SYI’AH FATHIMIYYAH

Bid’ah Maulid Nabi yang digagas Fathimiyyah ini bukan berita bohong. Dikisahkan berbagai penggambaran bagaimana para Khalifahnya menghadiri Maulid tersebut. Di antaranya Ibn Ath-Thawir berkata:
“Disebutkan kehadiran Khalifah dalam 6 Maulid di berbagai sejarah yang berbeda-beda, dan tentang apa yang dia keluarkan (dari sedekah) di dalamnya. Yakni Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Maulid Fathimah ‘alaihaas salam, Maulid Al-Hasan dan Maulid Al-Husein ‘alaihimas salam, dan Maulid Khalifah yang memimpin. Kehadiran beliau tersebut menunjukkan nampaknya beliau terjun, dan lebih dekat kepada tanah wilayah Kabilah Fakhruddin Jaharkas, juga Penginapan Al-Mustajid. Dan jika datang hari ke-12 dari Rabi’ul Awwal, memerintahkan untuk diproduksi di Dar Al-Fithrah dari 20 kuintal gula kering menjadi manisan-manisan kering dari yang paling asli, yang kemudian memenuhi 300 baki dari tembaga...”[19]

Al-Muqrizi menjelaskan dari sudut pandang objek sejarah:
“Dia (seseorang) berkata: Memasuki Rabiul Awwal, dan kami memulainya dengan sesuatu yang mulia dari bulan tersebut, yakni peringatan Maulid Sayyid bagi kaum terdahulu dan terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari ke-13 dari bulan tersebut. Dan dia mengeluarkan apa yang ada dengan pajak sedekah dari harta para penasehat secara khusus sebanyak 6.000 Dirham, dan dari bagian-bagiannya, yakni dari tempat fithrah, sebanyak 40 baki fithrah, dan dari perbendaharaan dengan pajak para pengurusnya, dan Sudnah milik majelis permusyawaratan yang mulia yang terletak di antara gunung dan pekuburan tempat anggota keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengisi buah badam dengan madu, dan minyak wijen bagi setiap anggota majelis permusyawaratan, serta apa saja yang menjadi manajemen pemisahan (sedekahnya). Raja Ibn Muyassir melepaskan 400 kati Halawah (manisan) dan 1.000 kati roti.”[20]  

Seperti perkataan Dr. Izzat di awal pembahasan, bahwa memang ada seorang yang mendapatkan hidayah dengan MENGHAPUS PERAYAAN MAULID-MAULID ini, Al-Muqrizi menjelaskan sejarah ini dengan rinci:
“Diaberkata: dan AL-AFDHAL anak dari Komandan pasukan telah menghapus 4 perkara yang diperintahkan ayahnya: peringatan (Maulid) Nabi, (Maulid) Ali, (Maulid) Fathimah, dan (Maulid) Imam yang memimpin, serta segala yang bersifat peduli dengannya. Kemudian sampai lama masa pemerintahannya, hingga peringatan tersebut dilupakan. Kemudian para guru bermaksud memperbaharui peringatan tersebut, (menyampaikannya) kepada Khalifah sebagai penegak hukum-hukum Allah. Mereka membantah Hadits yang digunakannya (Khalifah) mengenai peringatan tersebut, dan mereka memperbagus presentasi-presentasi kepada para menteri akan sebab-sebabnya, dan pengembalian perihal (perayaan) tersebut, serta menegakkan keamanan dan pemungutan pajak (sedekah) di dalamnya (perayaan Maulid). Maka beliau mengabulkan hal tersebut, dan melakukan apa yang telah disebutkan tadi.”[21]

GERAKAN BID’AH FATHIMIYYAH

Ternyata, untuk menguatkan kekuatan Dinasti Syi’ah Fathimiyyah, mereka tidak bisa mendakwahkan sesuatu selain dakwah kepada perayaan-perayaan Bid’ah. Terbukti bahwa dakwah Bid’ah ini kemudian masuk ke kota suci Makkah. Muhyiddin Ahmad Imam, penulis Sejarah Makkah menyebutkan:
“Diketahui di MAKKAH terdapat banyak Hari-hari Raya baru berupa dampak dari Bid’ah-bid’ah kaum (Syi’ah) Fathimiyyah, seperti MAULID NABI, Maulid Sayyidah Fathimah, Maulid Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aminah, Maulid Ali, Asyuraa’, juga Rabu terakhir bulan Shafar (REBO WEKASAN), dsb. yang Bid’ah-bid’ah tersebut TERJADI pada masa PEMERINTAHAN FATHIMIYYAH.”[22]

Bagaimana bisa kota suci Makkah, dimasuki amalan-amalan Bid’ah yang berasal dari Syi’ah tersebut? Semua berasal dari hubungan antara orang-orang yang mengaku Syarif (keturunan Rasul melalui Ali) dengan Dinasti Syi’ah Fathimiyyah. Maka tak heran, sejak terjadinya Bid’ah Maulid di Kiblat Umat Islam ini, mulailah tersebar secara cepat perayaan Bid’ah ini ke seluruh negeri.

Muhyiddin Ahmad Imam menjelaskan hubungan mereka dengan Syi’ah Fathimiyyah:
“Kaum (Syi’ah) Fathimiyyah muncul dari Afrika bagian Utara, dan menguasai Mesir pada tahun 358 H./968 M. Kemudian membentang kekuasaannya hingga ke tanah Syam dan Palestina, dan pada saat itu pemerintahan di Makkah dikuasai oleh pembesar dari para Syarif (keturunan Rasul) AL-HUSAIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN AL-HUSAIN. Yang dengan itu diserahkanlah kekuasaan hukum tertinggi kepada para Syarif, dan Makkah berada di bawah naungan hukum para Syarif, yang setelah itu menjadi berselisih. Terkadang mereka menunjukkan loyalitasnya kepada Kaum ‘Abbasiyah, dan terkadang kepada kaum Fathimiyyah di Mesir...”[23]

Beliau juga menyebutkan ketidakpantasan para Syarif memimpin Makkah:
 “Para Syarif tersebut hanya memerhatikan kemuliaan diri mereka sendiri dan pangkat-pangkat mereka. Mereka juga memutuskan untuk menuntut masyarakat umum untuk MENSUCIKAN (mengkultuskan) mereka beserta menampakkan keagungan mereka dalam majelis-majelis, arak-arakan, serta pesta-pesta mereka, yang semua itu tidak pernah ada di Mekkah sebelum ditambahkannya penghormatan oleh Khatib saat Khuthbah Jum’at, dan munculnya BID’AH-BID’AH YANG BANYAK.”[24]

Lalu apakah seluruh penduduk Makkah rela dengan adanya Bid’ah ini? Beliau menyatakan bahwa masih ada penduduk yang mempertahankan ajaran Sunnah, yang terus ditekan oleh pengawasan para Syarif:
“Kelemahan Ilmiah ini terus berlangsung di Mekkah oleh karena pengawasan (mereka), dan tidak ada dari para Ulama’ yang menampakkan (kekuatan ilmiahnya) kecuali anak-anak dari sebagian rumah yang mendapatkan warisan ilmu dan Khutbah Jum’at, seperti di rumah ATH-THABARI.”[25]

HUBUNGAN DINASTI FATHIMIYYAH DENGAN SYI’AH RAFIDHAH

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mantan Mufti Kerajaan Saudi Arabia menyatakan bahwa Bid’ah Maulid Nabi berasal dari Syi’ah Fathimiyyah yang sejatinya adalah Syi’ah Rafidhah:
“...Kemudian mereka (FATHIMIYYAH) membuat-buat Bid’ah begitu banyak, di antaranya: “Bid’ah-bid’ah Maulid, mereka berkata: ‘bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir di bulan Rabi’uul Awwal, maka wajib bagi kita untuk membuat Bid’ah perayaan atas kelahirannya, dan kelahiran Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali Radhiyallahu ‘anhu’. Maka mereka membuat Bid’ah yang belum pernah diturunkan perintahnya oleh Allah. Dan mereka berasal dari Syi’ah Rafidhah. Mereka mengatasnamakan Islam, namun batin mereka adalah Syi’ah Rafidhah, dari orang-orang yang mengokohkan fanatisme kultus kepada Ahli Bait (keluarga Nabi). Adapun Ibadah-ibadah mereka yang tidak kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga merekalah yang merayakan 5 perayaan Maulid: Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Husain, Hasan, Fathimah, (dan ditambahkan Maulid milik) pemimpin mereka yang ada pada saat itu, yang menjadi Imam dan Khalifah bagi mereka.”[26]

Apakah perkataan ini hanya sekedar hiasan lisan? Tidak, kedua sekte ini memang memiliki hubungan yang sangat erat. Ubaidillah Al-Mahdi, sebagai Khalifah pertama Dinasti Fathimiyyah ini, adalah seorang Syi’ah RAFIDHAH (297–322 H.).[27]

Pernyataan Syaikh Abdul Aziz bin Baz ini sesuai dengan perkataan Al-Qadhi Al-Baqillani dalam karyanya “Kafsu Al Asraar wa Hatki Al Atsaar” yang menunjukkan penolakannya terhadap mereka (pengikut Ubaidillah Al-Mahdi: Syi’ah Fathimiyyah) dan menjelaskan tentang kejelekan-kejelakan mereka. Dia berkata:
"Mereka adalah kaum yang menampakkan faham Rafiidhah secara lahir dan menyembunyikan kekafiran."[28]

SIAPAKAH UBAIDILLAH AL-MAHDI, KHALIFAH PERTAMA DINASTI FATHIMIYYAH?
Al Qadhi Abu Bakar Al Baqilani mengatakan:
"Al Qaddah, yakni kakek Ubaidillah yang menamakan dirinya Al-Mahdi sejatinya dia adalah seorang MAJUSI".[29]

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Ath-Thayyib, mengungkap mereka dalam karya pertamanya, “Kasyfu Asrar Al-Bathiniyyah” tentang kebathilan Nasab mereka kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu. Bahwa Al-Qaddah (Ubaid, Khalifah pertama Syi’ah Fathimiyyah) yang mengambil Nasab kepadanya adalah orang yang mengaku-aku, dia PENIPU PENDUSTA, dan dia ORANG YANG PALING SESAT di antara Da’ie-da’ie kaum (Syi’ah) Qaramithah, Semoga Allah melaknat mereka.[30]

Imam As-Suyuti dalam Tarikh Khulafa' berkata:
"...bahkan sejatinya kakek mereka adalah MAJUSI".[31]

Al-Hafizh Adz-Dzahabi juga mengatakan:
"Para peneliti dan pengamat sejarah sepakat bahwa sesungguhnyavUbaidillah Al Mahdi bukan orang baik."[32]

KEJAHATAN SYI’AH FATHIMIYYAH

Sebagaimana Syi’ah-syi’ah lainnya, yang mengaku mengikuti para Ahli Bait, yang mereka klaim berasal dari keturunan Ali, dan tidak menganggap Ahli Bait dari selain mereka. Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani menjawabnya, dengan membantah pemikiran Ibn Khaldun yang menetapkan bahwa Syi’ah Fathimiyyah memiliki nasab keturunan kepada Rasulullah:
“Adapun Ibn Khaldun, karena kecondongannya kepada keluarga Ali, dia menetapkan nasab Fathimiyyah kepada mereka (keluarga Ali). Sementara itu telah masyhur KERUSAKAN AKIDAH Fathimiyyah, dan sebagian mereka telah bersandar kepada orang-orang ZINDIQ, dan MENGAKU-AKU TUHAN, seperti Al-Hakim. Adapun sebagian dari mereka juga sampai pada FANATISME AKUT kepada Sekte RAFIDHAH. Hingga di zaman mereka, TERBUNUH beberapa kelompok dari AHLU AS-SUNNAH.”[33]

Beliau pun menyimpulkan bahwa mereka bukan dan TIDAK PANTAS menjadi keturunan Ali:
“Mereka (FATHIMIYYAH) terang-terangan MENGHINA SAHABAT dalam Masjid-masjid Jami’ dan perkumpulan-perkumpulan mereka. Kalaupun mereka (berlaku) seperti ini, kemudian mereka benar-benar berasal dari keluarga Ali, maka melekatlah CELAAN kepada keluarga Ali.”[34]

Siapa pula yang percaya jikalau orang-orang yang menghina dan membunuh orang-orang yang membela Abu Bakar dan Umar adalah para keturunan Ali. Ini penghancuran Islam dari dalam secara bertubi-tubi. Dari Kerusakan Akidah mereka, Kezindiqan mereka, bahkan kesesatan dengan mengaku sebagai Tuhan, serta pembelaan mereka kepada Rafidhah, adakah anda masih ingin menganggapnya sebagai keturunan Ali yang mulia? Sungguh Ali dan keluarga Rasulullah berlepas diri dari ini semua.

Abu Hamid Al Ghazali dalam “Fadhail al-Mustadzhiriyah wa Fadahil al Bathiniyah” berkata:
"Secara lahir mereka RAFIDHAH, tetapi batinnya KAFIR MUTLAK!!"[35]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang mereka, beliau menjawab:
"Mereka adalah orang yang paling fasik dan paling kufur. Siapa yang memberi kesaksian bahwa mereka adalah orang beriman dan takwa atau benar nasabnya, maka dia telah bersaksi tentang sesuatu yang tidak diketahuinya.[36]

Yusuf Ar Ru'yani berkata:
“Para ulama Qayruwan sepakat bahwa orang-orang dari Bani Ubaid adalah orang-orang MURTAD DAN ZINDIQ karena mereka melakukan penentangan terhadap syari'ah.”

Ulama’ yang membatalkan nasab mereka adalah Ibnu Jauzi, Abu Syamah, Al-Qadhi bin Khalikan. Adapun Ulama’ yang menulis buku khusus dalam membongkar kedok mereka adalah Al-Qadhi Al Baqillani yang mengatakan mereka adalah keturunan MAJUSI dan aliran mereka lebih berbahaya dari
Sekte Al-Ghaliyah. Begitu juga Abu Ya’la dalam “Al-Mu’tamad” yang menjelaskan KEZINDIKAN DAN KEKAFIRAN mereka.

Kalau anda mengetahui bahwa pembuat Maulid Nabi ini adalah Syi’ah Fathimiyyah yang berhati Rafidhah, kenapa anda rela sekali mengikuti mereka dengan merayakannya???



[1] Lihat As-Suyuthi, Al-Haaawi lil-Fatawaa li As-Suyuthi, Maktabah Syamilah, jilid I hlm. 272
[2] Lihat Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa Ash-Shufiyah, jilid XXVI hlm. 180
[3] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid XIII hlm. 136
[4] Lihat Abu Syamah, Al-Baa’its ‘alaa inkari al-Bida’ wa al-Hawadits, hlm. 16, dalam Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa Ash-Shufiyah, jilid XXVI hlm. 180
[5] Lihat Wafiyaatul A’yaan jilid IV hlm. 120, dalam Abdullah bin Abdul Aziz Ahmad At-Tuwaijiry, Al-Bida’ Al-Hauliyah, jlid I hlm. 143
[6] Lihat Majalah at-Tarikh al-‘Araby, Maktabah Syamilah, hlm. 777-778
[7] Lihat Taqiyuddin Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa Al-I’tibar bi Dzikri al-Khithath wa al-Atsar, jilid I hlm. 490, dalam Isma’iel Al-Anshary, Al-Qaul Al-Fashl fii Hukmi Al-Ihtifal bi Maulidi Khairi Rasul, hlm. 64-72, dalam Abu Mu’adz As-Salafi, Ar-Radd ‘alaa Syubhat Man Ajaaza Al-Ihtifal bil Maulid, hlm. 9 dan Ursyaif Multaqa Ahli Al-Hadits, Maktabah Syamilah, hlm. 16.238
[8] Lihat Ali bin Naif Asy-Syuhud, Mawsu’ah al-Buhuts wa al-Maqaalaat al-Islamiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 5
[9] Lihat Izzat ‘Uthyah, Dr., Al-Bid’ah Tahiduhaa wa Mawqifu Al-Islam minhaa, hlm. 481,dalam Al-Mausu’ah Ar-Radd ‘alaa Ash-Shufiyah, jilid XXVI hlm. 180
[10] Lihat Muhammad bin Ali bin Hammad Abu Abdillah, Akhbaru Muluk Bani Ubaid wa Siratuhum, Daru Ash-Shahwah, hlm. 83
[11] Lihat Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa Al-I’tibar, Maktabah Syamilah, jilid I hlm. 438
[12] Lihat Muhammad Muhammad Ash-Shalabiy, Dr., As-Sirah Az-Zankiyah, Maktabah Syamilah, jilid II hlm. 317
[13] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] Lihat Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie, Ab’aadu At-Tahaaluf Ar-Rafidhi Ash-Shalibi fi Al-‘Iraqi wa Atsarihi ‘ala al-Manthiqah, Maktabah Syamilah, hlm. 23
[17] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[18] Ibid
[19] Lihat Al-Muqrizi, Al-Mawa’izh wa Al-Ikhtibar, Mawqiul Waraaq, Maktabah Syamilah, jilid II hlm. 49
[20] Ibid
[21] Ibid
[22] Lihat Muhyiddin Ahmad Imam, Fii Rihabi Al-Bait Al-‘Atiq, Daar Al-Qurthubah li Ath-Thab’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzie’, hlm. 39
[23] Ibid
[24] Ibid
[25] Ibid
[26] Lihat Abdul Aziz bin Baz, Durus li Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mawqi’u Syubkah Al-Islamiyah, Maktabah Syamilah, jilid IV hlm. 10
[27] Lihat Abdul Muhsin Ar-Rafi’ie, Ab’aadu At-Tahaaluf Ar-Rafidhi Ash-Shalibi fi Al-‘Iraqi wa Atsarihi ‘ala al-Manthiqah, Maktabah Syamilah, hlm. 23
[28] Lihat Ibn Katsir, Al Bidayah wa Nihayah jilid XI hlm. 387 dalam Bid'a Hauliyah hlm. 141, Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 16
[29] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 7
[30] Lihat Abu Syamah Al-Maqdisi, Ar-Raudhatain fii Akhbari An-Nuriyah wa Ash-Sholahiyah, Maktabah Syamilah, hlm. 216
[31] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 7
[32] Ibid hlm. 8
[33] Lihat Khalid Kabir ‘Ilaal, Akhthaa’u Ibn Khaldun fii Kitabihi Al-Muqaddimah, Daar Al-Imam Malik, hlm. 167
[34] Lihat Khalid Kabir ‘Ilaal, Akhthaa’u Ibn Khaldun fii Kitabihi Al-Muqaddimah, Daar Al-Imam Malik, hlm. 167
[35] Lihat Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 17
[36] Dinukil dari Bid'a Hauliyah hlm. 141 dalam Abu Ismail Agung Priyadi, Trilogi Maulid Nabi Muhammad, versi PDF, hlm. 17

0 komentar:

Posting Komentar