Blogger news

Rabu, 15 Januari 2014

TANGGAL MAULID NABI YANG RANCU


Benarkah Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabi’ul Awwal?

Tunggu dulu, jangan terburu-buru memutuskan. Bagi kalian para Maulid Nabi Mania, sekehendaknya kalian mengetahui bahwa kalender kalian belum tentu benar. Silahkan gemetar membacanya!

Masalah tanggal kelahiran beliau adalah masalah dengan begitu banyak pendapat. Yang bahkan dikatakan, didalamnya terdapat PERSELISIHAN yang cukup PANJANG untuk dikaji. Sebabnya adalah sedikitnya sumber riwayat yang tersambung langsung kepada para sahabat, atau yang Marfu’ sampai kepada Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa mereka TIDAK MENGANGGAPNYA sebagai peristiwa penting, yang kemudian harus dikultuskan. Sebab sejak kapan ULANG TAHUN menjadi bagian dari Syari’at Islam?

Mereka tidak mengagung-agungkan hari-hari tertentu kecuali HARI YANG DITETAPKAN Allah. Hampir tidak terdengar dari para sahabat, bahwa mereka bersusah payah untuk mengetahui kapan Rasulullah lahir. Menanyakan tanggal lahir Rasulullah kepada Rasulullah langsung saja TIDAK PERNAH ADA dalam kitab-kitab Hadits. Karena para sahabat memang tidak diperintahkan untuk SIBUK MENGKULTUSKAN MAKHLUK. Bagi mereka pengkhususan hari itu dilarang, bagi mereka shalawat dengan bernyanyi itu dilarang, bagi mereka istighotsah itu do’a langsung kepada Allah, tidak pakai prosedur arwah ini dan itu.

Pantaslah, jika ada begitu banyak pendapat dalam menentukan tanggal kelahiran beliau:

1. MALAM KE-2 RABI’UL AWWAL

Ibn Katsir menyebutkan Ulama’ yang mengambil pendapat ini beserta periwayatnya:

“...kemudian Jumhur (mayoritas) berpendapat bahwa itu (kelahiran Rasul) terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, dikatakan pada malam ke-2 dari bulan tersebut, yang berkata seperti ini adalah Ibn ‘Abdil Barr dalam “Al-Isti’aab”, dan ini diriwayatkan oleh Al-Waqidi dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al-Madini.”[1]

Terdapat Atsar Sahabat yang menyebutkannya di awal bulan Rabi’ul Awwal. Saya tidak tahu, apakah maksud kata “awal” di sini adalah tanggal pertama, ataukah seminggu atau sepuluh hari pertama bulan Rabi’ul Awwal. Yang jelas, tanggal 12 HAMPIR TIDAK MUNGKIN untuk dikategorikan dalam Atsar ini, karena kedekatannya dengan “Ayyamul Bidh” (13,14, dan 15), pertengahan bulan.

Ahmad bin Humaid Al-Anshari memberitahukan kepada kami, dari Al-Mu’alla bin Abdur-Rahman dia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitahukan kepada kami dari Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah, dari Ibn ‘Abbas Radhiyallhu ‘anhuma, dia berkata:

وُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي أَوَّلِ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ، وَقُبِضَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي أَوَّلِ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin, di awal bulan Rabi’ul Awwal, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada hari Senin, di awal bulan Rabi’ul Awwal.”[2]

2. MALAM KE-8 RABI’UL AWWAL

Salah satu Ulama’ yang mengusung pendapat ini adalah Ibn Al-Muthahhir, beliau berkata:
“Kelahiran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, malam ke-8 dari Rabi’ul Awwal.”[3]

Tapi ternyata beliau tidak sendirian. Bahkan, justru ada banyak Ulama’ yang MENGUATKANNYA. Ibn Katsir menyebutkan:

“Dikatakan pula pada malam ke-8 dari bulan tersebut, ini dikisahkan oleh Al-Humaidi dari Ibn Hazm, dan ini diriwayatkan Malik, Aqil, dan Yunus bin Yazid, serta selain mereka dari Az-Zuhri dari Muhammad bin Jabir bin Math’am, dan dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dan para sejarahwan, bahwa mereka MENSHAHIHKANNYA, dan dipastikan oleh Al-Hafizh Al-Kabir Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, DIRAJIHKAN oleh Al-Hafizh Abu Al-Khaththab bin Dahyah dalam kitabnya “At-Tanwir fii Maulid Al-Basyir An-Nadzir”.[4]

Melihat nama-nama Ulama’, para Sejarahwan menshahihkannya, bahkan ada dua gelar Al-Hafizh di sana, yang salah satunya memilihnya sebagai pendapat RAJIH (kuat). Lantas apakah kemudian, kita begitu ngotot bahwa tanggal 12 adalah pendapat yang lebih kuat dibanding pendapat ini?

3. MALAM KE-10 RABI’UL AWWAL

Diriwayatkan kepada kami, dari Abi Al-‘Ainaa’, yang bersambung sampai ke Abu Ja’far Muhammad bin Ali, beliau berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada Senin malam, yakni malam ke-10 dari bulan Rabi’ul Aqqal, dan dan jarak antara malam pertengahan Muharram dengan kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 55 malam.”[5]

Adapun Ibn Katsir menyebutkan Ulama’ yang meriwayatkannya:
“Dikatakan pula pada malam ke-10 dari bulan tersebut, ini dinukil oleh Ibn Dahyah dalam kitabnya, dan diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir, dan diriwayatkan pula oleh Mujahid dari Asy-Sya’bi dst.”[6]

4. MALAM KE-12 RABI’UL AWWAL

Yang terkenal mengusung pendapat ini adalah penulis Sirah Nabawiyah terkenal: Ibn Ishaq. Barangkali, atas landasan popularitas karya beliau inilah, yang kemudian membuat para pembuat Bid’ah Maulid Nabi, -entah dari Syi’ah Fathimiyah-kah atau lainnya, memulangkan kepadanya dalih. Akan tetapi, sekalipun begitu, sayangnya tidak dapat saya temukan teks riwayat yang bersambung, baik Mursal: sampai kepada Tabi’ien, atau Mauquf: sampai kepada Sahabat. Tidak sebanding dengan pendapat lainnya yang lebih kuat.

Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Syibawaih pemimpin di daerah Moro mengabarkan, kabar Ja’far bin Muhammad An-Nisaburi kabar dari Ali bin Mahran, kabar dari Salmah bin Al-Fadhl dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada malam ke-12 dari bulan Rabi’ul Awwal.”[7]

5. MALAM KE-17 RABI’UL AWWAL

Ibn Katsir berkata:
“Dan dikatakan pula pada malam ke-17 dari bulan tersebut, sebagaimana dinukil oleh Ibn Dahyah dari sebagian Syi’ah.”[8]

6. MALAM KE-18 RABI’UL AWWAL

Bahkan dalam pendapat ini terdapat DUA ORANG SAHABAT yang menyebutkan tanggal lahirnya. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Mushannifnya dari ‘Affan dari Sa’ied bin Minaa dari Jabir dan Ibn ‘Abbas, bahwa KEDUANYA berkata:

ولد رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الفيل يوم الاثنين الثامن عشر من شهر ربيع الأول وفيه بعث وفيه عرج به إلى السماء وفيه هاجر وفيه مات

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada Tahun Gajah hari Senin, tanggal 18 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan pada masa itu beliau diutus, dan pada masa itu beliau diangkat ke langit, juga pada masa itu beliau hijrah, dan wafat.”[9]

Ibn Katsir menyatakan:
“Dan inilah yang TERMASYHUR menurut JUMHUR (mayoritas), Wallahu a’lam.”[10]

Kalau benar perkataan Ibn Katsir, bahwa ini adalah yang termasyhur menurut Jumhur. Lalu di manakah posisi tanggal 12 sebagai perayaan Maulid Nabi dibanding kemasyhurannya?

7. MALAM KE-20/21 RABI'UL AWWAL
Ibn Katsir menyebutkan:
“Dikatakan pula pada malam ke-8 sebelum akhir dari bulan tersebut, ini dinukil oleh Ibn Dahyah dari Khath Al-Wazir Abi Raafi’ bin Al-Hafizh Abi Muhammad bin Hazm dari ayahnya.”[11]

Saya tidak tahu jumlah pasti dari bulan Rabi’ul Awwal, jadi saya tulis saja antara malam ke-20 atau ke-21.

8. MALAM DI BULAN RAMADHAN

Jikalau kita lihat Hadits Abi Qatadah yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, tentang pertanyaan seorang Arab pedalaman kepada Rasulullah, tentang puasa hari Senin, di situ kita bisa membaca bahwa hari kelahiran Rasulullah adalah hari yang sama dengan hari diturunkannya wahyu. Dan riwayat lain yang semacam ini, memang ada beberapa hadits. Hanya saja, titik perselisihan opini yang terjadi adalah apakah kesamaannya hanya pada hari Senin saja, ataukah beserta tanggal-tanggalnya.

Ibn Katsir menyebutkan penukil dan periwayatnya:
“...bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan yang dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dari Az-Zubair bin Bakaar... dia bersandarkan pada bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwahyukan kepadnya di bulan Ramadhan tanpa adanya perbedaan, dan itu terjadi saat berumur 40 tahun, maka kelahirannya terjadi pada bulan Ramadhan, dan ini memang terdapat beberapa pandangan (opini).”

KESIMPULAN

Sementara saya bukan siapa-siapa, tidak pantas bagi saya untuk ngotot membela salah satu pendapat. Biarlah saya serahkan kepada Ibn Katsir, sebagai Sejarahwan besar di masanya, untuk menyimpulkan perbedaan ini:

“Dan yang SHAHIH adalah pendapat pertama dari Ibn Hazm, malam ke-8 dari bulan tersebut, sebagaimana dinukil oleh Al-Humaidi, dan dia menegaskannya. Adapun pendapat kedua, bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan yang dinukil oleh Ibn ‘Abdil Barr dari Az-Zubair bin Bakaar ini adalah pendapat yang sangat gharib, dia bersandarkan pada bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwahyukan kepadnya di bulan Ramadhan tanpa adanya perbedaan, dan itu terjadi saat berumur 40 tahun, maka kelahirannya terjadi pada bulan Ramadhan, dan ini memang terdapat beberapa pandangan (opini), Wallahu a’lam.”[12]

Kalau kita lihat kembali ke atas, memang pendapat yang sangat kuat adalah pendapat malam ke-8. Permasalahan pentingnya adalah tidak perlu begitu ngototnya mencari yang mana yang benar, hanya untuk melakukan Bid’ah Maulid Nabi. Di dalam kubur, kita tidak akan ditanya: “Pada tanggal berapakah Maulid Nabi seharusnya dilaksanakan?” Kita tidak dituntut untuk itu, bahkan justru yang akan dipertanyakan adalah: “Kapan Allah dan Rasul-Nya memerintahkan Maulid Nabi?”.
----------------------------
[1] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[2] Lihat Al-Fakihi, Akhbaru Makkah lil Fakihi, jilid IV hlm. 7, no. 2299
[3] Lihat Ibn Al-Muthahhir, Al-Bad’u wa At-Tarikh, Mawqi’ul Waraaq, Maktabah Syamilah, hlm. 225
[4] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[5] Lihat Al-Marzuqi, Al-Azminah wa Al-Amkinah, Mawqi’ul Waraaq, Maktabah Syamilah, hlm. 239
[6] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[7] Lihat Al-Hakim, Al-Mustadrak, jilid II hlm. 659, no. 4182, dan Al-Baihaqi, Sya’bu al-Iman, Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, jilid II hlm. 134, no. 1387
[8] Lihat Ibn Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid II hlm. 260
[9] Tidak dapat saya temukan, dalam Mushannaf dan Musnad Ibn Abi Syaibah, juga dalam kitab-kitab Hadits lainnya
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid

1 komentar: