sumber: google
Artikel Ahmad Ubaidillah
(Bantahan
terhadap Fitnah yang Dilancarkan kepada Kitab Ad-Durar As-Sunniyyah)
Seorang
Ustadz saya, Adipati Karna menyebarkan fitnah tentang Ulama’ Salafi Nejd, bahwa
mereka mengakui pentingnya Tashawwuf. Sayangnya, ada permainan potong-memotong
dalam memprovokasi ummat, demi membuktikan opini pribadi. Berikut teks yang dia
cantumkan dari Kitab Ad-Durar As-Sunniyyah, beserta terjemahannya:
ولا ننكر الطريقة الصوفية،
وتنْزيه الباطن من رذائل المعاصي المتعلقة بالقلب والجوارح، مهما استقام صاحبها على
القانون الشرعي، والمنهج القويم المرعي، إلا أنا لا نتكلف له تأويلات في كلامه، ولا
في أفعاله،....
Terjemahan:
“Kami tidak
memungkiri Tariqah-tariqah Shufiyah, dan pembersihan batinnya dari kehinaan
maksiat yang berhubungan dengan hati dan anggota tubuhnya, SELAMA PENGANUTNYA
ISTIQOMAH DI ATAS ATURAN SYARI’AT DAN MANHAJ YANG LURUS DAN SESUAI,....”
Dengan
PE-DE-nya, ada judul di bagian atas gambar:
“ULAMA’
WAHHABI MENGAKUI PENTINGNYA AJARAN TASHAWUF”
Padahal,
kalau kita lihat teks aslinya dengan seksama, ada lafal (مهما) yang
berarti “selama”, yang kedudukannya memberikan SYARAT dari pernyataan “tidak
memungkiri” yang ada pada awal kalimat. Sepertinya Ust. Adipati Karna perlu
mempelajari ulang makna dan kedudukan dari lafal (مهما) dalam Ilmu Nahwu.
Sayangnya
pula, Ustadz Adipati Karna tidak memberikan terjemahan dari lafal selanjutnya,
yang padahal sangat jelas terlihat di gambar. Kan, ini bisa menjadi senjata
makan tuan:
....إلا أنا لا نتكلف له تأويلات
في كلامه، ولا في أفعاله،....
Terjemah
yang ditinggalkan oleh beliau:
“...kecuali
bahwasanya kami TIDAK IKUT MENANGGUNG BEBAN atas TAKWIL-TAKWIL yang terdapat
dalam perkataan-perkataan (para pengikutnya), tidak juga dalam
PERBUATAN-PERBUATAN mereka (amalan-amalan Bid’ah),...”[1]
Bukankah ini
jelas, bahwa kata-kata:
“ULAMA’
WAHHABI MENGAKUI PENTINGNYA AJARAN TASHAWUF”
Adalah
kata-kata hiperbola yang dibuat-buat sebegitu hebohnya. Meniru judul-judul
provokatif di media-media massa. Padahal jika kita melihat teks asli berbahasa
Arabnya, kita dapat mengetahui bahwa ini adalah DUSTA YANG BESAR.
Bahkan jika
kita telaah di dalam Kitab “Ad-Durar As-Sunniyyah” yang teksnya dipermainkan
oleh beliau, maka kita akan menemukan banyaknya teks yang menunjukkan
PENENTANGAN TERHADAP SHUFI. Berikut laporannya.
KESESATAN SHUFI YANG BERGELIMANG
FILSAFAT
Pada jilid XI hlm. 283 disebutkan:
“Syaikhul Islam Rahimahullah
menyebutkan bahwasanya ada banyak golongan dari kaum muslim dan non muslim,
yang menentang pendapat ini (Filsafat Plato), dan mereka menyebutkan bahwasanya
pendapat tersebut TIDAK MASUK AKAL.
Beliau Rahimahullah menyebutkan
pula bahwasanya FILSAFAT DAN PENGANUT WIHDATUL WUJUD tidak memisahkan antara
sifat Qadim (Lama) dan Hadits (Baru). Mereka juga tidak memisahkan antara
perintah dan larangan. Dan telah BANYAK dari kalangan SHUFI yang masuk ke dalam
KESESATAN INI. Dan dua kelompok tersebut adalah sesat, dan menyesatkan (orang)
dari jalan yang sudah ditetapkan.”[2]
BANTAHAN
KEPADA PENGIKUT TAREKAT QODIRIYAH
Dalam Bab:
Bantahan terhadap Selebaran yang Dibawakan oleh Seorang Lelaki dari Penduduk
Jabal Sulaiman, yang Mengandung Kesyirikan dan Atheisme, dalam jilid XI hlm.
426-427:
“Kemudian
sesungguhnya orang Kafir ini (penulis selebaran) berkata: sesungguhnya dia
Qadiry; yakni pengikut Tarekat Abdul Qadir al-Jailani; dan nisbat (kepada
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) ini adalah sesuatu yang Bid’ah DIBUAT-BUAT oleh
orang-orang bodoh SHUFI, Allah tidak pernah menurunkan perintah ini, akan
tetapi ini adalah termasuk dari perkara-perkara agama yang baru, yang telah
diperingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap ummatnya.
Sebagaimana sabda beliau:
وإياكم ومحدثات
الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة
“Hindarilah
perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya setiap
perkara yang diada-adakan itu adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.”
(HR. Abu
Dawud no. 4607 dan Ad-Darimy no. 95)
Dan ini
TIDAK PERNAH DIKETAHUI pada zaman SAHABAT dan TABI’IEN, tidak juga pada zaman
para Syaikh yang agung (Fuqoha’, Ahli Hadits, dll.), yang kedudukan mereka jauh
lebih mulia daripada Abdul Qadir al-Jailani dengan beberapa tingkatan. Maka dia
(Abdul Qadir) menjadi lebih utama bila nisbat (Tariqah tersebut) disandarkan
kepada selainnya, lebih baik jika nisbatnya disandarkan kepada orang-orang
sebelumnya, seperti Basyar Al-Haafi, Al-Junaid, Sahl bin Abdullah, dan
orang-orang seperti mereka, baik dari generasi mereka, maupun selainnya.”[3]
SYAIKH
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB MENENTANG SHUFI
Pada jilid
XII halaman 538:
“Beliau
(Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) menyelisihi Jahmiyah dalam setiap pendapat
mereka dan Bid’ah-bid’ah yang mereka buat dalam agama Allah. Dan beliau tidak
sependapat dengan apa saja yang telah dibuat-buat oleh SHUFI, baik dari
Bid’ah-bid’ah maupun Thariqah-thariqah yang menyelisihi hidayah Rasulullah dan
Sunnah-sunnah beliau, dalam Ibadah maupun pengasingan diri mereka, juga
dzikir-dzikir yang menyelisihi apa yang telah disyari’atkan.”[4]
HARAMNYA IBADAH NYANYI ALA SHUFI
Pada jilid XV halaman 165:
“Maka adapun yang Bid’ah yang
dibuat-buat oleh SHUFI di zaman ini, baik dari kecanduan mendengarkan NYANYIAN
dengan penyanyi-penyanyi wanita dari gadis-gadis, Thar (sejenis alat
musik), alat-alat musik petik, dan gitar maka HARAM.”[5]
Juga, pada
jilid XV halaman 191:
“Dan maksud dari kelompok-kelompok yang
menyukai NYANYIAN, dan berkeyakinan bahwa (nyanyian) itu adalah bagian dari
agama, yang dapat MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH: (adalah) segolongan orang dari
SHUFI, mereka membuat BID’AH mendengarkan nyanyian. Maka Ulama’ di zaman mereka
MENGINGKARI MEREKA, dan menentang mereka dari segala penjuru. Para Ulama’
Al-Haqq juga berijma’ bahwa apa yang telah diperbuat kelompok ini (Shufi)
adalah BID’AH MUNKAROH.
Ath-Tharthusyi mengarang kitab yang
disebutkan (namanya) dalam membantah mereka, dan penjelasan tentang KEBATHILAN
MADZHAB mereka. Dan dari sini, para pembaa akan mengetahui bahwa orang-orang
yang gila dengan mendengarkan NYANYIAN dan ALAT-ALAT HIBURAN ada 2 kelompok:
Kelompok pertama: yang mengambilnya
(NYANYIAN) sebagai bagian dari Agama dan Ibadah, dan mereka adalah
seburuk-buruknya dari antara dua kelompok yang disebutkan, dan paling parah
dosa dan bahayanya, oleh sebab Bid’ah yang mereka buat dalam Agama, yang belum
diberi izin oleh Allah...”[6]
[1] Lihat, Abdurrahman bin Muhammad bin Qaasim, Ad-Durar As-Sunniyyah
fii al-Ajwibah an-Najdiyah, Mwaqi’u Maktabah al-Madinah ar-Raqmiyah, jilid
I hlm. 241
[2] Ibid, jilid XI hlm. 283
[3] Ibid, jilid XI hlm. 426-427
[4] Ibid, jilid XII hlm. 538
[5] Ibid, jilid XV hlm. 165
[6] Ibid, jilid XV hlm. 191







The Most Casino Bonus Offers and Promotions in Nevada, NJ, PA
BalasHapusIf you're looking for 양산 출장안마 a 대전광역 출장샵 low-deposit casino bonus that will 서울특별 출장샵 keep you going, here are the casino 양산 출장마사지 bonuses 청주 출장샵 you can claim for 2021.